DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Rabu, 15 Januari 2020

Sirna Dalam Cinta (Bagian 8)

Oleh: Telaga Warna


Dengan nafas tersengal-sengal, serta suara terputus-putus Khumairoh menghampiriku, dan akupun menyongsongnya seraya menjaganya yang seketika hampir saja terjatuh. “Ab, Ab, Abang Zali, maafkan Khumay, maafkan karena sore itu Khumay pergi begitu saja, Khumay tahu Abang Zali sungguh-sungguh pergi merantau demi cita-cita abang, menjadi orang sukses dan menggali ilmu di kota demi memajukan dusun kita, cita-cata abang sangat mulia, maka pergilah, Khumay mengizikan dan mendo’akan abang” dengan nada yang kelelahan sehabis berlari mengejar mobil yang aku naiki.

Khumairoh melanjutkan kata-katanya, sementara aku diam membisu, antara senang atau sedih, senang karena kekasihku Khumairo mengizinkanku merantau atau sedih karena akan meninggalkan kekasihku tercinta, mungkin aku akan rindu sekali, tapi aku bisa menelepon ke rumahnya. “Ini surat dariku, bacalah kalau sudah sampai di kota, atau bacalah kalau seandainya abang rindu pada dik, semoga tulisan adik mampu menghapus rasa rindu abang kepada adik”. Aku menerima surat itu dan langsung memasukkan ke dalam sakuku, rasanya ingin aku memeluknya, namun itu tidak boleh, karena bukan muhrim.

“Iya, Adik sayang, abang pasti akan merindukan mu, namun demi cita-cita dik, mohon maafkan abang, ini abang juga sudah menuliskan surat untuk adik, tadinya mau abang kasihkan waktu di sungai itu, tapi adik keburu kabur tanpa sebab dengan kesedihan yang mendalam tentunya ya dik, dibacanya nanti saja, atau apabila adik sedang kangen sama abang boleh dibaca ya dik?” tuturku sedikit menjelaskan kepada kekasihku. “Ih, abang ni ya, ikut, ikutan adik saja.” Balas Khumairoh sambil mencubit perutku.

“Wadaw, sakit tahu.” Candaku kepada Khumairoh agar dia tidak merasa sedih dan merasa lega setelah bertemu denganku lagi. Sementara pamanku sudah membunyikan klaksonnya berkali-kali dari tadi, aku pun merasa tidak enak dengan pamanku, dan akhirnya aku memohon izin dan memohon pengertian kepada Khumairoh untuk berangkat pergi ke kota. Aku mendekatinya seraya mencium keningnya, sebagai tanda perpisahan kami, perpisahan sementara tentunya, karena kelak apabila cita-citaku sudah tercapai aku akan pulang dan melamarnya.

Air mata mengalir dari sudut mata kekasihku Khumairoh, hatinya merasa tidak tenang melepaskan kepergianku, sambil berpaling dari pandanganku dia menangis sejadi-jadinya, seperti akan menumpahkan seluruh kesedihannya karena aku tinggalkan. Air mataku pun tak dapat aku tahan, sambil aku berpaling dari dari pandangannya tetasan air mata mengalir di kedua pipiku. Aku menguatkan diriku, kuhapus air mata perpisahanku, kukokohkan tekadku, demi cita-citaku, kukepalkan tangan, aku katakan dalam gumamku sambil berjalan menuju mobil pamanku “Aku pasti bisa, ayolah Zali, bangkit, kamu pasti bisa”.
____<<<>>>____

çKEMBALI = LANJUTè

Tidak ada komentar:

Posting Komentar