Hening mencekam, cahaya remang-remang berasal dari api obor membuat suasana semakin menyeramkan. Jembatan bambu penghubung antar dua desa itu sudah sering menjadi saksi bisu kekejaman dan penganiayaan. Jembatan yang selalu menyisakan kesedihan bagi korban-korbannya itu tetap kokoh memberikan pelayanan penyebrangan gratis bagi penggunanya. Karena kebisuannya, banyak korban berjatuhan, korban penodongan, penjambretan, pembegalan, pemerkosaan, dan pembuhuhan serta masih banyak lagi korban yang lain, namun belum juga terungkap siapa pelakunya.
Dua orang pemuda, yang sedang asik duduk di pinggir jembatan bambu, sedang menikmati minumannya, setenggak demi setenggak minuman itu ia habiskan. Beberapa botol minuman keras itu telah habis di tenggaknya oleh mereka berdua. Tubuh mereka tidak tegak lagi, dalam posisi duduk pun mereka bersandar pada pembatas jembatan. Sedangkan pemuda yang lain sudah tidak sanggup untuk menegakkan tubuhnya lagi. Mulut mereka meracau tak karuan, mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas seperti orang yang sedang mengigau.
“Mana mangsa kita masbro, kenapa tidak ada seorang pun yang lewat di jembatan ini?” Tanya Salah seorang dari mereka yang masih bersandar di pembatas jembatan dengan nada suara yang kurang jelas akibat kondisi mabuk. “Mana aku tahu masbro”, dengan nada khasnya sebagai seorang yang sudah mabuk berat. “Sudah lama kita tidak dapat mangsa, masbro?, Tanyanya kembali. Temannya sudah tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kepalanya sudah berat, matanya sudah tidak bisa dibuka lagi, mulutnya sudah terkunci, sudah di luar ambang kesadaran.
Karya: Telaga Warna

Tidak ada komentar:
Posting Komentar