DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Minggu, 05 April 2020

Sirna Dalam Cinta (Bagian 13)


SIRNA DALAM CINTA

Oleh: Telaga Warna

Di dalam hati Om Roji, Om Roji bertanya-tanya, gerangan ada masalah apa sehingga tidak bisa pamanku ungkapkan kepada sahatbnya sendiri, pertanyaan-pertanyaan itu seketika sirna manakala kondektur bus mulai mengumumkan bahwa bus yang paman dan sahabatnya itu akan memulai perjalannya kembali menuju ke kota tujuan paman dan sahabatnya. Walau pun hati Om Roji penuh tanda tanya, namun segera ia urungkan pertanyaan-pertanyaan itu, dan kembali menyeruput sisa-sisa kopi hitamnya dan segera mengisap habis rokoknya. Sedangkan pamanku segera membereskan sisa-sisa bekalnya dan menyeruput sisa-sisa kopi hitamnya seraya bergegas menuju bus yang tadi ia tumpangi bersama sahabtnya, namun tetap dengan kesedihan yang mendalam terpampang di wajah pamanku.

Bus itu mulai melanju dan keluar dari rest area menuju jalan bebas hambatan yang biasa bus-bus lalui, suasana bus seperti mengikuti suasana pamanku, mello sendu dan penuh kesedihan, karena tak ada secuil pun suara terdengar dari masing-masing kursi yang ditempati oleh penumpang masing-masing. Rupanya sehabis mereka beristirahat, makan, sholat dan meneguk minumannya mereka kekenyangan dan tertidur di kursinya masing-masing. Suasana hening itu tidak ingin Om Roji pecahkan dengan rasa penasarannya untuk terus bertanya tentang peristiwa yang menimpa pamanku, dan akhirnya Om Roji berpikir untuk menundanya hingga sampai pada tujuannya yaitu Ibu Kota, dan tanpa disadari Om Roji mulai terlelap di atas kurisnya, sedangkan pamanku tidak bisa memejamkan matanya.

Bus yang mereka tumpangi melaju dengan santai, ini membuat para penumpang terlena dalam lelap mereka, masing-masing dari penumpang melambungkan impiannya, tanpa mereka sadari bus yang mereka tumpangi telah sampai pada tujuan akhirnya, yaitu ibu kota. Seketika mereka yang masih terlelap dalam mimpinya tersontak kaget manakala kondektur bus mengumumkannya dengan pengeras suara. “Pengumuman-pengumuman, bus sudah sampai pada tujuan akhirnya, oleh karena itu kepada seluruh penumpang dimohon untuk segera turun dari bus ini”, suara kondektur bus dengan jelas mengumumkannya. Pamanku dan Om Roji juga ikut terkejut dengan pengumuman tersebut, karena ternyata mereka juga terlelap dalam perjalanan mereka, mereka tidak menikmati pemandangan sepanjang jalan mereka.

Hari sudah menunjukkan pukul tiga sore, dan sebentar lagi akan berkumandang adzan ashar, pamanku dan Om Roji singgah di musholla terminal tersebut untuk sejenak melepas lelah sekaligus melaksanakan sholat ashar berjamaah, untuk kemudian melanjutkan perjalanan mereka. Ternyata tempat mereka merantau masih jauh dari terminal bus tersebut, sehingga masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuju kota tujuan mereka. “Ton, kita istirahat sejenak di musholla ini ya, sambil menunggu waktu ashar, sekaligus kita sholat ashar berjamaah dulu di sini”, Om Roji mencoba membuka kembali percakapan yang sempat terhenti di rest area itu. “Iya Ji, saya juga mau berdo’a agar diberi ketenangan dan keteguhan hati dalam perantauan ini, karena aku mempunyai masalah yang cukup pelik dengan kekasihku”, pamanku mengiyakan seraya memberikan sedikit alasan yang logis kepada Om Roji.

Sedikit demi sedikit pamanku mulai terbuka kepada sahabatnya itu, dia mulai membuka mulut, hati dan pikirannya serta menceritakan segala apa yang telah pamanku alami malam tadi antara kekasih dan kedua orang tua kekasihnya. Bahwa kedua orang tua kekasihnya tidak menyetujui atas hubungannya dengan dirinya dan kedua orang tuanya berharap lelaki yang lebih baik dari pamanku. Justru hal itulah yang membuat pamanku semakin kuat untuk merantau demi menjadi orang sukses dan membuktikannya kepada kedua orang tua kekasihnya kelak setelah pulang dari perantauan. Dengan penjelasan tersebut Om Roji semakin tenang dan mantap untuk mengajak sahabatnya merantau bersama dirinya, karena Om Roji sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya yang sedari berangkat tadi diam seribu bahasa.

Selesai sholat ashar, mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat menaiki bus tujuan selanjutnya, tujuan selanjutnya adalah Ibu Kota bagian utara, sementara tempat pemberhentian sementara itu adalah terminal bagian selatan Ibu Kota. Bus sudah siap meluncur dan kedua perantau itu memasuki bus dan duduk santai di satu barisan bangku dan bercengkrama seperti baru kenal saja setelah pamanku terbuka dengan kondisinya sekarang ini. “Nah, begitu don Ton, jadikan kita enak ngobrol di bus ini, tidak seperti di bus yang tadi, kamu diam seribu bahasa, tidak enak jadinya aku mau ngajakin kamu ngobrol dalam kondisi seperti itu”, Om Roji mencoba menggoda pamanku. “Oh iya Roj, di sana katanya kita akan ikut ke tempat tinggal paman kamu ya?, nanti ngerepotin tidak  ya Roj?, secara kondisi paman kamu kan di sana kurang baik perekonomiannya?”, pamanku sedikit khawatir dengan keadaan paman Om Roji ditambah dengan mereka berdua.

Apa lagi Om Roji pernah bercerita tentang keadaan paman Om Roji di Ibu Kota yang kurang baik nasibnya, penikahan paman Om Roji dengan istrinya tidak direstui oleh kedua pihak, baik dari keluarga paman Om Roji, maupun pihak istri paman Om Roji. Dan itu membuat perasaan pamanku ikut sedih, apalagi dengan kondisi bahwa kedua orang tua kekasih pamanku yang sudah ia dengar sendiri dengan telinga sendiri ketidaksetujuan mereka dengan pamanku yang mempunyai masa depan yang suram. Jangan-jangan kejadian yang dialami oleh paman Om Roji juga menimpa pamanku, jika memaksa menikah tanpa restu dari kedua orang tua masing-masing akan seperti itu juga nasibnya. Dengan tekad yang kuat, pamanku merantau demi meraih cita-citanya agar nasibnya tidak seperti paman Om Roji dan bibinya yang hidup terlunta-lunta dan tidak aku sebagai keluarga dari masing-masing keluarganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar