DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Selasa, 21 April 2020

Scripts Film Pendek Anak Sholeh Versus Orang Tua



Percakapan Film Pendek Anak Sholeh Versus Orang Tua


Part. 1 (Satu)
Malam Hari
Sebuah rumah yang sederhana diterangi lampu 10 watt di bagian terasnya
Dengan pagar kawat berjeriji
Beberapa pot bunga dan tanaman sederhana berjejer

Dalam ruang tamu diterangi lampu yang cukup terang
Tak ada kursi tamu, hanya tikar sederhana dan dilapisi oleh karpet yang juga sederhana
Di tengah-tengah karpet terdapat beberapa gelas air mineral yang disimpan di tatakan yang terbuat kawat yang keras dan beberapa toples makanan kering.

Di atas karpet duduk bersila seorang kiyai yang cukup ternama
Dengan sorban yang belingkar di leher dan punggung serta di antara kedua bahunya
Mulut berkumat kamit melafalkan lafadz-lafadz zikir
Kepalanya mengenakan sorban yang diikatkan di kepala
Mengenakan pakaian seperti pakaian jubbah khas orang arab
Berjenggot sepanjang kurang lebih 10 cm yang sudah memutih
Tangannya memutar tasbihnya

Sepasang suami istri bertamu kepada sang ulama tersebut untuk meminta beberapa nasihat
Terdengar suara kendaraan bermotor berhenti di depan rumah sang kiyai
Waktu ba’da isya sekitar pukul 20:30 WIB

Beberapa saat kemudian suara pintu diketuk dari luar “tok-tok”,
Bersamaan itu suara salam terdengar dari luar balik pintu.
Suami    : “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”
Dari dalam rumah terdengar suara balasan salam dan dilanjutkan dengan perintah untuk membuka pintu dan mempersilakan masuk tamu tersebut.
Ulama   : “Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh, silakan masuk, pintu tidak dikunci”
Pintu terbuka seraya sepasang suami istri dengan wajah lelah yang nampak di raut muka mereka berdua masuk ke dalam ruang tamu dan mengatakan beberapa kata sebagai bentuk sopan santun dan segera bersalaman dengan mencium tangan sang ulama.
Suami    : “Assalamu’laikum Pak Kiyai”
Ulama menjawab salam dan mempersilakan kepada sepasang suami istri tersebut untuk duduk seraya mengambilkan minuman kemasan dan menyuguhkannya kepada kedua tamunya.
Ulama   : “Wa’alaikumsalam, silakan duduk bapak dan ibu”
Kedua tamu duduk di hadapan ulama tersebut, kemudian sang ulama mempersilakan kepada kedua tamunya untuk menum dan mencicipi kue kering yang ada di hadapan mereka sambil tersenyum lembut dengan beberapa kata-kata basa basi.
Ulama   : “Silakan diminum dulu, barangkali haus dari perjalanan jauh, dan cicipi juga kue keringnya, hanya ini yang dapat kami suguhkan, hehehe…”
Sambil tersenyum malu-malu sepasang suami istri langsung menerima minuman dan menyedotnya seprti seorang yang khaus sehabis dalam perjalanan jauh, serta mengucapkan terima kasih dan juga mencicipi beberapa potong kue kering yang ada di hadapan mereka seraya mengucapkan kata terima kasih dan beberapa kata sebagai kata basa basi.
Suami    : “Maaf Pak Kiyai Terimakasih, jadi merepotkan Pak Kiyai”
Sang ulama menanggapinya dengan enteng dan santai sambil diiringi sedikit canda sebagai pemecah suasana. Karena biasanya tamu yang datang kepada sang ulama begitu sungkan dan canggung karena kharismanya sang ulama yang sangat luarbiasa.
Ulama   : “Ah tidak merepotkan juga, sudah tersedia di antara kita, lagian ini semua yang mempersiapkannya kan istriku tercinta, hehehe…” (Sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih)
Sang ulama tanpa basa-basi lagi menanyakan gerangan apa tujuan mereka berdua bertamu ke rumahnya dengan pertanyaan yang tegas namun lembut.
Ulama   : “Gerangan dari jauh datang bertamu/mampir ke sini ada keperluan apa?”
Di wajah sepasang suami istri nampak dengan wajah keheranan, sang ulama sudah benar-benar dapat membaca kondisi mereka berdua dan mereka hanya bisa saling berbisik.
Suami    : “Kok tahu ya kita dari jauh?” (dengan tangan menutup mulut atau bibir)
Istri        : “Iya ya kang, sstt… jangan ribut” (dengan jari menyilang di bibir sebagai isyarat untuk diam)
Ulama   : “Lho… tidak sopan lho.. bisik-bisik tetangga, hehehe…! Sudah jelas kok, tampak dari raut wajah kalian, raut waja lelah dari perjalanan jauh, dan juga ketika saya menawari air minum dan beberapa potong kue tadi, bapak dan ibu langsung menenggak dan melahapnya, hehehe…”
Wajah sepasang suami istri tersipu malu manakala sang ulama menegur ketidaksopanan mereka karena berbisik di depan sang ulama.
Suami   : “Maaf Pak Kiyai, kami jadi tidak sopan berbisik-bisik di depan Pak Kiyai, kami mohon maaf sama Pak Kiyai, sekali lagi kami  mohon maaf” (Dengan mulut menyeringai)
Ulama   : “Iya, tidak apa-apa, itu manusiawi, tidak bertanya langsung malah saling berbisik.”
Akhirnya sang suami menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka berdua kepada sang ulama.
Suami   : “Begini Pak Kiyai, maksud dan tujuan kedatangan kami jauh-jauh ke sini yaitu mau minta petunjuk dan nasihat atas apa yang sedang kami alami Pak Kiyai dan saya tahu tentang Pak Kiyai dari tetangga saya yang pernah juga minta petunjuk ke sini kepada Pak Kiyai”
Sang ulama mengangguk-anggukkan kepala seraya mengelus-elus jenggotnya yang hanya beberapa helai itu tanda bahwa apa yang disampaikan oleh tamunya tersebut sudah ia pahami.
Ulama   : “Oh, begitu ya? InsyaAllah saya akan bantu sesuai dengan kemampuan saya” (dengan penuh kerendahan hati)
Suami   : “Begini Pak Kiyai, kami terhimpit hutang, awalnya kami hanya ingin mengubah nasib agar menjadi orang yang sukses, alih-alih usaha kami maju dan sukses, malah kami terjebak oleh hutang Pak Kiyai” (dengan nada penuh pengharapan)
Ulama   : “Seperti itu ya permasalahan bapak dan ibu, Insya Allah, Insya Allah, saya permisi ke kamar sebentar ya, kalian tunggu dan ngobrol saja dulu” (seraya berlalu dari hadapan sepasang suami istri, masuk ke dalam kamar setelah paham tentang permasalahan yang sedang dialami sepasang suami istri tersebut)
Sepasang suami istri tersebut akhirnya mulai kembali membuka obrolan mereka berdua.
Suami   : “Ibu, Pak Kiyai hebat ya? Beliau tahu, kita datang dari jauh, dengan hanya melihat kondisi dan keadaan kita yang baru sampai?” (dengan nada sedikit berbisik dan raut wajah heran dan kagum)
Istri        : “Iya ya Kang, Pak Kiyai hebat, berarti kita tidak salah datang ke sini, semoga Pak Kiyai dapat memberikan solusi atau jalan terbaik dengan petunjuk beliau” (dengan nada sedikit berbisik dan raut kekaguman)
Suami   : “Iya Bu, berarti kata-kata tetangga kita benar ya Bu, bahwa Pak Kiyai-nya bijak, dan tidak boleh berbicara yang tidak-tidak selama kita di sini” (masih dengan nada sedikit berbisik)
Istri        : “Iya kang, ssstt…, Pak Kiyai sudah keluar dari kamarnya” (suami istri menyilangkan jari telunjuknya di bibir mereka tanda untuk diam)

Beberapa menit kemudian sang ulama keluar dari kamarnya dan duduk kembali di tempatnya semula dan memberikan beberapa wejangan sebagai bagian dari petunjuk yang diharapkan dari sepasang suami istri tersebut.
Ulama   : “Alhamdulillah, Allah memudahkan jalan kita semua dengan memberikan beberapa petunjuk kepada saya berkaitan dengan permasalahan yang sedang bapak dan ibu hadapi ini”
Suami dan Istri  : “Syukur Alhamdulillah” (Secara bersamaan mengucapkan syukurnya)
Ulama   : “Ini ya, bapak dan ibu, tolong harus dikerjakan secara bersama-sama dan kompak antara bapak dan ibunya, artinya dua-duanya harus mengerjakan dan mewiridkan ini, puasa senin kamis dan sholat dhuha setiap hari minimal 2 rokaat, InsyaAllah permasalahan atau lilitan hutang bapak atau ibu akan cepat dibukakan jalannya, yaitu jalan yang tidak disangka-sangka sehingga bapak dan ibu terbebas dari masalah hutang bapak dan ibu. Wiridkan ini 100 kali sehabis sholat wajib ya, bapak dan ibu? Insya Allah tidak lama lagi akan ada jalan keluarnya” (Seraya Menyodorkan lembaran kecil yang bertuliskan beberapa ayat yang harus diwiridkan kemudian menjelaskan hal apa saja yang harus diperhatikan).
Suami istri tersebut mengangguk-angguk tanda apa yang disampaikan oleh sang ulama paham dan mengerti betul dengan apa yang harus mereka berdua lakukan.
Suami   : “Iya Pak Kiyai, InsyaAllah kami akan menjalankan sesuai dengan petunjuk Pak Kiyai, mohon dibantu do’anya juga ya Pak Kiyai” (dengan wajah penuh dengan pengharapan)
Sang Ulama mengiyakan permintaan dari mereka berdua.
Ulama   : “InsyaAllah saya bantu do’a dari sini, semoga permasalahan bapak dan ibu segera mendapatkan jalan keluarnya, dan dapat menyelesaikannya tanpa kendala apapun. Semua itu juga tergantu dari usaha bapak dan ibu juga ya?”
(Ulama, Suami, dan Istri: Aamiin)

Sang suami minta izin untuk pulang seraya berdiri dan bersalaman dengan sang ulama dengan menyelipkan selembar amplop di tangannya untuk diserahkan kepada sang ulama.
Suami   : “Kalau begitu kami permisi Pak Kiyai, terimakasih atas nasihat dan wejangannya, semoga kami dapat segera menyeIesaikan permasalahan kami, ini sudah malam, takut dalam perjalanan ada apa-apa, jadi kami mohon diri dulu Pak Kiyai”
Sang Ulama ikut berdiri dan membalas jabat tangan dari sang suami dan sang istri dan memberikan sedikit kata-kata perpisahan.
Ulama   : “Oh iya, terimakasih sudah mampir di gubuk kami, hati-hati dalam perjalanan, semoga sampai rumah tidak kurang satu apapun”
Suami    : “Iya Pak Kiyai, terimakasih, Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”
Ulama   : “Walaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh”
Sambil berjalan mengikuti sang tamu, sang ulama menjawab salam mereka berdua, seraya mengantar mereka sampai pada teras rumah.
Sementara sang suami naik pada kendaraan motornya dan membalikkan posisi motor tersebut kemudian sang istri naik di belakangnya. Sang suami sekali lagi mengucapkan salam perpisahan seraya menarik gas motornya dan berlalu. Sementara sang ulama menjawab salam perpisahan akhir sambil memastikan kendaraan tersebut hilang dari pandangan sang ulama.
Suami    : “Mari Pak Kiyai, sekali lagi terimakasih.” (Sambil menganggukkan kepala)
Ulama   : “Iya, sama-sama, hati-hati dijalan” (tersenyum dan melambaikan tangan)
Sang ulama membalikkan badannya untuk kemudian masuk dan duduk kembali di ruang tamu sambil memutar tasbihnya dan mulutnya berkomat-kamit menzikirkan salah satu wiridannya.
Ulama   “Subhanallah, subhanallah, subhanallah,…” (sampai posisi duduk ditempatnya semula)
Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, sang ulama bergumam, menggumamkan sesuatu.
Ulama   : “Subhanallah, biasanya kalau malam begini banyak tamu yang datang, dan malam ini hanya satu saja tamunya dan sudah malam, lebih baik saya lanjutkan wiridan saya di kamar saja”
Sang ulama berdiri seraya berjalan menuju pintu dan menutup serta mengunci pintu tersebut. Kemudian balik badan dan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamarnya yang biasa sang ulama lakukan wiridan sudah tergelar sajadah yang dilapisi tikar di bagian bawahnya. Sementara di kamar tersebut terdapat rak buku dan meja tulis, pada rak buku terdapat kitab-kitab tersusun rapih sementara di antara meja tulis terdapat kursi dan di atasnya terdapat beberapa kitab dan al-Qur’’an.
Sang ulama duduk sila di atas sajadah tersebut sambil melanjutkan zikirannya, dan waktu berlalu sangat cepat, sementara mulut sang ulama sudah menguap beberapa kali, mata sang ulama melirik pada jam dinding yang menempel pada tembok kamar tersebut dan jam sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. sang ulama tetap melanjutkan zikirannya sampai tak ia sadari tubuhnya lunglai  dan jatuh ke arah samping, saking lelapnya sang ulama tak menyadarinya.

Part. 2 (Dua)
Masih di malam itu.
Dalam lelap tidurnya sang ulama tak menyadarinya, tenggelam dalam dinginnya malam, dalam kantuk yang teramat sangat, suara-suara hewan malam tak lagi ia sadari, ia seperti berada di awang-awang, namun sang ulama terkejut, karena tiba-tiba beliau berada di sebuah tempat, matanya ia ucek-ucek beberapa kali, karena benar-benar merasa heran, berada di mana ia sebenarnya, sesaat kemudian yang masih dia ingat ialah ia masih berada di kamarnya duduk sila berzikir.
Ulama   : “Saya ada di mana? Seperti di ladang, ini banyak pohon jatinya, itu jalan raya”
Sang ulama kemudian membalikkan badannya seraya terkejut dan heran, rupanya dia berada di sebuah pemakaman umum, dan di pemakaman tersebut ternyata ramai sekali, banyak orang, dan yang membuat ia heran adalah orang yang berada di sekitar makam masing-masing sedang mengorek-ngorek tanah atau rumput di sekitar makamnya tersebut.
Ulama   : “Astaghfirullah, subhanallah, ini…! Ini pemakaman, kenapa saya tiba-tiba ada di pamakaman?” (dengan nada heran)
Belum juga rasa herannya hilang, dia melihat orang-orang yang berada di sekitar makam sedang mengorek-ngorek sesuatu.
Ulama   : “Itu di makam itu banyak orang, dan apa yang mereka lakukan, seperti sedang mengorek-ngorek tanah di sekitar makamnya masing-masing, ini apa sebenarnya yang terjadi?” (bergerutu di dalam hatinya dengan penuh keheranan)
Dengan penuh rasa penasaran, sang ulama menghampiri salah satu dari mereka yang terdeket dengannya dan sedang mengorek-ngorek tanah di sekitar makam tersebut.
Ulama   : “Assalamu’aliakum warohmatullohi wabarokatuh”
Orang Tua 1        : “Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh”
Ulama   : “Maaf, permisi bapak, ini saya tiba-tiba ada di sini, berada di pemakaman ini, dan saya heran, kenapa banyak orang di sini, dan sedang apa bapak-bapak ini, kenapa mereka semua seperti sedang mengorek-ngorek sesuatu di sekitar makam-makam itu?” (heran dan tidak mengerti dengan kondisi dan keadaan tersebut)
Orang tua 1         : “Oh, bapak kira tuan ini penghuni baru di tempat ini, karena bapak juga baru melihat tuan, dan mengenai kami sedang mengorek-ngorek tanah di sekitar makam kami masing-masing karena sedang mencari keping-keping pahala dari do’a seluruh umat untuk kami yang sudah tiada”. (raut muka dan nada sedih)
Ulama   : “Maaf bapak, tadi bapak bilang apa? Tadi bapak bilang mengorek-ngorek tanah di sekitar makam kami, maksudnya apa itu bapak?” (penuh tanda tanya)
Orang tua 1         : “Iya, kami semua yang ada di sini sudah meninggal dunia” (menjelaskan)
Ulama   : “Astaghfirullah, subhanallah, jadi…! Jadi bapak-bapak yang ada di sini sudah meninggal dunia?, Allahuakbar, subhanallah…3x” (dengan wajah dan nada terkejut dan sedikit merinding seraya mencoba menenangkan diri dengan manarik nafas dalam-dalam)
 Orang tua           : “Ada apa tuan, kenapa tuan seperti orang terkejut dan ketakutan?” (bertanya dengan rasa heran)
Ulama   : “Oh, tidak apa-apa bapak, hanya sedikit terkejut saja, kenapa bapak-bapak ini ada di sekitar makam ini, dan sedang mengorek-ngorek tanah di sekitar makam bapak masing-masing, ternyata…, yah sudahlah” (nada dan wajah sudah agak tenang)
Orang tua 1         : “Iya, kami memang sudah meninggal dunia, dan kami sedang mencari serpihan-serpihan pahala dari do’a dan ayat-ayat suci yang dibacakan untuk seluruh umat muslim yang sudah meninggal” (wajah dan nada sendu)
Ulama   : “Saya perhatikan wajah dan nada bicara bapak dari tadi, sendu dan sedih, dan saya lihat bapak juga ikut mengorek-ngorek tanah di sekitar makam bapak, gerangan apakah yang sudah terjadi dengan bapak?” (penasaran)
Orang tua 1         : “Ya, bapak termasuk salah satu dari mereka yang kurang beruntung, karena hanya belas kasih orang lain yang bapak dapatkan, bukan pahala dari anak cucu bapak”.
Ulama   : “Mengapa bisa demikian pak, gerangan apa yang salah dari bapak, sehingga bapak selama ini hanya berharap dari belas kasih umat?” (penasaran)
Orang tua 1         : “Ini salah bapak juga tuan, karena bapak salah mendidik anak cucu bapak, bapak memanjakan mereka, bapak tidak pernah mengenalkan mereka dengan Allah dan Rosul-Nya, Bapak tidak pernah mengenalkan mereka dengan pendidikan Islam, pondok pesantren-pondok pesantren, tidak mengenalkan mereka dengan al-Qur’an dan Hadits, sehingga inilah yang bapak dapatkan” (sendu dan sedih)
Ulama   : “Subhanallah, terus pendidikan seperti apa yang bapak berikan kepada mereka, anak cucu bapak selama di dunia, sehingga mereka lalai dan melupakan bapak yang sudah susah payah membesarkan, mendidik mereka, dan bahkan harta warisan berupa kekayaan yang bapak tinggalkan kepada mereka, mereka nikmati sesuka hati, tidak kah mereka pernah mengirimkan do’a atau shodaqoh jariahnya walaupun seminggu sekali, atau sebulan sekali, atau setahun sekali yang dikhususkan untuk bapak?” (rasa penasaran)
Orang tua 1         : “Tidak tuan, tidak sama sekali”.
Ulama   : “Pernahkah bapak mengunjungi mereka sekedar melihat apa saja yang mereka lakukan setiap malam jum’at mereka, adakah di antara anak cucu bapak yang mengaji dan menghadiahkannya khusus untuk bapak?”
Orang tua 1         : “Tidak tuan, karena setiap kami diizinkan oleh Yang Maha Kuasa untuk menjenguk anak cucu kami di setiap malam jum’at, sekedar berharap apakah di antara anak dan cucu saya ada yang mendo’akan saya, atau membacakan sepotong ayat untuk saya, atau shodaqoh jariah yang dikhususkan untuk saya, tidak satu pun dari anak cucuku yang melakukan itu semua?”
Ulama   : “Subahnallah, subhanallah, subhanallah, astaghfirullahal’adhiim…., saya do’akan agar anak cucu bapak ada yang menyadari keadaan bapak di alam kubur ini ya?”
Orang tua 1         : “Saya berterimakasih kepada tuan, jika tuan nanti kembali, tolong sampaikan salam saya kepada salah satu atau beberapa anak cucuku agar mereka rela dan ridho untuk sekedar membacakan sepotong ayat suci untukku dan istriku”.
Ulama   : “Iya, insyaAllah semoga kami berjodoh untuk bertemu dengan mereka, itu di sana ada yang duduk santai di atas nisannya, tidak melakukan apa yang seperti bapak lakukan, gerangan mengapa ya bapak itu santai saja?”
Orang tua 1         : “Iya, dia memang semenjak dulu duduk santai selalu di atas nisannya, dia sudah enak, karena setiap saat, setiap waktu dan setiap hari selalu datang kiriman, sudah enak dia mah, coba tanya mengapa dia bisa begitu!”
Ulama   : “Iya, coba saya Tanya, gerangan apakah yang sudah ia dapatkan sehingga ia bisa duduk manis dan santai di atas nisannya, kalau begitu saya permisi ya pak, Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh” (rasa penasaran sedikit lega)
Orang tua 1         : “Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh”

Sang ulama berjalan menuju orang tua yang sedang duduk manis di atas nisannya itu, sementara orang tua tersebut tersenyum melihat kedatangan sang ulama, dan menyambut sang ulama dengan senyum tersungging di bibirnya.
Ulama   : “Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”
Orang tua 2         : “Walaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh”
Ulama   : “Tampak di wajah bapak sangat bahagia, tenang dan santai, tidak seperti mereka yang gelisah dan sibuk mengorek-ngorek tanah di sekitar makam masing-masing, gerangan apakah yang sudah bapak dapatkan?” (penasaran)
Orang tua 2         : “Syukur Alhamdulillah dengan apa yang saya dapatkan tuan, saya merasa cukup dengan kiriman yang setiap saat, setiap waktu dan setiap hari saya terima, jadi saya merasa cukup dan tidak kurang satu apapun, tidak seperti mereka yang selalu kekurangan, entah mengapa bisa demikian, saya sendiri kurang tahu dan kurang mengerti tuan.” (tenang dan santai)
Ulama   : “Oh, begitu…, jadi bapak juga tidak tahu dengan apa yang bapak alami ya? Adakah kemungkinan semua yang bapak terima selama ini adalah amal jariah dan shodaqoh jariah dari anak bapak yang khusus dihadiahkan dari anak-anak bapak?”
Orang tua 2         : “Mungkin saja, soalnya saya mendidik anak-anak saya dengan pendidikan Islam, dan saya mengenalkan mereka dengan Allah dan Rasulnya, serta saya mengirimkan pendidikan anak-anak saya ke pendidikan Islam, pesantren-pesantren, guru-guru ngaji dan lain sebagainya”
Ulama   : “Bagaimana kunjungan bapak ketika Allah memberikan kesempatan berkunjung kepada anak-anak bapak?”
Orang tua 2         : “Syukur Alhamdulillah, ketika saya berkunjung kepada anak-anak ku, saya tidak pernah kembali dengan tangan kosong, saya mendapati mereka selalu membacakan ayat suci al-Qur’an yang pahalanya mereka shodaqoh jariahkan kepada bapak”
Ulama   : “Alhamdulillah, rupanya begitu, sungguh bapak sangat beruntung mempunyai anak-anak seperti anak-anak bapak. Terus kiriman doa-doa setiap saat, setiap waktu dan setiap hari itu dari mana datangnya pak?”
Orang tua 2         : “Saya sendiri kurang tahu dan kurang paham, kalau tuan ingin tahu coba tanyakan kepada salah satu anak saya, dia berjualan di pasar, menjual kitab-kitab, dan buku-buku tentang khasanah keislaman, coba tanyakan gerangan apa yang dia lakukan setiap saat, setiap waktu dan setiap hari untuk kedua orang tuanya ini?”
Ulama   : “Nama anak bapak yang berjualan kitab di pasar itu siapa pak?”
Belum sempat orang tua itu menjawab pertanyaan selanjutnya dari sang ulama, dari dimensi lain suara perempuan yang sangat lembut memanggil-manggil nama sang ulama.
Istri ulama           : “Abi,… bangun abi,,, sudah pukul empat pagi, sudahkah abby sholat malam…” (berbisik di telinganya dengan lembut)
Suara lembut yang datang dari dimensi lain tersebut membuat sang ulama seperti melayang dan apa yang ada di hadapannya sirna, lenyap dan sang ulama kembali ke alam nyatanya, seraya mengucek-ucek matanya yang masih terasa sepat dan perih.
Ulama   : “Astaghfirullahal’adhim, subhanallah, subhanallah…” (terkejut dan panik mendapati dirinya di dalam kamar sedang berbaring dan kemudian bangun dan duduk di atas sajadahnya seakan sedang mengingat-ingat sesuatu)
Istri ulama           : “Aby mimpi apa? Tidak biasanya ummy bangunin abby susah sekali, seperti berada di alam lain?”
Ulama   : “Sebentar Ummy, Abby sedang mengingat-ingat sesuatu, sesuatu yang Abby alami di alam mimpi, seperti nyata, antara mimpi dan bukan mimpi (mengingat-ngingat sesuatu)
Istri ulama           : “Yaudah, ummy ke kamar mandi duluan ya By, gantian, sementara mengingat-ngingat mimpi abby” (berlalu menuju kamar mandi untuk berwudhu)
Ulama   : “Iya Ummy, Ummy duluan saja ambil wudhunya gantian” (masih tidak percaya dengan mimpi yang dialaminya dan mencoba menyatukan yang terserak)

Oleh: Goresan Sang Guru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar