____<<<>>>____
Hari telah memasuki petang, matahari sudah nampak memerah, menyemburatkan kemilau jingga cahayanya, redup dan menyejukkan, dusunku mulai sepi dari aktifitas keseharian mereka. Petang itu, aku baru sampai di rumah, di dalam rumah, sanak saudaraku sudah hadir semua, termasuk nenekku, mereka mengucapkan selamat atas apa yang telah aku lakukan. Nenekku awalnya dengan wajah dan nada marah mencoba mengomeliku, ternyata itu hanya candaan nenekku saja. Ternyata tua-tua juga suka bercanda juga.
Kami merayakannya dengan memanggil pak kiyai untuk mendoakan kami semua agar selamat dari bala dan bahaya yang selalu mengintai, kami bersama warga kampung lainnya yang kami undang mengadakan selamatan atas pencapaian dan penghargaan yang telah aku terima dari department kepolisian. Aku sangat senang dan bahagia, selain diriku selamat dari kejahatan, aku juga telah membuat dusun kami aman, tentram, damai dan sentosa seperti sedia kala tanpa ada gangguan dari para preman.
Aku selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt kepada diriku, dan aku berjanji tidak akan keras kepala lagi, aku akan menjadi anak yang patuh dan nurut kepada orang tuaku terutama kepada nenekku tercinta. Aku akan mengubah sikap dan perilakuku dari anak yang semau gue menjadi anak yang taat dan penurut. Peristiwa ini akan aku jadikan sebagai pengalamanku yang sangat berharga, dan sampai kapanpun aku tidak akan melupakan peristiwa ini.
Menjelang malam, warga dusun kembali ke rumah masing-masing untuk istirahat dan melepas lelah kami semua akibat ketegangan yang pernah kami alami. Aku pun kembali ke kamarku, aku rebahkan tubuhku di atas ranjangku, lelah dan kantuk menyelimutiku, tanpa aku sadari aku sudah berada di alam yang sama sekali tidak aku kenal. Ternyata alam itu adalah alam mimpi, alam yang sangat indah, seperti di syurga, harum semerbak bunga-bunga meliputi seluruh penjuru, tak ingin rasanya aku bangun dari mimpi itu. Dengan kedamaian yang telah kami miliki di dusun kami, kami beraktifias secara normal kembali seperti sebelum peristiwa mencekam itu.
___TAMAT___
Karya: Telaga Warna
HIKMAH:
Hikmah dari kisah terebut di atas adalah apabila kita mengamalkan sesuatu secara terus-menerus, kontinyu, istiqomah, tanpa henti, misalnya mengamalkan atau mewiridkan ayat kursi, maka kita akan diberikan kelebihan oleh Allah swt., entah apa kelebihannya, namun yang jelas Allah akan membalas setiap perbuatan baik seseorang. Allah akan membalas perbauatan baik seseorang walaupun perbuatan baik tersebut sebiji zarrah (sebiji sawi), dan Allah akan membalas setiap perbuatan jahat walaupun perbuatan jahat tersebut sebiji zarrah (sebiji sawi).
“Man Jadda Wajadda” barang siapa yang bersungguh-sungguh dalam melakukan hal, maka Allah akan memberikan hasil yang terbaik dari kesungguhan usaha kita. Oleh karena itu, jangan pernah menyerah, lakukan apa yang kita inginkan atau kita cita-citakan dengan sungguh-sungguh. Do’a, Usaha (Ikhtiar), kerja keras, sabar dan tawakkal adalah jalan yang benar untuk meraih cita-cita sesuai tuntunan islam. Apabila melenceng, maka kita akan terbawa kepada arus kesesatan dan tenggelam dalam bara api neraka yang amat pedih.
Sehebat apapun kita mempertahankan keburukan atau kejahatan, maka tetap saja Allah akan menghancurkan kejahatan tersebut dengan tangan-tangan yang Allah tentukan sendiri jalannya. Tetaplah selalu di jalan Allah, jalan lurus yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, agar kita menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat. Jalan yang lurus ialah jalan orang-orang yang telah mendapatkan nikmat dari Allah swt. Sedangkan jalan yang tidak lurus adalah jalan orang-orang telah mendapatkan siksa dari Allah swt yang amat memilukan.
Penulis berharap, kisah yang penulis buat ini penuh dengan hikmah, sehingga kita dapat memetik pelajaran dan mengambil hikmah dari kisah yang aku tulis ini. Tulisan ini jauh dari kata sempurna, jauh dari keinginan pembancanya, oleh karena itu, penulis mohon kritik dan saran yang mebangun agar penulis lebih terinspirasi untuk membuat sebuah cerita yang lebih indah, lebih baik, dan lebih greget lagi dibacanya. Akhirul kalam, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya, seluas-luasnya, wa’afu mingkum. Wasslamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Karya: Telaga Warna
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, ....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar