Oleh: Telaga Warna
“Tidak Abang, Abang jangan pergi, adik tidak mau ditinggalkan sama Abang sendiri di sini, kalau adik rindu sama Abang bagaimana? Pasti Abang pergi merantau bukan seminggu dua minggu atau sebulan dua bulan, pasti Abang merantau bertahun-tahun, Abang pasti tidak akan pulang sebelum cita-cita Abang, Abang Raih?” Khumairoh menolak kepergianku, dengan nada sedihnya teringat akan ditinggalkan olehku. Akupun mencoba menjelaskan dan memberinya pengertian, “Tidak dik, Abang akan tetap pergi, Abang akan mengiri adik surat setiap minggu, Abang akan kirimi oleh-oleh khas kota dik, Abang akan pulang pulang sebulan sekali dik”.
“Abang juga sangat berat tuk meninggalkan adik, namun apa daya, toh ini semua untuk masa depan kita juga dik, kalau seandainya Abang berhasil dalam perantauan ini, Abang akan melamar adik, Abang akan mempersunting adik, dan Abang akan menikahi Adik, kita akan hidup bahagia bersama dik.” Rayuku dengan nada yang sangat berat sebenarnya untuk meninggalkannya. Khumairoh bengong, matanya kosong, seolah-olah dia sedang menerawang jauh.
Namun Khumairoh tetap tidak mengizinkanku untuk pergi merantau, dia berlari dengan kesedihan yang nampak di wajahnya, airmatanya meleleh di kedua pipinya yang manis, dia berlari menuju ke rumahnya, dia benar-benar tidak mau mengizinkan aku. Sambil berlari dan menangis sejadi-jadinya dia tidak akan pernah mengizinkan aku pergi. “Tidak, tidaaaaak, Abang tidak boleh pergi merantau, Abang tidak boleh meninggalkanku, adik sayang dan cinta mati sama Abang!”.
Tubuhku bergetar, kakiku lemas dan lunglai, lututku tidak bisa menahan beban tubuhku, tubuhku terjatuh dengan ditopang oleh lututku, aku berdiri dengan lututku, dan akhirnya aku terduduk lemas dengan posisi seperti seseorang yang telah habis bersujud. Kedua tanganku lemas tak berdaya, seraya kedua punggung tanganku menyentu tanah. “Adik, sayangku, mengapa engkau tidak mengizinkanku untuk pergi merantau, bukankah Abang sudah meyakinkan adik, tapi kenapa adik tidak mau mengerti Abang.” Gerutuku dalam hati.
“Adik sayang, kenapa engkau lari, jangan pergi, abang belum selesai bicara sama adiiiiik, adiiiiiik, adiiiiiik, adikku tercinta dan tersayang, adikku tercantik, jangan lari, jangan pergi” Aku memanggil-manggil namanya seraya melambai-lambaikan tanganku. Namun, dia tetap berlari, dan tak menghiraukan panggilanku lagi, tak lagi mengindahkan kata-kata sayang dan cintaku padanya. Sesaat kemudian tubuhnya telah menghilang dari pandanganku, tertutupi semak belukar yang tumbuh subur di sekitar sungai, bayangnnya pun sudah sirna.
Sementara itu, mentari mulai tenggelam, pelan namun pasti sang mentari menghilang dari pandangan semua orang. Cahaya jingganya menyemburat dari balik pucak gunung, sesaat kemudian, lembayung senja mulai menyelimuti, dan tanpa terasa suara adzan magrib berkumandang dari pengeras suara musholla di dusunku. Gemericik air yang jatuh di bebatuan mengiringi kesedihanku, riak air sungai pun ikut terdengar parau seolah merasakan kesedihanku yang teramat sangat. Namun aku sudah membulatkan tekadku, diizinkan atau tidak oleh Khumairoh, besok pagi-pagi sekali aku tetap akan pergi merantau bersama pamanku. “Semangat…!!!”, aku mencoba memotivasi diri.
____<<<>>>____
Tidak ada komentar:
Posting Komentar