____<<<>>>____
Seharusnya tadi aku menuruti kata-kata nenekku untuk bermalam satu malam lagi, karena hari ini sudah sore, dan sudah tidak ada kendaraan umum. Dan benar saja kata-kata nenekku, maafkan aku nek, karena tidak mengindahkan kata-katamu. Akhirnya aku seperti ini, aku menyesal sekali nek. Karena sudah malam dan memang sudah tidak ada lagi kendaraan umum yang bisa saya tumpangi, aku terlanjur berjalan kaki, berharap sepanjang saya berjalan akan ada angkutan umum yang lewat.
Semakin lama dan semakin jauh kakiku melangkah, tidak kunjung juga angkutan umum yang aku tunggu-tunggu, dan akhirnya aku terpaksa melanjutkan perjalananku dengan berjalan kaki. Waktupun sudah tidak terasa sudah larut malam. Aku ayunkan langkahku semakin cepat tanpa menoleh sedikitpun.
Tiba di perbatasan desaku, suasan desa yang sepi sudah tampak dari kejauhan, dan aku pun memberanikan diri untuk tetap dan terus melanjutkan perjalananku. Sedikit senang karena kampungku sudah terlihat dari kejauhan, akan tetapi suasana yang mencekam membuat rasa gembiraku ikut hanyut bersama gelap gulita dan dinginnya malam yang semakin mencekam. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri semua, aku merasakan ada sepasang sorot mata yang sedang mengawasiku.
____<<<>>>____
Karya: Telaga Warna
1, 2, 3, 4, 5, ..., 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18

Tidak ada komentar:
Posting Komentar