Sekilas pandangan sang ulama tertuju kepada seorang tua yang sedang duduk santai di atas pusaranya, tidak melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang tersebut, mengais-ngais rumput dan tanah di sekitar makamnya. Sang ulama pun mencoba mendekati, sementara orang yang tadi ditanya sudah kembali mengais tanah dan rumput dengan wajah yang terlihat hancur, hatinya penuh dengan kegetiran yang mendalam, di dalam hatinya nampak kekecewaan yang teramat sangat, hatinya seakan tersayat sembilu, perih, pedih, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, hanya penyesalan demi penyesalan yang mereka rasakan.
Sang ulama mendekati orang tua tersebut, orang tua yang sedang duduk santai di atas pusaranya, senyumnya mengembang manakalah sang ulama mendekatinya, raut mukanya penuh dengan kegembiraan, tidak ada secuil pun rasa penyesalan, taka da secuilpun kegetiran, yang ada adalah kebahagiaan yang terukir indah di wajahnya, tak pernah terbayang olehnya seperti yang mereka lakukan, mengais tanah dan rerumputan. Tak ada tanda-tanda lelah, tak ada tanda-tanda sengsara, tak ada tanda-tanda merana, yang ada senyum penuh kebahagiaan.
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.” Sapa sang ulama ketika beliau sudah sangat dekat sekali dengan orang tua tersebut. “Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh.” Jawab orang tua tersebut dengan nada yang mantap dan penuh dengan senyuman. “Boleh saya duduk di sini, tuan?” Tanya sang ulama. “Silakan tuan,” Jawab orang tua tersebut dengan ramah. “Terima kasih atas kebaikan dan kemurahan hati tuan” Jawab sang ulama. “Sama-sama tuan, suatu keharusan apabila kedatangan tamu harus dipersilakan duduk, agar ngobrolnya enak, iya tidak tuan?” Orang tua tersebut menjawab dengan ramah dan santun. “Benar sekali, seperti itulah seharusnya” Sang ulama membenarkan kata-kata orang tua tersebut.
Mereka berdua mencoba saling mengakrabkan satu sama lain, saling memperkenalkan masing, mimpi sang ulama seperti nyata adanya, mimpi seperti ini biasanya adalah mimpi sebuah petunjuk, mimpi kebenaran, dan mimpi yang sarat makna dan arti. Aku pun mulai membuka kembali percakapan kami dengan bertanya kepada orang tua tersebut, tentu saja pertanyaan yang ringan dan tidak tergesa-gesa, sang ulama mencoba berbasa-basih terlebih dahulu dengan memperhatikan sekitarnya, tidak to the point, sehingga percakapan mereka terasa rileks dan santai.
“Tuan, bolehkah saya bertanya kepada tuan?” Sang ulama mengawali pertanyaannya. “Oh, Silakan? Apa yang tuan mau tenyakan kepada saya, sepertinya tuan penasaran dengan kondisi saya saat ini, itu terlihat dari raut muka tuan saat ini.” Kata orang tua tersebut seperti tahu maksud dan tujuan sang ulama bertanya kepadanya tersebut. “Maaf tuan, apabila saya mengganggu waktu santai tuan?” tutur sang ulama dengan merendahkan hatinya. “Iya tuan, tidak apa-apa? Kebetulan saya sedang santai dan tidak ada pekerjaan yang dapat saya lakukan saat ini tuan.” Jawab orang tua tersebut dengan santai dan tenang.
“Begini tuan, saya melihat banyak orang di sini, mereka semua sedang mengais-ngais tanah dan rerumputan, tadi saya sempat bertanya kepada salah satu mereka, gerangan apa yang mereka lakukan, dan merekapun menjawabnya dengan detail, sedangkan saya melihat tuan santai-santai saja, tenang dan bahagia terpancar pada wajah tuan, gerangan apakah yang menyebabkan tuan dapat santai seperti ini?” tanya sang ulama sambil menjelaskan bahwa dia sudah bertanya kepada salah satu orang yang mengais-ngais tanah dan rumput tersebut.
Dengan wajah sumringah, dan dengan tersenyum orang tua tersbut menjawab pertanyaan sang ulama dengan singkat dan padat, dia tidak bisa menjelaskannya dengan detail dan rinci, orang tua tersebut hanya menjawab seperti ini, “Coba tanyakan kepada anakku, dan kiranya apa saja yang dilakukan anakku di sana, anakku berjualan di pasar nama anakku adalah fulan bin fulan”. Jawaban orang tua itu mengejutkan sang ulama, sang ulama kira dia akan mendapatkan jawaban yang memuaskan, namun apa yang dipikirkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Setelah menjawab pertanyaan dengan singkat tersebut, orang tua tersebut berlalu dari pusaranya dan seketika itu juga sang ulama terbangun dari mimpinya.
“Astaghfirullah, rupanya hanya mimpi, tapi mimpi ini sangat nyata sekali, mimpi ini seprti semua isyarah, atau petunjuk, atau mengandung hikmah yang luar biasa.” Gumam sang ulama merasa heran dengan mimpinya yang hampir seprti nyata. Waktu telah menunjukkan pukul dua malam, sang ulama pun bangun dari tidurnya, namun pikirannya digelayuti oleh pikiran-pikiran yang baru saja dia alami di dalam mimpinya. Akhirnya sang ulama melaksanakan sholat malam menohon petunjuk kepada Allah swt., gerangan apakah makna dari mimpinya tersebut.
Sang ulama terus bermunajat kepada-Nya, hingga fajar tiba dan adzan subuh pun tak terasa telah berkumandang dari musholla dusun sang ulama. Di antara adzan itulah sang ulama terpikirkan untuk mencari nama seseorang yang disebutkan oleh orang tua di dalam mimpinya tersebut, orang tersbut berjualan di sebuah pasar yang sudah cukup terkenal di kota tempat sang ulama tinggal. Selesai sholat shubuh berjamaah di musholla, dan setelah menyelesaikan beberapa wiridannnya sang ulama bergegas kembali ke gubuknya guna berganti pakaian dan berangkat di kota dan mencari orang tersebut di pasar yang disebutkan orang tua yang ada di dalam mimpinya itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar