“Paman masuk dulu, duduk dulu paman, kita ngopi dan sarapan sebentar, sambil aku pamitan sama bundaku ya paman?” tuturku mempersilakan pamanku untuk masuk ke rumahku sebentar. Ibuku keluar dari dapur membawa sepotong makanan ala kampung dan dua gelas teh manis untuk kami berdua seraya berkata, “Dik, mohon jaga keponakan semata wayang adik di kota nanti ya, adik tahu sendiri keponakanmu itu masih polos, belum mengerti apa-apa, di sini memang kuat, tapi di luar sana belum tentu dia itu orang yang kuat”.
“Tenang saja mba, aku akan menjaganya dengan baik, aku akan mecarikan pekerjaan yang terbaik, toh di kota juga dik Zali akan aku kuliahkan, karena itu juga salah satu keinginan Dik Zali, yaitu mencari pengalaman sambil menggali ilmu di kota untuk memajukan dusunnya, benar tidak tuh Dik Zali?” Pamanku menjelaskan dengan detail sambil bertanya kepadaku. “Benar paman, aku akan berusaha mengatur waktu antara bekerja dan menuntut ilmu, aku juga akan mengabdikan hasil ilmuku kelak untuk kemajuan dusunku ini.” Tuturku dengan tegas.
“Tapi Dik? Apa adik punya uang untuk membiayai kuliah anak semata wayangku ini, mba’yu mu ini tidak punya apa-apa untuk membiayai anakku kuliah di kota, dik.” Ibuku menjelaskan keadaannya dengan rasa khawatir. “Insya Allah Mba’yu, saat ini perusahaan saya di kota sedang bagus-bagusnya, jadi bisa untuk membiayai kuliah keponakanku ini, apa lagi keponakanku ini nanti akan aku masukkan ke perusahaanku untuk bantu-bantu di sana, nanti gajiannya akan dipotong untuk membiayai kuliahnya, saya tidak akan mengajari ponakanku tidak mandiri toh, itung-itung latihan mandiri.” Tutur pamanku dengan gamblang dan jelas.
Dengan penjelasan dari pamanku yang begitu jelas dan gamblang, bundaku sangat mengerti sekali, dengan demikian bundaku sangat tenang dan tidak akan khawatir lagi kepada anak semata wayangnya yaitu diriku sendiri. Ibuku mengeluarkan seikat uang, yang tujuannya adalah untuk bekalku kelak di kota, dan bundaku pun menyerahkan tas gendongku yang berisi beberapa potong pakaian dan sekantong plastik hitam bekal makanan untuk dalam perjalanan kami berdua, seraya berkata “Ini, tas ransel kamu nak dan ini kantong plastik berisi makanan buat bekal kalian berdua dalam perjalanan”.
“Nak, nanti kalau sudah sampai di kota kabari bunda ya? Telepon ke rumah paman, biar nanti si minah yang ngasih kabar ke bunda, jangan lupa seminggu sekali menelepon, biar bunda tidak khawatir, jangan lupa sholat lima waktu, ngaji yang rajin, bantu pekerjaan paman, jangan malas-malasan, dan juga belajar yang rajin agar kamu bisa lulus kuliah dengan nilai terbaik, agar dapat memajukan dusun kita ya nak?” ibu membarikan nasihatnya dengan begitu jelas dan gamblang. Tanpa terasa air mata bundaku meleleh di kedua pipinya yang sudah tidak muda lagi itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar