DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Selasa, 07 April 2020

Sirna Dalam Cinta (Bagian 14)


SIRNA DALAM CINTA

Oleh: Telaga Warna


Oleh karena itu pamanku menyiapkan banar-benar bekal yang cukup baik secara materi, mental maupun fisiknya, karena pamanku tahu hidup di ibukota tidak sedamain hidup di dusunnya yang selalu memegang teguh gotong royong dan informasi itu pamanku peroleh dari orang-orang yang lebih dahulu merantau di ibukota tersebut. Ketika pamanku dan Om Roji sudah berencana untuk tekad pergi merantau setahun lalu, mereka berdua bekerja mengumpulkan uang untuk bekal di ibukota dan juga berlatih ilmu kanuragan untuk menghadapi orang-orang yang akan mungkin ditemuinya adalah orang yang tidak suka dan bahkan akan mencelakakan mereka berdua. Pamanku melatih ilmu kanuragannya dengan serius selama satu tahun itu dan menyempurnakannya bersama ayahku dahulu ketika ayahku masih hidup dari kakekku dan ilmu kanuragan ini adalah ilmu kanuragan yang diturunkan secara turun-temurun dari kakek buyut ayahku sampai kepada aku.

Sambil mendalami ilmu kanuragan, pamanku bekerja keras untuk mengumpulkan pundi-pundi uang demi bekalnya kelak di ibukota, begitu pula dengan Om Roji, selain mengumpulkan receh untuk bekalnya merantau Om Roji juga menyelesaikan kanuragannya langsung dari kakek Om Roji sendiri, karena kebetulan pada waktu itu kakek Om Roji Masih hidup. Sedangkan ayah dan pamanku melatih kanuragannya dari kakekku, ayah dan pamanku dalam berlatih saling melengkapi dan saling menyempurnakannya, pamanku orangnya cerdas sehingga selalu saja dapat mengimbangi ayahku dalam jurus-jurusnya. Dan bersama ayahku pamanku dapat menyempurnakan jurus warisan keluarga kami secara turun temurun itu, keluarga kami bersama keluarga Om Roji memang selalu bersahabat semenjak dahulu dan bahkan ada yang dijodohkan sehingga keluarga kami sudah seperti keluarga saja.

Konon, kakek buyut kami dengan kakek buyut Om Roji selalu adu tanding ilmu kanuragan, keadaannya sama persis seperti ayah dan pamanku, saling melengkapi dan saling menyempurnakan, makanya dusun kami dari dahulu kala aman dari gangguan perampok, maling dan pengganggu lainnya karena kakek buyutku dengan kakek buyut Om Roji saling mengamankan satu sama lain. Bahkan, konon banyak murid-murid kakek buyut kami yang membela kerajaan dan menjadi panglima dan senopati di kerajaan-kerajaan besar di nusantara karena terkenal dengan jurusnya yang sangat hebat dan sangat sulit dicari tandingannya, apalagi yang kanuragannya telah sempurna, dan diangkat menjadi panglima perang kerajaan karena pengabdiannya dalam mengamankan kerajaan dari serang kerajaan lain yang ingin menguasainya.

Tanpa terasa, obrolan mereka berdua sekejap hening, manakalah kondektur bus mengumumkan bahwa bus yang mereka mereka tumpangi sudah sampai pada tujuannya yaitu terminal ibukota bagian utara, sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 20.05 WIB dan pamanku serta Om Roji langsung turun dan mencari kedai untuk mengisi perut mereka sekalian mampir di musholla terdekat di terminal itu. Ketika mereka sedang asik menyantap makanannya, rupanya ada beberapa pasang mata yang sedang mengawasi mereka, dari gerak-gerik mereka, mereka bukan orang baik, mereka dapat mengetahuinya karena punya pengalaman tentang semua itu dari pelatihan mereka berdua dalam memahami ilmu kanuragan mereka di dusun mereka, tapi mereka berdua pura-pura tidak tahu dan melanjutkan santap malamnya dan kemudian menuju musholla terdekat untuk sholat maghrib dan sholat isya.

____<<<>>>____
“Tok, tok, tok, Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh, tok tok, tok” Om Roji mengetuk pintu pamannya seraya mengetuk pintu rumah kontrakan sangat sederhana tersebut. “Walaikum salam warohmatullohi wabarokatuh”, tidak berapa lama jawaban salam menyahut dari dalam rumah seraya pintu terbuka, dan yang membuka pintu rumah tersebut ternyata pamannya Om Roji. “Eh, kamu Ji, paman kira kamu tidak jadi ke sini, soalnya dari tadi paman nungguin kamu tapi tidak muncul”, pamanku mencoba menjelaskannya dengan singkat. “Lho, paman tahu dari mana bahwa saya akan ke rumah paman, Roji kan tidak memberi kabar ke paman bahwa Roji mau ke sini”, Om Roji sedikit terkejut manakala pamannya mengatakan hal tersebut. “Upsss… maaf, paman keceplosan, habisnya pama khawatir, soalnya tadi siang ibu kamu nelpon, sekalian mau nitipin kamu di sini”, ujar paman Om Roji.

Dari dalam rumah muncul sesosok wanita paruh baya, rambutnya diikat ke belakang dengan rambut yang sudah sebagian beruban, dialah istri paman Om Roji, yang kemudian mempersilakan kami masuk dan duduk di bangku yang sudah tua dan usang. “Maaf ya dik tempat bibi sempit dan berantakan, jadi ya seperti inilah keadaan dan kondisi pamanmu ini Ji, kok baru sampai tengah malam begini, seharusnya sekitar pukul sembilan tadi sudah sampai paling lambat, dan itupun kalau terjebak macet”, tutur bibi Om Roji dengan penuh basa basi. “Iya bi, seharusnya pukul 21:30 wib kurang lebih sudah sampai, tapi ada sedikit kendala jadi kemalaman sampainya, perjalanan kami sih lancar-lancar saja cuma ada sedikit masalah sama ini sahabatku, jadi hampir ketinggalan bus umum”, Om Roji sedikit menjelaskan. “Yasudah, kalian istirahat saja dulu ya, besok saja ngobrol-ngobrolnya dilanjutkan, sudah tengah malam, sudah ngantuk paman sama bibimu ini”, ujar pamanku sambil menguap menahan kantuknya.

Sementara itu paman Om Roji memberikan selembar tikar dan beberapa bantal, serta beberapa potong selimut untuk sekedar kami istirahat malam ini, agar tidak merasa kedinginan, namun mereka bukannya langsung istirahat malah masih mengobrol, hingga azan subuh berkumandang dari musholla terdekat di kontrakan paman Om Roji. Mereka berdua akhirnya pergi ke musholla untuk melaksanakan sholat subuh berjama’ah, namun pamanku dan Om Roji tidak langsung kembali ke kontrakan paman Om Roji sehabis sholat subuh berjama’ah itu. Mereka berdua duduk santai di teras musholla sambil ngobrol ngalor ngidul, sampai akhirnya ustadz di musholla tersebut yang menjadi imam sholat subuh tadi keluar dan menyapa mereka berdua. “Assalamu’laikum warohmatullohi wabarokatuh”, pak ustadz mengucapkan salam kepada pamanku dan Om Roji, dan mereka berdua pun membalas salam pak ustad sambil bersalam kedua kepada pak ustad, “Walaikum salam warohmatullohi wabarokatuh, eh paks ustad”, dengan sedikit basa-basi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar