DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Jumat, 03 Januari 2020

BAB II Preman yang Bengis dan Kejam (Bagian 2)

____<<<>>>____
Sesampainya di ujung kampung, perbatasan antara kampungku dengan kampung tetanggaku yang barusan aku lewati, yang dipisahkan oleh sebuah jembatan bambu yang hanya diterangi oleh lampu temaram, yang berasal dari lampu obor yang menempel pada dua sini kanan dan kiri tiang jembatan bambu, memberiku sedikit cahaya untuk melihat sekitanya, dan ternyata di jembatan tersebut ada dua orang yang sedang duduk dan tiduran.

Siapakah mereka? Mengapa meraka ada di jembatan itu tengah malam begini? Apakah meraka petugas ronda? Petugas ronda biasanya jam segini sudah pulang ke rumah masing-masing, karena tugasnya hanya sampe pukul sepuluh malam saja. Di kepalaku sekarang bersarang pertanyaan-pertanyaan tentang dua orang yang ada di jembatan. Aku mengawasi mereka dari jauh, siapa mereka berdua, mereka orang baik apa orang jahat?

Malam semakin larut, angin malam semakin menusuk di kulitku, pengawasanku akhirnya membuahkan hasil. Kedua orang itu ternyata preman yang bengis dan kejam, seperti yang dirumorkan selama ini, yang biasa mabuk-mabukan dan mencari mangsanya di jembatan bambu itu. “Duh Gusti Yang Maha Agung, bagaiman ini? Mereka adalah preman yang bengis dan kejam yang selama ini sudah banyak memakan korban, bukan hanya bengis dan kejam, tapi juga mereka berdua preman yang licik, buktinya mereka sampai saat ini belum juga tertangkap, padahal menurut banyak saksi mata merekalah orang yang telah banyak melakukan pembegalan dan pemerkosaan di jembatan itu?” gerutuku dalam hati.

Ketakutanku bukannya tidak beralasan, rasa takutku bertambah-tambah, apalagi dengan adanya kedua preman yang sedang mabuk dijembatan tersebut. Bisa-bisa aku jadi korban selanjutnya, tapi kalau tidak pulang, masa aku harus menginap di tempat terbuka seperti ini, inikan lebih berbahaya lagi, bisa-bisa saya diterkam binatang buas saat aku tidur. Beberapa saat kemudian aku merapalkan potongan ayat suci yang biasa aku wiridkan di setiap selesai sholatku. Aku mengulanginya beberapa kali, dan sambil merapalkan wiridan tersebut akupun memberanikan diri untuk lewat di jembatan tersebut.

Aku langkahkan kakiku pelan namun pasti, mencoba untuk melangkah dengan tenang namun juga melangkahkan kakiku agar tidak menimbulkan suara yang akan menyebabkan kedua preman yang mabuk itu menyadari ada aku yang sedang lewat di depan mereka. Aku langkahkan kakiku dengan tekad yang bulat, yaitu aku ingin pulang. Beberapa meter lagi aku bisa melewati jembatan itu, dan aku akan langsung berlari sekencang-kencangnya begitu aku sudah aman dari mereka berdua.
____<<<>>>____

Karya: Telaga Warna

1 234567,..., 91011121314, 15161718



Tidak ada komentar:

Posting Komentar