SIRNA DALAM CINTA
Oleh: Telaga Warna
Sang surya mengintip malu-malu, bersembunyi di balik awan putih, sinarnya memaksa sang kegelapan menyingkir dari alam maya pada, membuat sarangga malam diam membisu. Sinarnya menyirnakan embum pagi, hangatnya melahap dinginnya, disertai nyanyian burung-burung, suara merdunya membangunkan insan yang selama gelap menyelimuti, terlelap dalam mimpi-mimpi dan khayalan indah duniawi. Semilir angin menyebabkan lambaian dedaunan, hamparan rumput hijau bak zambrut khatulistiwa yang membentang sepanjang pegunungan.
Lalu lalang insan manusia mulai nampak, bayang-bayangnya memanjang tertimpa sorotan mentari dari ufuk timur, kaki-kaki mereka kuat-kuat dan kekar-kekar karena terbiasa dengan perjalanan, melalui setapak demi setapak jalan yang botak tengahnya tanpa rumput satupun akibat langkah-langkah kaki para penghuni dusun terpencil. Jalan tanah yang akan becek berlumpur apabila hujan menyiraminya, jalan setapak yang menjadi saksi bisu setiap insan manusia dalam keseharian mereka.
Manakala sang mentari setombak tingginya, hiruk-pikuk insan mulai terasa, dengan tujuan yang beragam, kebiasaan warga dusun hanyalah ke sawah, ladang, gunung, sungai, pasar, dan lain sebagainya, kebiasaan yang hanya untuk mengisi perutnya dengan sesuap nasi. Walaupun ada juga beberapa dari mereka mencoba mengais rezeki yang lebih baik dengan berlomba-lomba pada masing-masing tujuann mereka. Di antara mereka ada yang mencoba mengadu nasib dan keberuntungan agar hidup lebih baik, dengan merantau ke kota-kota besar.
Pemuda tampan nan gagah, berkulit putih bak bule kesasar, bertubuh tinggi dan barbadan kekar dan tegap, tatapan matanya tajam penuh makna dan penuh arti, bercita-cita tinggi, meraih segala apa yang menjadi tujuannya, orang sekitar memanggilnya ‘Al-Ghozali. Rambutnya hitam pekat, pendek bergelombang, hidungnya mancung, matanya hitam bercahaya, tangannya berotot, tubuhnya ideal, kedua kakainya kekar. Nampak seorang pemuda yang pintar cerdas dan juga rajin dalam melakukan pekerjaannya. Tutur katanya lembut, sopan lagi santun kepada setiap orang yang dia jumpai, taat beribadah, rajin mengaji, kata-katanya tegas berwibawa.
Masih muda, namun cita-citanya tinggi hingga membumbung ke langit, menjulang seperti pegunungan yang mengelilingi dusunnya. Demi cita-citanya, dia ingin pergi ke kota, menimba ilmu dan pengalaman, ingin memajukan desanya dan khususnya dusunnya. Tekadnya kuat dan sudah bulat, tidak peduli dengan nasihat dan kata-kata orang di sekitarnya. Sang kekasih, si cantik jeliat, dambaan dan pujaan hatinya yang mencoba untuk melarangnya pergi merantau tidak ia pedulikan. Kekhawatiran sang kekasih, si cantik jelita bukan tak beralasan, takut di luar sana ada gadis lain yang akan merebut sang kekasih dari tangannya.
LANJUTรจ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar