DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Sabtu, 04 Januari 2020

BAB III Gadis Cantik Menjadi Korban (Bagian 2)

____<<<>>>____
Matahari mulai menjulang, teriknya matahari saat ini mampu menyengat kulit, rupanya kemarau mulai membayangi musim, cahayanya menembus di sela-sela atap rumahku. Rasa kantukku pun mulai menghilang, lelah yang aku rasakan pun mulai memudar, bayang-bayang matahari sudah menjukkan bahwa matahari sudah tinggi. Peristiwa semalam masih menghantuiku, namun sudah merasa tenang dan aman karena selamat dari peristiwa semalam. Saking lelahnya tidurku pun sangat nyenyak sekali, sehingga tidak tahu ada peristiwa yang menggemparkan pagi-pagi sekali.

“Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat-Mu ya Rob, Engkau masih melindungiku dari mara bahaya sehingga aku masih bisa pulang dengan selamat di rumahku tercinta.” Ungkapan syukur meluncur dari bibirku yang manis. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh ibuku dari luar, ketukan yang sangat kencang sehingga aku terkejut dibuatnya. “Nduk, nduk, sudah bangunkah kamu nduk, buka pintunya,” Ibuku mengetuk pintu sambil membangunkan aku. Namun suara panggilan ibuku terdengar tidak seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang telah terjadi.

Begitu aku buka pintu kamarku, ibuku langsung memelukku, dan langsung mendudukkan aku di tempat tidurku, wajahnya pucat pasih, bibirnya gemetar, ada rasa was-was dan khawatir yang menggelayut di wajah ibuku. “Ada apa bu? Kenapa ibu gemetaran, wajah ibu juga pucat? Ibu seperti merasa khawatir dan was-was, gerangan ada apa bu?” Tanyaku dengan rasa penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi dengan ibuku kenapa ibuku bertingkah seperti itu, seperti habis melihat setan saja.
“Tadi nduk, tadi pagi-pagi sekali”, suara ibuku terputus-putus. “Pelan-pelan bu, tarik nafas, pelan-pelang bicaranya”, aku sedikit menenangkan ibuku yang berbicara terbata-bata. Setelah ibuku menarik nafas, kemudian ibuku melanjutkan ceritanya, “Tadi pagi ada peristiwa yang menggemparkan nduk”. “Peristiwa menggemparkan gimana maksudnya bu”, aku menyela pembicaraan ibuku. “Tadi pagi, ada seorang gadis tewas mengenaskan nduk”, ibuku melanjutkan ceritanya.

“Innalillahi wainna ilahi rooji’un, dimana ibu, dimana kejadiannya”, tanyaku dengan rasa penasaran. Ibuku menjelaskan, “Di sungai, di bawah jembatan nduk, gadisnya seusia kamu nduk, dia cantik”. Kasihan sekali nasib anak gadis itu, tapi aku semalam juga lewat di jembatan itu, tapi tidak di apa-apakan. Apakah mereka berdua pelakunya, kapan melakukannya, apakah setelah aku lewat atau sesudah lewat?. Aku sangat penasaran dengan kejadian tersebut.

“Sekarang bagaimana bu, apa mayatnya masih ada, apa sudah lapor pak RT dan lapor ke polisi?” tanyaku kepada ibuku dengan rasa penasaran. “Sudah nduk, sudah beres semuanya, mayatnya sudah di bawa ke rumah sakit untuk diotopsi, warga juga rupaya sudah bubar dan sudah ke masing-masing aktifitasnya seperti biasa nduk” ibuku menjelaskan dengan rinci. “Ibu juga dari pagi tadi mengetuk-ngetuk pintumu, tapi kamu tidak ada suaranya, mau ngajak kamu liat ke tempat kejadian perkara”. Lanjut ibuku menjelaskan.

Namun aku terdiam seribu bahasa, dalam kepalaku bertanya-tanya, apakah mungkin ada orang lain sebelum atau sesudah aku yang menjadi korban mereka berdua?. Kalau sebelum aku datang kejadiannya, pasti mereka sudah pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menghilangkan jejak. Ibuku memandangiku dengan rasa heran dan penasaran, mungkin ibuku masih penasaran dengan kepulanganku yang tidak biasanya, yaitu tengah malam.

“Nduk, semalam kamu pulang tengah malam, kenapa bisa pulang tengah malam?, bagaimana kabar nenekmu nduk?, ibu khawatir nduk, apalagi ditambah dengan kejadian pagi ini”, akhirnya pertanyaan itu pecah juga dari mulut ibuku. Dan akupun menjelaskannya dengan rinci sekali, kenapa aku bisa pulang tengah malam dan bagaimana kondisi nenek yang sudah baik-baik saja. Penjelasanku membuat ibu tenang dan rasa khawatir yang selama ini dirasakan ibuku kini perlahan mulai memudar.
____<<<>>>____


Karya: Telaga Warna


1 23456789, 10, ..., 12131415161718

Tidak ada komentar:

Posting Komentar