Oleh: Telaga Warna
“Mmmmm, sebenarnya abang mau bilang sama adik, sekalian mau izin berpamitan sama adik,” dengan nada ragu Aku mengatakannya. “Izin? Pamitan?, maksud abang apa bang?” Khumairah benar-benar penasaran. “Eee…!!!, anu dik, aduh bagaimana ngomongnya ya?”, gumamku . “Ihh, abang ini, bikin adik penasaran aja, katakanlah abang, sebenarnya abang mau bicara apa? Mau izin dan berpamitan kemana?” Khumairoh terus bertanya dengan semakin penasaran. Akhirnya akupun mengatakan maksud dan tujuanku mengadakan janji temu di tempat itu.
“Abang mau berpamitan dan juga minta izin sama adik, bahwa Abang mau pergi merantau ke kota bersama paman, dan besok abang akan berangkat pagi-pagi sekali dik” dengan jelas dan gamblang serta tidak ragu-ragu lagi aku mengutarakan maksud dan tujuanku kepada Khumairoh kekasihku tercinta. Bak petir di siang bolong, Khumairoh sangat terkejut, matanya melotot, mulutnya menganga, rasa tak percaya akan apa yang akan dikatakan olehku.
“Apa Bang? Abang mau pergi merantau, ke kota? Apa Abang tidak salah kata, apa adik tidak salah dengar Bang” dengan nada yang agak tinggi dan nada orang yang terkejut, Khumairoh balik bertanya kepadaku. “Tidak sayangku, adik tidak salah dengar ataupun Abang tidak salah berucap, Abang akan pergi merantau dan besok pagi-pagi buta sekali Abang akan berangkat, Abang sudah meminta izin dan do’a restu kepada Bunda Abang, dan alhmadulillah Bunda Abang sudah merestui, awalnya bunda juga tidak setuju, namun Paman Abang mencoba meyakinkan Bunda Abang” Aku menjelaskannya dengan gamblang sekali.
Dengan raut muka yang berubah dalam sekejap mata, sesaat sebelum aku mengatakan maksud dan tujuanku untuk janji temu, Khumairoh dengan wajah cantik nan ayunya sangat terlihat jelas di raut wajahnya rasa bahagia bisa bertemu berdua di pinggir sungai ini, wajahnya berseri-seri penuh dengan kerinduang, penuh dengan rasa yang berbunga-bunga, namun sesaat setelah aku mengatakan maksud dan tujuanku bertemu di sungai ini aku jelaskan, wajahnya seketika bermuram durja, nampak di wajahnya kesedihan yang mendalam.
Kesedihan akan ditinggalkan oleh sang kekasih pujaan hati, namun sebenarnya hatiku juga hancur, tak tega meninggalkan orang tuaku dan kekasihku tercinta, namun apa daya, demi cita-cita ku untuk meraih masa depan yang lebih baik, mau tidak mau aku harus merantau ke kota. Hanya dengan merantau ke kota, mencari pekerjaan yang layak sambil menimba ilmu di sana, aku bisa mengubah nasib dan meraih cita-citaku seperti yang sudah pamanku raih saat ini. Toh, aku juga di sana bersama pamanku, jadi aku tidak akan mungkin terlunta-lunta di kota tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar