Kesedihanku pun tak bisa aku bendung, aku memeluk bundaku dan memberikan salam perpisahan, salam perpisahan yang hanya sementara waktu, tidak akan selamanya, karena tidak akan lama juga aku di kota, bila aku sudah berhasil dengan cita-citaku, maka aku akan langsung pulang dan mengabdi untuk dusunku tercinta, serta memajukannya. Mataku mulai berkaca-kaca menahan kesedihan, air mata yang selama ini aku tahan, akhirnya membuncah dan pecah mengiringi isak tangis kesedihan karena perpisahan dengan bundaku.
Kami berpelukan dengan erat untuk terakhir kalinya, aku tak kuat menahan kesedihanku, manakala memandang wajah renta bundaku, semakin teriris pilu hatiku, semakin tak kuasa untuk berpisah. Karena aku sudah membulatkan tekadku, maka aku harus pergi, sesakit dan sepilu apapun aku akan tetap pergi merantau. “Bunda, aku mohon pamit, mohon do’a restu ya bunda, do’akan anakmu ini menjadi orang sukses dan berhasil dalam mencapai cita-citaku.” Aku berkata dengan selembut-lembutnya kata-kataku seraya memohon do’a restu bundaku.
“Bunda mendo’akanmu nak, hati-hati di sana, kasih kabar bila ada apa-apa, cepatlah selesaikan belajarmu ya nak?” ucap bundaku diiringi oleh isak tangis kesedihan bundaku. Aku pun pergi dan berlalu dari pandangan mata bundaku seraya melambaikan tanganku. Dengan malu-malu bundaku pun membalas lambaian tanganku, aku tak sanggup untuk menatap wajah bundaku lagi, jika aku terus menatap wajah sedih bundaku, maka aku bisa-bisa tidak pergi merantau. Aku berpaling dengan kesedihan yang menyayat hatiku, aku mencoba menegarkan diriku dengan memotivasi diri dalam hatiku.
Di ujung jalan sana, pamanku sudah menungguku dengan mobilnya, dan memang yang pergi merantau bukan aku saja, pamanku membawa beberapa anak muda yang sudah membulatkan tekadnya untuk merantau. “Zali, ayo cepat, sudah siang, nanti keburu kejebak macet, tahu sendiri pasar di pinggiran kota sering menyebabkan macet.” Tutur pamanku dengan tegas. “Iya paman!” aku menjawab dengan sigap dan tegas serta tidak ada lagi rasa ragu yang menaungiku.
Hari sudah terang, sang surya telah menampakkan wajahnya yang cerah, tak sedikitpun ragu pada sang surya untuk menampakkan dirinya. Mau mendung, mau hujan, mau cuaca tak bersahabat, mau masih gelap, kalau waktunya keluar sang mentari akan tetap keluar tanpa aba-aba dari siapapun. Nyanyian burung-burung mengiringi kepergian kami, aku menatap dusunku dengan tatapan nanar, mobilpun berlalu, namun aku mendengar sayup-sayup seseorang memanggil-manggil namaku dari kejauhan.
“Abaaaaaang, Abaaaang, Abaaaaang Zaliiiiiiiiii, tunggu adik baaaaang!” suara Khumairoh memanggil-manggil namaku. Aku kenal sekali suara itu dan aku yakin itu suara Khumairoh, dan benar saja dari kejauhan seorang perempuan berlari-lari mengejar kendaraan yang kami tumpangi, dan akupun meminta izin kepada paman untuk berhenti sebentar. “Paman, hentikan dulu mobilnya, itu ada Khumairoh mengejar mobil kita, kasihan paman, mungkin mau mengucapkan salam perpisahan juga kepadaku paman.” Jelasku kepada pamanku. Mobilpun berhenti, dan aku turun seraya berlari menyongsong kekasihku Khumairoh yang berlari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar