Matahari sudah setombak tingginya, lalu-lalang dan hilir mudik orang-orang di pasar sudah ramai, ada suara penjual yang menawarkan dagangannya, ada suara pembeli yang menawar dagangan, semrawut pasar kota itu, panas sang mentari tak dihiraukan lagi, panasnya menampar pipi-pipi mungil, jalan di pasar itu becek, ciri khas pasar tradisional, lubang-lubang yang tergenang air sisa gerimis semalam, menyisakan bau comberan yang has pasar menyengat hidung, namun mereka tidak peduli dengan semua itu, demi meraup pundi-pundi uang dan membawanya pulang.
Semakin siang, semakin padat pasar itu, tidak ada kendaraan yang bisa melewatinya, orang saja sulit sekali untuk melewatinya, saking ramai dan padatnya pasar tersebut. Seseorang mencoba menerobos padatnya manusia di pasar tersebut, mencoba melewatinya untuk menuju pertokoan yang berada di tengah pasar. Orang tersebut tak lain adalah sang ulama yang penasaran dengan mimpinya semalam, gerangan apa dan siapa yang akan ditemuinya sehingga orang tua yang berada di dalam mimpinya tersebut sangat tenang dan bahagia.
Beberapa took sudah sang ulama kunjungi dan bertanya nama yang disebutkan orang tua di dalam mimpinya, namun belum juga menemukannya. Mencari orang di pasar seramai ini seperti mencari jarum dalam jerami, toko demi toko sang ulama tanyakan namanya, namun tak kunjung juga ia temukan. Kakinya mulai lemas, berputar-putar di pasar, dari gang yang satu ke gang yang lainnya, letih mulai ia rasakan, sedang waktu mulai beranjak siang, gerangan dimanakah toko anak orang tua itu, hampir saja ia putus asa.
Di sudut pasar itu, ada toko yang belum ia datangi, posisinya agak tersembunyi, dia sendiri baru menyadari kalau di tempat itu ada toko, bagaimana mungkin orang akan mendatangi toko tersebut dan tahu bahwa di sana ada toko, sedangkan posisi tokonya saja terpencil sendirian, sehingga jarang sekali orang mendatanginya. Kemudian sang ulama mendatangi toko tersebut, walaupun letaknya tersembunyi tapi masih tetap ada saja orang yang mencari barang di toko tersebut. Kebetulan sang pemilik toko sedang melayani satu pelanggan, selesai melayani pelanggan tersebut anak muda pemilik toko tersebut duduk di kursinya seraya sedang membaca sesuatu.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh” Sang ulama mengucapkan salamnya. Seketika itu juga pemuda tersebut menghentikan bacaannya, dan ternyata yang dibaca adalah ayat-ayat suci al-Qur’an. “W’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh, Eh! Ada orang, mau beli apa pak?”. Pemuda itu menjawab salamnya dengan sedikit terkejut. “Maaf, saya tidak mau beli, saya mau tanya, apa ini tokonya fulan bin fulan?” tanya sang ulama kepada pemuda tersebut. “Kalau tidak salah, benar pak, saya fulan bin fulan” Jawab pemuda itu. “Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga orang yang aku cari-cari” dengan perasaan lega sang ulama mengucapkan syukur karena orang yang dicari sudah ketemu.
“Grangan ada apa ya pak, nyari-nyari saya, soalnya saya tidak kenal bapak, saya juga baru kali ini saya melihat bapak.” Tanya pemuda kepada sang ulama dengan rasa penasaran di dalam benaknya. “Boleh saya duduk dik?” Tanya sang ulama, karena kakinya sudah mulai lelah akibat berkeliling di dalam pasar tersebut mencari dirinya. “Oh, iya maaf, silakan duduk pak” dengan nada sedikit terkejut pemuda itu mempersilakan sang ulama duduk. “Terima kasih dik” sang ulama mengucapkan terima kasih seraya duduk di kursi yang sudah tersedia di depan toko tersebut.
Sang pemuda pun keluar dari toko dan duduk di kursi di samping sang ulama seraya bertanya kembali dengan nada penasaran, “Maaf pak, sebenarnya bapak ini siapa, dan mengapa mencari-cari saya?”. Sang ulama tidak langsung menjawab, rasa lelah dan letih masih menghantui tubuhnya, sedangkan kakinya merasa lunglai. “Begini nak, bapak bermimpi, bertemu dengan orang tua yang sedang duduk manis dan santai di atas pusaranya, beliau begitu tenang dan bahagia sekali, sedang orang-orang di sekitarnya masing-masing sibuk mengais-ngais di rumput dan di sekitar pusara masing-masing” Tutur sang ulama.
Pemuda itu semakin penasaran, mimpi apa sebenarnya yang dialami sang ulama, adakah kaitannya dengan diri sang pemuda. “Mimpi bapak aneh sekali ya, terus apa hubungan mimpi itu dengan saya pak?” tanya si pemuda dengan nada penasaran. “Bapak kemudian bertanya kepada salah seorang yang mengais-ngais rumput dan tanah tersebut, gerangan apa yang mereka lakukan, dan merekapun menceritakan semuanya secara detail”. Sang ulama mencoba menjelaskan, sedangkan pertanyaan si pemuda belum juga dijawabnya. “Selanjutnya, bapak menemui orang tua yang sedang duduk tenang dan santai di pusaranya itu, dan bapak juga bertanya kepada orang tua tersebut, gerangan apa yang sudah bapak kerjakan sehingga bapak dapat duduk santai di pusara bapak, sedangkan yang lainnya sibuk mengais-ngais rerumputan di sekitar pusara mereka masing?” tutur sang ulama dengan detail.
Si pemudia hanya terdiam mendengarkan ucapan-ucapan sang ulama, walaupun rasa pensaran apakah kaitannya mimpi sang ulama dengan dirinya, si pemuda mencoba untuk sabar dan mendengarkan setiap penuturan sang ulama. “Bapak itu menjawab, jika Anda ingin tahu dengan apa yang sudah saya lakukan, sehingga saya dapat duduk santai dan menikmati kebahagiaan ini, maka datanglah ke pasar dan temuiah fulan bin fulan, dia adalah anakku, gerangan apakah yang anakku selalu lakukan sehingga aku bisa senang dan bahagia serta dapat duduk santai di pusara ini” tutur sang ulama seraya menirukan kata-kata orang tua yang ada di dalam mimpinya itu.
Si pemuda tersontak kaget dan terkejut bukan main, namanya disebut-sebut oleh sang ulama, yang katanya namanya dia peroleh dari mimpinya yang bertemu oleh orang tua yang ternyata orang tua itu adalah ayahnya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dengan rasa penasaran yang semakin kuat, pemuda itu serius mendengarkan cerita sang ulama, namun sesaat sang ulama terdiam, tak sepatah katapun yang dia ucapkan, sang ulama memandangi wajah si pemuda yang sedang diselimuti rasa penasaran itu. Dipandangi oleh sang ulama si pemudia merasa kikuk dan grogi, si pemuda juga ikut terdiam seribu bahasa, suasana kian hening, sementara suasana pasar mulai senggang kembali, matahari sudah berada di atas kepala, keheningan itu terpecah manakala azan dzuhur berkumandang dari musholla yang berada di pasar tersebut.
Si pemuda meminta izin untuk menutup tokonya, dan mereka berdua kemudian pergi ke musholla untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaah, selesai melaksanakan sholat dzuhur berjama’ah dan menyelesaikan masing-masing wiridannya si pemuda langsung mengajak sang ulama untuk mampir ke rumahnya. Sesampainya mereka berdua di rumah si pemuda, mereka disambut oleh perempuan cantik dan anaknya, ternyata mereka adalah istri dan anak si pemuda, si pemuda kemudian memperkenalkan anak istrinya kepada sang ulama, dan begitu sebaliknya si pemuda mengenalkan sang ulama kepada anak dan istrinya
Perempuan itu sudah menyiapkan makanan sebagaimana biasanya, merekapun menikmati makan siang mereka dengan lahapnya, selesai makan siang, sang ulama kembali melanjjtkan cerita dari mimpinya. Menjelaskan bahwa ayahnya sudah senang dan bahagia di alam kuburnya, si pemuda pun merasa gembira mendengar cerita itu. kini sang ulama yang merasa penasran gerangan apa saja yang dilakukan si pemuda sehingga ayahnya bahagia di alam kuburnya. “Gerangan apa yang selalu adik lakukan sehingga ayah adik bahagia di alam sana?” tanya sang ulama.
“Alhamdulillah, saya tidak melakukan apa-apa, hanya saja di selah-selah saya menunggu toko saya sempatkan membaca ayat suci al-qur’an yang saya khusus untuk beliau dan itu saya lakukan setiap hari.” Tutur si pemuda dengan jelas dan gamblang. “Oh begitu, pantas saja, kondisi ayah adik tenang dan bahagia sekali” Jelas sang ulama, seraya mengangguk-anggukkan kepalanya menandakan bahwa sang ulama paham sekali dengan kejadian tersebut. “Iya, hanya itu yang sehari0hari dapat saya lakukan untuk ayahku tercinta” sang pemuda sedikit merendah. Ini bisa sang ulama jadikan pelajran yang terbaik untuk kita semua, gumam sang ulama di dalam hatinya.
Hikmah:
Demikianlah kisah mimpi sang ulama yang wara’, mimpi yang dapat dijadikan pelajaran yang berharga bagi kita semua, sehingga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa ini. Oleh Karena itu, jangan pernah menyepelekan pendidikan bagi anak-anak kita, arahkan pendidikan anak-anak kita dengan pendidikan islam, perkenalkan anak-anak kita dengan Allah dan Rasul-Nya jika tidak kita akan menyesalinya di kemudian hari. Titipkan anak-anak kita kepada lembaga-lembaga pendidikan islam, apabila kita tidak sanggup untuk mendidiknya sendiri, banyak lembaga-lembaga pendidikan islam yang siap menampung dan menididk anak-anak kita dengan pendidikan islam. Terima kasih, semoga kisah ini yang banyak mengandung hikmah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Part. 1 dan Part. 2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar