SIRNA DALAM CINTA
Oleh: Telaga Warna
Di dalam hati Om
Roji, Om Roji bertanya-tanya, gerangan ada masalah apa sehingga tidak bisa
pamanku ungkapkan kepada sahatbnya sendiri, pertanyaan-pertanyaan itu seketika
sirna manakala kondektur bus mulai mengumumkan bahwa bus yang paman dan
sahabatnya itu akan memulai perjalannya kembali menuju ke kota tujuan paman dan
sahabatnya. Walau pun hati Om Roji penuh tanda tanya, namun segera ia urungkan
pertanyaan-pertanyaan itu, dan kembali menyeruput sisa-sisa kopi hitamnya dan
segera mengisap habis rokoknya. Sedangkan pamanku segera membereskan sisa-sisa
bekalnya dan menyeruput sisa-sisa kopi hitamnya seraya bergegas menuju bus yang
tadi ia tumpangi bersama sahabtnya, namun tetap dengan kesedihan yang mendalam
terpampang di wajah pamanku.
Bus itu mulai
melanju dan keluar dari rest area menuju jalan bebas hambatan yang biasa
bus-bus lalui, suasana bus seperti mengikuti suasana pamanku, mello sendu dan
penuh kesedihan, karena tak ada secuil pun suara terdengar dari masing-masing
kursi yang ditempati oleh penumpang masing-masing. Rupanya sehabis mereka
beristirahat, makan, sholat dan meneguk minumannya mereka kekenyangan dan
tertidur di kursinya masing-masing. Suasana hening itu tidak ingin Om Roji
pecahkan dengan rasa penasarannya untuk terus bertanya tentang peristiwa yang
menimpa pamanku, dan akhirnya Om Roji berpikir untuk menundanya hingga sampai
pada tujuannya yaitu Ibu Kota, dan tanpa disadari Om Roji mulai terlelap di
atas kurisnya, sedangkan pamanku tidak bisa memejamkan matanya.
Bus yang mereka
tumpangi melaju dengan santai, ini membuat para penumpang terlena dalam lelap
mereka, masing-masing dari penumpang melambungkan impiannya, tanpa mereka
sadari bus yang mereka tumpangi telah sampai pada tujuan akhirnya, yaitu ibu
kota. Seketika mereka yang masih terlelap dalam mimpinya tersontak kaget
manakala kondektur bus mengumumkannya dengan pengeras suara.
“Pengumuman-pengumuman, bus sudah sampai pada tujuan akhirnya, oleh karena itu
kepada seluruh penumpang dimohon untuk segera turun dari bus ini”, suara
kondektur bus dengan jelas mengumumkannya. Pamanku dan Om Roji juga ikut
terkejut dengan pengumuman tersebut, karena ternyata mereka juga terlelap dalam
perjalanan mereka, mereka tidak menikmati pemandangan sepanjang jalan mereka.
Hari sudah
menunjukkan pukul tiga sore, dan sebentar lagi akan berkumandang adzan ashar,
pamanku dan Om Roji singgah di musholla terminal tersebut untuk sejenak melepas
lelah sekaligus melaksanakan sholat ashar berjamaah, untuk kemudian melanjutkan
perjalanan mereka. Ternyata tempat mereka merantau masih jauh dari terminal bus
tersebut, sehingga masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuju kota
tujuan mereka. “Ton, kita istirahat sejenak di musholla ini ya, sambil menunggu
waktu ashar, sekaligus kita sholat ashar berjamaah dulu di sini”, Om Roji
mencoba membuka kembali percakapan yang sempat terhenti di rest area itu. “Iya
Ji, saya juga mau berdo’a agar diberi ketenangan dan keteguhan hati dalam
perantauan ini, karena aku mempunyai masalah yang cukup pelik dengan
kekasihku”, pamanku mengiyakan seraya memberikan sedikit alasan yang logis
kepada Om Roji.
Sedikit demi
sedikit pamanku mulai terbuka kepada sahabatnya itu, dia mulai membuka mulut,
hati dan pikirannya serta menceritakan segala apa yang telah pamanku alami
malam tadi antara kekasih dan kedua orang tua kekasihnya. Bahwa kedua orang tua
kekasihnya tidak menyetujui atas hubungannya dengan dirinya dan kedua orang
tuanya berharap lelaki yang lebih baik dari pamanku. Justru hal itulah yang
membuat pamanku semakin kuat untuk merantau demi menjadi orang sukses dan
membuktikannya kepada kedua orang tua kekasihnya kelak setelah pulang dari
perantauan. Dengan penjelasan tersebut Om Roji semakin tenang dan mantap untuk
mengajak sahabatnya merantau bersama dirinya, karena Om Roji sangat khawatir
dengan kondisi sahabatnya yang sedari berangkat tadi diam seribu bahasa.
Selesai sholat
ashar, mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat menaiki bus tujuan selanjutnya,
tujuan selanjutnya adalah Ibu Kota bagian utara, sementara tempat pemberhentian
sementara itu adalah terminal bagian selatan Ibu Kota. Bus sudah siap meluncur
dan kedua perantau itu memasuki bus dan duduk santai di satu barisan bangku dan
bercengkrama seperti baru kenal saja setelah pamanku terbuka dengan kondisinya
sekarang ini. “Nah, begitu don Ton, jadikan kita enak ngobrol di bus ini, tidak
seperti di bus yang tadi, kamu diam seribu bahasa, tidak enak jadinya aku mau
ngajakin kamu ngobrol dalam kondisi seperti itu”, Om Roji mencoba menggoda
pamanku. “Oh iya Roj, di sana katanya kita akan ikut ke tempat tinggal paman
kamu ya?, nanti ngerepotin tidak ya
Roj?, secara kondisi paman kamu kan di sana kurang baik perekonomiannya?”,
pamanku sedikit khawatir dengan keadaan paman Om Roji ditambah dengan mereka
berdua.
Apa lagi Om Roji
pernah bercerita tentang keadaan paman Om Roji di Ibu Kota yang kurang baik
nasibnya, penikahan paman Om Roji dengan istrinya tidak direstui oleh kedua
pihak, baik dari keluarga paman Om Roji, maupun pihak istri paman Om Roji. Dan
itu membuat perasaan pamanku ikut sedih, apalagi dengan kondisi bahwa kedua
orang tua kekasih pamanku yang sudah ia dengar sendiri dengan telinga sendiri
ketidaksetujuan mereka dengan pamanku yang mempunyai masa depan yang suram.
Jangan-jangan kejadian yang dialami oleh paman Om Roji juga menimpa pamanku,
jika memaksa menikah tanpa restu dari kedua orang tua masing-masing akan
seperti itu juga nasibnya. Dengan tekad yang kuat, pamanku merantau demi meraih
cita-citanya agar nasibnya tidak seperti paman Om Roji dan bibinya yang hidup
terlunta-lunta dan tidak aku sebagai keluarga dari masing-masing keluarganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar