Terasa kakiku sudah berat untuk melangkah, tubuhku gontai, jalanku sudah tidak tegak lagi, aku sendirian menyusuri pematang sawah yang sepi, rawan terjadi kejahatan, dan tanpa setitik pun cahaya. Langkah kaki mungilku juga mulai tak seperti menapak pada tanah, goyah tak seimbang, sesekali kakiku mungil tersandung rerumputan yang membuat tubuhku hampir terjatuh dan ambruk.
“Ya Allah, lindungilah hamba-Mu ini dari kejahatan malam, dari kejahatan syaitan dan jin kafir, dari manusia yang tidak bertanggung jawab, dan dari kejatahan segala makhlukmu, hamba-Mu memohon agar hamba-Mu ini dikasihani oleh-Mu, Ya Rabb.” Gumamku dalam bentuk doa.
Do’a-do’a perlindungan kepada Allah swt. selalu aku panjatkan sepanjang perjalanan ini, berharap selalu keselamatan dan perlindungan dari-Nya, sehingga aku selalu dalam lindungan-Nya sampai di tempat tujuan, yaitu rumahku surgaku.
Tiba-tiba dalam selingan do’a-do’aku, Allah mengingatkan aku dalam lintasan sekejap tentang kata-kata nenekku yang memintaku agar bermalam barang satu malam lagi, karena sudah terlalu sore dan takut aku kemalaman di jalan. Tapi aku memaksakan kehendakku, dan aku selalu memaksakan diri, “Aku mah emang gitu.” Kataku. Itulah kata-kata yang sering aku katakan sebagai slogan hidupku.
Karya: Telaga Warna

Tidak ada komentar:
Posting Komentar