DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Minggu, 12 Januari 2020

Ki Barsisoh Part 3

Terik matahari menyengat kulit, tubuh sang alim terasa terbakar di tiang gantungan, menunggu detik-detik dieksekusi oleh algojo-algojo yang besar-besar dan kekar-kekar itu. Sekali tarik saja tali itu, maka nyawa sang alim ulama pun akan sekejap menuju alam baka. Sebelum eksekusi hukuman gantung, biasanya sang hakim membacakan dakwahannya kepada terdakwa, karena kasus ini sudah tidak dapat di sangkal lagi. Saksi-saksi dan bukti-bukti sudah jelas, tidak akan ada lagi persidangan, karena kasusnya sudah jelas sekali.

Cucuran keringat membasahi tubuh sang alim ulama, di tiang gantungan itu dia meratapi nasibnya, mengapa dia seperti ini, seharusnya dia tidak bernasib seperti ini apabila tidak mengikuti ulama tadi, dan tidak merasa penasaran dengan ibadah ulama yang mampir ke pondoknya itu. Walaupun penyesalannya begitu mendalam, namun dia tidak ingat kepada  Allah swt sama sekali, dia ingatnya sama sang ulama yang akan menolongnya.

Detik-demi detik, menit pun berlalu, berjam-jam lamanya penduduk menunggu eksekusi tersbut, pada raut wajah mereka terselip kebencian yang mendalam kepada sang alim ulama, kebencian mereka karena sang alim ulama berani-beraninya telah melakukan perbuatan yang keji itu. Mabuk-mabukan, membunuh sang bayi dan memperkosa seorang perempuan berkali-kali, sungguh perbuatan yang amat menjijikkan di mata penduduk setempat.

Berita itu sangat cepat menyebar, dari mulut ke mulut, para pengembara, pedagang, dan masyarakat yang lalu lalang di wilayah tersebut telah menyebarkan berita itu, sehingga akhirnya banyak orang yang berasal dari luar daerah dating berbondong-bondong untuk menyaksikan peristiwa tersebut. Ada yang merasa benci dan jijik, ada yang merasa kasihan, ada yang merasa tidak menyangka kalua beliau akan melakukan perbuatan kejam tersebut, dan lain sebagainya.

Detik-detik penghakiman dimulai, sang hakim dan kerabat kerajaan sudah berkumpul, sang hakim menyebutkan dosa-dosa dan kesalahan yang telah diperbuat oleh sang alim ulama, beserta bukti-bukti dan saksi-saksinya lengkap, maka sang alim ulama tidak bisa mengelak lagi. Sang ulama tiba-tiba muncul di hadapannya, dan semua orang tidak manyadari kehadirannya, hanya sang alim ulama saja yang menyadarinya, dan sang alim ulama pun memohon kepada sang ulama untuk melepaskannya.

Hitungan mundur lima menit lagi eksekusi akan dilaksanakan, sang ulama mengatakan sesuatu kepada sang alim ulama, “Tenan tuan, saya akan menyelamatkan tuan di saat algojo-algojo itu akan menarik tali gantungan itu, oleh karena itu tuan tenang saja, dan bersabarlah, aku akan memberikan kejutan kepada mereka semua.” Dengan kata-kata itu, sang alim ulama merasa tenang, dan sang alim ulama menyetujui rencana tersebut. “Baik, saya setuju rencana kejutan itu.” Kata sang alim ulama dengan tenang.

Wajahnya mulai tenang, karena janji sang ulama kepadanya, rasa khwatir mulai sirna dari wajahnya yang semula penuh dengan rasa takut, khawatir, dan cemas menggelayuti wajahnya. Janji manis sang ulama membuahkan hasil, dan sang ulama pun berpamitan sebentar kepada sang alim ulama untuk menyusun rencana dan menjalankan rencananya katanya. “Aku pergi sebentar, aku akan menysun rencana dan menjalankan rencana kita, oke!” kata sang ulama. Sang alim ulama mengiyakannya.

Waktu berlalu, detik, menit telah berlalu, kini tinggal satu menit lagi, sang alim ulama mulai cemas kembali, karena sang ulama belum juga muncul untuk menjalankan rencananya itu. Setengah menit berlalu, kecemasannya telah nampak amat sangat, bercampur menjadi satu dengan rasa takut, khwatir, dan was-was. Jangan-jangan sang ulama tidak menjalankan rencanaya, jangan-jangan sang ulama mengkhianatinya, pertanyaan-pertanyaan itu mulai kembali bergelantungan di alam pikirannya.

Lima belas detik lagi, hitungan mundur mulai dilakukan, sang ulama muncul dengan mengacungkan jempol, memberi isyarat bahwa rencananya akan segera dilaksanakan. Penduduk yang hadir secara serentak mengitung mundur mengikuti hitungan yang dilakukan oleh petugas kehakiman, “Lima, empat, tiga,”. Sang alim ulama mulai khawatir dan bertingkah tidak karuan, sang alim ulama mengamuk dalam hitungan detik itu juga.

“Dua, satu”, Kreksss, suara leher yang ditarik oleh tali tiang gantungan. “Tolooong tuan, tolooo, tollll…,” suara tercekik di akhir hayat sang alim ulama, dan seketika itu juga sang alim ulama meninggal dunia dalam gantungan. Ternyata rencana itu hanya jebakan dari sang ulama yang tidak lain tidak bukan adalah Iblis yang menyamar sebagai seorang ulama yang pura-pura tobat dengan beribadah tiga hari-tiga malam tanpa makan, tanpa minum, dan tanpa keluar ke kamar mandi.
Wallahu’alam bishshoab

Hikmah:
Demikian kisah yang memilukan ini, kisah dimana seorang ulama yang sakti mandraguna, ulama yang do’a-do’anya sudah menembus langit, namun masih merasa kurang ibadahnya dibandingkan dengan orang lain. Sehingga dia merasa penasaran, dimana rasa penasarannya tersebut membawanya kedalam kematian yang suul khotimah. “Na’udzu billah tsumma na’udzu billah”

Oleh karena itu, mari kita renungkan peristiwa ini sebagai bahan renungan yang tidak boleh kita anggap sepele, renungkan sedalam-dalamnya dan jadikanlah sebagai bahan pembelajaran bagi kita semua. Jangan iri dengan prestasi orang lain yang justru akan membawa kepada kita ke jalan sesat-menyesatkan. Mohonlah selalu perlindungan kepada Allah swt agar kita selalu selamat di jalan-Nya dan selamat hingga dunia akhirat. Aamiin yaa robbal ‘aalmiin

Wabillahi Taufiq Walhidayah Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabar;Okatuh.
Disarikan dari berbagai sumber dan diolah serta disusun kembali oleh: Muslihin, S. Pd. I., MM.


Part 1 dan Part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar