SIRNA DALAM CINTA
Oleh: Telaga Warna
Oleh karena itu
pamanku menyiapkan banar-benar bekal yang cukup baik secara materi, mental
maupun fisiknya, karena pamanku tahu hidup di ibukota tidak sedamain hidup di
dusunnya yang selalu memegang teguh gotong royong dan informasi itu pamanku
peroleh dari orang-orang yang lebih dahulu merantau di ibukota tersebut. Ketika
pamanku dan Om Roji sudah berencana untuk tekad pergi merantau setahun lalu,
mereka berdua bekerja mengumpulkan uang untuk bekal di ibukota dan juga
berlatih ilmu kanuragan untuk menghadapi orang-orang yang akan mungkin
ditemuinya adalah orang yang tidak suka dan bahkan akan mencelakakan mereka
berdua. Pamanku melatih ilmu kanuragannya dengan serius selama satu tahun itu
dan menyempurnakannya bersama ayahku dahulu ketika ayahku masih hidup dari
kakekku dan ilmu kanuragan ini adalah ilmu kanuragan yang diturunkan secara
turun-temurun dari kakek buyut ayahku sampai kepada aku.
Sambil mendalami
ilmu kanuragan, pamanku bekerja keras untuk mengumpulkan pundi-pundi uang demi
bekalnya kelak di ibukota, begitu pula dengan Om Roji, selain mengumpulkan
receh untuk bekalnya merantau Om Roji juga menyelesaikan kanuragannya langsung
dari kakek Om Roji sendiri, karena kebetulan pada waktu itu kakek Om Roji Masih
hidup. Sedangkan ayah dan pamanku melatih kanuragannya dari kakekku, ayah dan
pamanku dalam berlatih saling melengkapi dan saling menyempurnakannya, pamanku
orangnya cerdas sehingga selalu saja dapat mengimbangi ayahku dalam
jurus-jurusnya. Dan bersama ayahku pamanku dapat menyempurnakan jurus warisan
keluarga kami secara turun temurun itu, keluarga kami bersama keluarga Om Roji
memang selalu bersahabat semenjak dahulu dan bahkan ada yang dijodohkan
sehingga keluarga kami sudah seperti keluarga saja.
Konon, kakek
buyut kami dengan kakek buyut Om Roji selalu adu tanding ilmu kanuragan,
keadaannya sama persis seperti ayah dan pamanku, saling melengkapi dan saling
menyempurnakan, makanya dusun kami dari dahulu kala aman dari gangguan
perampok, maling dan pengganggu lainnya karena kakek buyutku dengan kakek buyut
Om Roji saling mengamankan satu sama lain. Bahkan, konon banyak murid-murid
kakek buyut kami yang membela kerajaan dan menjadi panglima dan senopati di
kerajaan-kerajaan besar di nusantara karena terkenal dengan jurusnya yang
sangat hebat dan sangat sulit dicari tandingannya, apalagi yang kanuragannya
telah sempurna, dan diangkat menjadi panglima perang kerajaan karena
pengabdiannya dalam mengamankan kerajaan dari serang kerajaan lain yang ingin
menguasainya.
Tanpa terasa,
obrolan mereka berdua sekejap hening, manakalah kondektur bus mengumumkan bahwa
bus yang mereka mereka tumpangi sudah sampai pada tujuannya yaitu terminal
ibukota bagian utara, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 20.05 WIB dan
pamanku serta Om Roji langsung turun dan mencari kedai untuk mengisi perut
mereka sekalian mampir di musholla terdekat di terminal itu. Ketika mereka
sedang asik menyantap makanannya, rupanya ada beberapa pasang mata yang sedang
mengawasi mereka, dari gerak-gerik mereka, mereka bukan orang baik, mereka
dapat mengetahuinya karena punya pengalaman tentang semua itu dari pelatihan
mereka berdua dalam memahami ilmu kanuragan mereka di dusun mereka, tapi mereka
berdua pura-pura tidak tahu dan melanjutkan santap malamnya dan kemudian menuju
musholla terdekat untuk sholat maghrib dan sholat isya.
____<<<>>>____
“Tok, tok, tok,
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh, tok tok, tok” Om Roji mengetuk
pintu pamannya seraya mengetuk pintu rumah kontrakan sangat sederhana tersebut.
“Walaikum salam warohmatullohi wabarokatuh”, tidak berapa lama jawaban salam
menyahut dari dalam rumah seraya pintu terbuka, dan yang membuka pintu rumah
tersebut ternyata pamannya Om Roji. “Eh, kamu Ji, paman kira kamu tidak jadi ke
sini, soalnya dari tadi paman nungguin kamu tapi tidak muncul”, pamanku mencoba
menjelaskannya dengan singkat. “Lho, paman tahu dari mana bahwa saya akan ke
rumah paman, Roji kan tidak memberi kabar ke paman bahwa Roji mau ke sini”, Om
Roji sedikit terkejut manakala pamannya mengatakan hal tersebut. “Upsss… maaf,
paman keceplosan, habisnya pama khawatir, soalnya tadi siang ibu kamu nelpon,
sekalian mau nitipin kamu di sini”, ujar paman Om Roji.
Dari dalam rumah
muncul sesosok wanita paruh baya, rambutnya diikat ke belakang dengan rambut
yang sudah sebagian beruban, dialah istri paman Om Roji, yang kemudian
mempersilakan kami masuk dan duduk di bangku yang sudah tua dan usang. “Maaf ya
dik tempat bibi sempit dan berantakan, jadi ya seperti inilah keadaan dan
kondisi pamanmu ini Ji, kok baru sampai tengah malam begini, seharusnya sekitar
pukul sembilan tadi sudah sampai paling lambat, dan itupun kalau terjebak
macet”, tutur bibi Om Roji dengan penuh basa basi. “Iya bi, seharusnya pukul
21:30 wib kurang lebih sudah sampai, tapi ada sedikit kendala jadi kemalaman sampainya,
perjalanan kami sih lancar-lancar saja cuma ada sedikit masalah sama ini
sahabatku, jadi hampir ketinggalan bus umum”, Om Roji sedikit menjelaskan.
“Yasudah, kalian istirahat saja dulu ya, besok saja ngobrol-ngobrolnya
dilanjutkan, sudah tengah malam, sudah ngantuk paman sama bibimu ini”, ujar
pamanku sambil menguap menahan kantuknya.
Sementara itu
paman Om Roji memberikan selembar tikar dan beberapa bantal, serta beberapa
potong selimut untuk sekedar kami istirahat malam ini, agar tidak merasa kedinginan,
namun mereka bukannya langsung istirahat malah masih mengobrol, hingga azan
subuh berkumandang dari musholla terdekat di kontrakan paman Om Roji. Mereka
berdua akhirnya pergi ke musholla untuk melaksanakan sholat subuh berjama’ah,
namun pamanku dan Om Roji tidak langsung kembali ke kontrakan paman Om Roji
sehabis sholat subuh berjama’ah itu. Mereka berdua duduk santai di teras
musholla sambil ngobrol ngalor ngidul, sampai akhirnya ustadz di musholla
tersebut yang menjadi imam sholat subuh tadi keluar dan menyapa mereka berdua.
“Assalamu’laikum warohmatullohi wabarokatuh”, pak ustadz mengucapkan salam
kepada pamanku dan Om Roji, dan mereka berdua pun membalas salam pak ustad
sambil bersalam kedua kepada pak ustad, “Walaikum salam warohmatullohi wabarokatuh,
eh paks ustad”, dengan sedikit basa-basi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar