Percakapan Film Pendek Anak Sholeh Versus Orang Tua
Part.
1 (Satu)
Malam
Hari
Sebuah
rumah yang sederhana diterangi lampu 10 watt di bagian terasnya
Dengan
pagar kawat berjeriji
Beberapa
pot bunga dan tanaman sederhana berjejer
Dalam
ruang tamu diterangi lampu yang cukup terang
Tak
ada kursi tamu, hanya tikar sederhana dan dilapisi oleh karpet yang juga
sederhana
Di
tengah-tengah karpet terdapat beberapa gelas air mineral yang disimpan di tatakan
yang terbuat kawat yang keras dan beberapa toples makanan kering.
Di
atas karpet duduk bersila seorang kiyai yang cukup ternama
Dengan
sorban yang belingkar di leher dan punggung serta di antara kedua bahunya
Mulut
berkumat kamit melafalkan lafadz-lafadz zikir
Kepalanya
mengenakan sorban yang diikatkan di kepala
Mengenakan
pakaian seperti pakaian jubbah khas orang arab
Berjenggot
sepanjang kurang lebih 10 cm yang sudah memutih
Tangannya
memutar tasbihnya
Sepasang
suami istri bertamu kepada sang ulama tersebut untuk meminta beberapa nasihat
Terdengar
suara kendaraan bermotor berhenti di depan rumah sang kiyai
Waktu
ba’da isya sekitar pukul 20:30 WIB
Beberapa
saat kemudian suara pintu diketuk dari luar “tok-tok”,
Bersamaan
itu suara salam terdengar dari luar balik pintu.
Suami : “Assalamu’alaikum warohmatullohi
wabarokatuh”
Dari
dalam rumah terdengar suara balasan salam dan dilanjutkan dengan perintah untuk
membuka pintu dan mempersilakan masuk tamu tersebut.
Ulama : “Wassalamu’alaikum warohmatullohi
wabarokatuh, silakan masuk, pintu tidak dikunci”
Pintu
terbuka seraya sepasang suami istri dengan wajah lelah yang nampak di raut muka
mereka berdua masuk ke dalam ruang tamu dan mengatakan beberapa kata sebagai
bentuk sopan santun dan segera bersalaman dengan mencium tangan sang ulama.
Suami : “Assalamu’laikum Pak Kiyai”
Ulama
menjawab salam dan mempersilakan kepada sepasang suami istri tersebut untuk
duduk seraya mengambilkan minuman kemasan dan menyuguhkannya kepada kedua
tamunya.
Ulama : “Wa’alaikumsalam, silakan duduk bapak dan
ibu”
Kedua
tamu duduk di hadapan ulama tersebut, kemudian sang ulama mempersilakan kepada
kedua tamunya untuk menum dan mencicipi kue kering yang ada di hadapan mereka
sambil tersenyum lembut dengan beberapa kata-kata basa basi.
Ulama : “Silakan diminum dulu,
barangkali haus dari perjalanan jauh, dan cicipi juga kue keringnya, hanya ini
yang dapat kami suguhkan, hehehe…”
Sambil
tersenyum malu-malu sepasang suami istri langsung menerima minuman dan
menyedotnya seprti seorang yang khaus sehabis dalam perjalanan jauh, serta
mengucapkan terima kasih dan juga mencicipi beberapa potong kue kering yang ada
di hadapan mereka seraya mengucapkan kata terima kasih dan beberapa kata
sebagai kata basa basi.
Suami : “Maaf Pak Kiyai Terimakasih, jadi
merepotkan Pak Kiyai”
Sang
ulama menanggapinya dengan enteng dan santai sambil diiringi sedikit canda
sebagai pemecah suasana. Karena biasanya tamu yang datang kepada sang ulama
begitu sungkan dan canggung karena kharismanya sang ulama yang sangat
luarbiasa.
Ulama : “Ah tidak merepotkan
juga, sudah tersedia di antara kita, lagian ini semua yang mempersiapkannya kan
istriku tercinta, hehehe…” (Sambil mengelus-elus jenggotnya yang sudah memutih)
Sang
ulama tanpa basa-basi lagi menanyakan gerangan apa tujuan mereka berdua bertamu
ke rumahnya dengan pertanyaan yang tegas namun lembut.
Ulama : “Gerangan dari jauh datang bertamu/mampir
ke sini ada keperluan apa?”
Di
wajah sepasang suami istri nampak dengan wajah keheranan, sang ulama sudah
benar-benar dapat membaca kondisi mereka berdua dan mereka hanya bisa saling
berbisik.
Suami : “Kok tahu ya kita dari jauh?” (dengan
tangan menutup mulut atau bibir)
Istri : “Iya ya kang, sstt… jangan ribut”
(dengan jari menyilang di bibir sebagai isyarat untuk diam)
Ulama : “Lho… tidak sopan lho..
bisik-bisik tetangga, hehehe…! Sudah jelas kok, tampak dari raut wajah kalian,
raut waja lelah dari perjalanan jauh, dan juga ketika saya menawari air minum
dan beberapa potong kue tadi, bapak dan ibu langsung menenggak dan melahapnya,
hehehe…”
Wajah
sepasang suami istri tersipu malu manakala sang ulama menegur ketidaksopanan
mereka karena berbisik di depan sang ulama.
Suami : “Maaf Pak Kiyai, kami
jadi tidak sopan berbisik-bisik di depan Pak Kiyai, kami mohon maaf sama Pak
Kiyai, sekali lagi kami mohon maaf”
(Dengan mulut menyeringai)
Ulama : “Iya, tidak apa-apa, itu manusiawi, tidak
bertanya langsung malah saling berbisik.”
Akhirnya
sang suami menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan mereka berdua kepada sang
ulama.
Suami : “Begini Pak Kiyai, maksud
dan tujuan kedatangan kami jauh-jauh ke sini yaitu mau minta petunjuk dan
nasihat atas apa yang sedang kami alami Pak Kiyai dan saya tahu tentang Pak
Kiyai dari tetangga saya yang pernah juga minta petunjuk ke sini kepada Pak
Kiyai”
Sang
ulama mengangguk-anggukkan kepala seraya mengelus-elus jenggotnya yang hanya
beberapa helai itu tanda bahwa apa yang disampaikan oleh tamunya tersebut sudah
ia pahami.
Ulama : “Oh, begitu ya?
InsyaAllah saya akan bantu sesuai dengan kemampuan saya” (dengan penuh
kerendahan hati)
Suami : “Begini Pak Kiyai, kami
terhimpit hutang, awalnya kami hanya ingin mengubah nasib agar menjadi orang
yang sukses, alih-alih usaha kami maju dan sukses, malah kami terjebak oleh
hutang Pak Kiyai” (dengan nada penuh pengharapan)
Ulama : “Seperti itu ya
permasalahan bapak dan ibu, Insya Allah, Insya Allah, saya permisi ke kamar
sebentar ya, kalian tunggu dan ngobrol saja dulu” (seraya berlalu dari hadapan
sepasang suami istri, masuk ke dalam kamar setelah paham tentang permasalahan
yang sedang dialami sepasang suami istri tersebut)
Sepasang suami istri tersebut akhirnya mulai kembali membuka obrolan
mereka berdua.
Suami : “Ibu, Pak Kiyai hebat ya?
Beliau tahu, kita datang dari jauh, dengan hanya melihat kondisi dan keadaan
kita yang baru sampai?” (dengan nada sedikit berbisik dan raut wajah heran dan
kagum)
Istri : “Iya ya Kang, Pak
Kiyai hebat, berarti kita tidak salah datang ke sini, semoga Pak Kiyai dapat memberikan
solusi atau jalan terbaik dengan petunjuk beliau” (dengan nada sedikit berbisik
dan raut kekaguman)
Suami : “Iya Bu, berarti
kata-kata tetangga kita benar ya Bu, bahwa Pak Kiyai-nya bijak, dan tidak boleh
berbicara yang tidak-tidak selama kita di sini” (masih dengan nada sedikit
berbisik)
Istri : “Iya kang, ssstt…,
Pak Kiyai sudah keluar dari kamarnya” (suami istri menyilangkan jari
telunjuknya di bibir mereka tanda untuk diam)
Beberapa
menit kemudian sang ulama keluar dari kamarnya dan duduk kembali di tempatnya
semula dan memberikan beberapa wejangan sebagai bagian dari petunjuk yang
diharapkan dari sepasang suami istri tersebut.
Ulama : “Alhamdulillah, Allah
memudahkan jalan kita semua dengan memberikan beberapa petunjuk kepada saya
berkaitan dengan permasalahan yang sedang bapak dan ibu hadapi ini”
Suami
dan Istri : “Syukur Alhamdulillah”
(Secara bersamaan mengucapkan syukurnya)
Ulama : “Ini ya, bapak dan ibu,
tolong harus dikerjakan secara bersama-sama dan kompak antara bapak dan ibunya,
artinya dua-duanya harus mengerjakan dan mewiridkan ini, puasa senin kamis dan
sholat dhuha setiap hari minimal 2 rokaat, InsyaAllah permasalahan atau lilitan
hutang bapak atau ibu akan cepat dibukakan jalannya, yaitu jalan yang tidak
disangka-sangka sehingga bapak dan ibu terbebas dari masalah hutang bapak dan
ibu. Wiridkan ini 100 kali sehabis sholat wajib ya, bapak dan ibu? Insya Allah
tidak lama lagi akan ada jalan keluarnya” (Seraya Menyodorkan lembaran kecil
yang bertuliskan beberapa ayat yang harus diwiridkan kemudian menjelaskan hal
apa saja yang harus diperhatikan).
Suami
istri tersebut mengangguk-angguk tanda apa yang disampaikan oleh sang ulama
paham dan mengerti betul dengan apa yang harus mereka berdua lakukan.
Suami : “Iya Pak Kiyai,
InsyaAllah kami akan menjalankan sesuai dengan petunjuk Pak Kiyai, mohon
dibantu do’anya juga ya Pak Kiyai” (dengan wajah penuh dengan pengharapan)
Sang Ulama mengiyakan permintaan dari mereka berdua.
Ulama : “InsyaAllah saya bantu
do’a dari sini, semoga permasalahan bapak dan ibu segera mendapatkan jalan
keluarnya, dan dapat menyelesaikannya tanpa kendala apapun. Semua itu juga
tergantu dari usaha bapak dan ibu juga ya?”
(Ulama, Suami, dan Istri: Aamiin)
Sang
suami minta izin untuk pulang seraya berdiri dan bersalaman dengan sang ulama
dengan menyelipkan selembar amplop di tangannya untuk diserahkan kepada sang
ulama.
Suami : “Kalau begitu kami
permisi Pak Kiyai, terimakasih atas nasihat dan wejangannya, semoga kami dapat
segera menyeIesaikan permasalahan kami, ini sudah malam, takut dalam perjalanan
ada apa-apa, jadi kami mohon diri dulu Pak Kiyai”
Sang
Ulama ikut berdiri dan membalas jabat tangan dari sang suami dan sang istri dan
memberikan sedikit kata-kata perpisahan.
Ulama : “Oh iya, terimakasih sudah mampir di gubuk
kami, hati-hati dalam perjalanan, semoga sampai rumah tidak kurang satu apapun”
Suami : “Iya Pak Kiyai, terimakasih,
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh”
Ulama : “Walaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh”
Sambil
berjalan mengikuti sang tamu, sang ulama menjawab salam mereka berdua, seraya
mengantar mereka sampai pada teras rumah.
Sementara
sang suami naik pada kendaraan motornya dan membalikkan posisi motor tersebut
kemudian sang istri naik di belakangnya. Sang suami sekali lagi mengucapkan
salam perpisahan seraya menarik gas motornya dan berlalu. Sementara sang ulama
menjawab salam perpisahan akhir sambil memastikan kendaraan tersebut hilang
dari pandangan sang ulama.
Suami : “Mari Pak Kiyai, sekali lagi terimakasih.”
(Sambil menganggukkan kepala)
Ulama : “Iya, sama-sama, hati-hati dijalan”
(tersenyum dan melambaikan tangan)
Sang
ulama membalikkan badannya untuk kemudian masuk dan duduk kembali di ruang tamu
sambil memutar tasbihnya dan mulutnya berkomat-kamit menzikirkan salah satu
wiridannya.
Ulama “Subhanallah, subhanallah, subhanallah,…”
(sampai posisi duduk ditempatnya semula)
Tanpa
terasa waktu berlalu begitu cepat, sang ulama bergumam, menggumamkan sesuatu.
Ulama : “Subhanallah, biasanya kalau malam begini
banyak tamu yang datang, dan malam ini hanya satu saja tamunya dan sudah malam,
lebih baik saya lanjutkan wiridan saya di kamar saja”
Sang
ulama berdiri seraya berjalan menuju pintu dan menutup serta mengunci pintu
tersebut. Kemudian balik badan dan masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamarnya
yang biasa sang ulama lakukan wiridan sudah tergelar sajadah yang dilapisi tikar
di bagian bawahnya. Sementara di kamar tersebut terdapat rak buku dan meja
tulis, pada rak buku terdapat kitab-kitab tersusun rapih sementara di antara
meja tulis terdapat kursi dan di atasnya terdapat beberapa kitab dan
al-Qur’’an.
Sang
ulama duduk sila di atas sajadah tersebut sambil melanjutkan zikirannya, dan
waktu berlalu sangat cepat, sementara mulut sang ulama sudah menguap beberapa
kali, mata sang ulama melirik pada jam dinding yang menempel pada tembok kamar
tersebut dan jam sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. sang ulama tetap
melanjutkan zikirannya sampai tak ia sadari tubuhnya lunglai dan jatuh ke arah samping, saking lelapnya
sang ulama tak menyadarinya.
Part.
2 (Dua)
Masih
di malam itu.
Dalam
lelap tidurnya sang ulama tak menyadarinya, tenggelam dalam dinginnya malam,
dalam kantuk yang teramat sangat, suara-suara hewan malam tak lagi ia sadari,
ia seperti berada di awang-awang, namun sang ulama terkejut, karena tiba-tiba
beliau berada di sebuah tempat, matanya ia ucek-ucek beberapa kali, karena
benar-benar merasa heran, berada di mana ia sebenarnya, sesaat kemudian yang
masih dia ingat ialah ia masih berada di kamarnya duduk sila berzikir.
Ulama : “Saya ada di mana? Seperti di ladang, ini
banyak pohon jatinya, itu jalan raya”
Sang
ulama kemudian membalikkan badannya seraya terkejut dan heran, rupanya dia
berada di sebuah pemakaman umum, dan di pemakaman tersebut ternyata ramai
sekali, banyak orang, dan yang membuat ia heran adalah orang yang berada di
sekitar makam masing-masing sedang mengorek-ngorek tanah atau rumput di sekitar
makamnya tersebut.
Ulama : “Astaghfirullah, subhanallah, ini…! Ini
pemakaman, kenapa saya tiba-tiba ada di pamakaman?” (dengan nada heran)
Belum
juga rasa herannya hilang, dia melihat orang-orang yang berada di sekitar makam
sedang mengorek-ngorek sesuatu.
Ulama : “Itu di makam itu banyak
orang, dan apa yang mereka lakukan, seperti sedang mengorek-ngorek tanah di
sekitar makamnya masing-masing, ini apa sebenarnya yang terjadi?” (bergerutu di
dalam hatinya dengan penuh keheranan)
Dengan
penuh rasa penasaran, sang ulama menghampiri salah satu dari mereka yang
terdeket dengannya dan sedang mengorek-ngorek tanah di sekitar makam tersebut.
Ulama : “Assalamu’aliakum warohmatullohi
wabarokatuh”
Orang
Tua 1 : “Wa’alaikumsalam
warohmatullohi wabarokatuh”
Ulama : “Maaf, permisi bapak, ini
saya tiba-tiba ada di sini, berada di pemakaman ini, dan saya heran, kenapa banyak
orang di sini, dan sedang apa bapak-bapak ini, kenapa mereka semua seperti
sedang mengorek-ngorek sesuatu di sekitar makam-makam itu?” (heran dan tidak
mengerti dengan kondisi dan keadaan tersebut)
Orang tua 1 : “Oh, bapak
kira tuan ini penghuni baru di tempat ini, karena bapak juga baru melihat tuan,
dan mengenai kami sedang mengorek-ngorek tanah di sekitar makam kami
masing-masing karena sedang mencari keping-keping pahala dari do’a seluruh umat
untuk kami yang sudah tiada”. (raut muka dan nada sedih)
Ulama : “Maaf bapak, tadi bapak
bilang apa? Tadi bapak bilang mengorek-ngorek tanah di sekitar makam kami,
maksudnya apa itu bapak?” (penuh tanda tanya)
Orang
tua 1 : “Iya, kami semua yang ada
di sini sudah meninggal dunia” (menjelaskan)
Ulama : “Astaghfirullah,
subhanallah, jadi…! Jadi bapak-bapak yang ada di sini sudah meninggal dunia?,
Allahuakbar, subhanallah…3x” (dengan wajah dan nada terkejut dan sedikit
merinding seraya mencoba menenangkan diri dengan manarik nafas dalam-dalam)
Orang tua : “Ada apa tuan, kenapa tuan seperti orang terkejut dan
ketakutan?” (bertanya dengan rasa heran)
Ulama : “Oh, tidak apa-apa bapak,
hanya sedikit terkejut saja, kenapa bapak-bapak ini ada di sekitar makam ini,
dan sedang mengorek-ngorek tanah di sekitar makam bapak masing-masing,
ternyata…, yah sudahlah” (nada dan wajah sudah agak tenang)
Orang tua 1 : “Iya, kami
memang sudah meninggal dunia, dan kami sedang mencari serpihan-serpihan pahala
dari do’a dan ayat-ayat suci yang dibacakan untuk seluruh umat muslim yang
sudah meninggal” (wajah dan nada sendu)
Ulama : “Saya perhatikan wajah
dan nada bicara bapak dari tadi, sendu dan sedih, dan saya lihat bapak juga
ikut mengorek-ngorek tanah di sekitar makam bapak, gerangan apakah yang sudah
terjadi dengan bapak?” (penasaran)
Orang tua 1 : “Ya, bapak
termasuk salah satu dari mereka yang kurang beruntung, karena hanya belas kasih
orang lain yang bapak dapatkan, bukan pahala dari anak cucu bapak”.
Ulama : “Mengapa bisa demikian
pak, gerangan apa yang salah dari bapak, sehingga bapak selama ini hanya
berharap dari belas kasih umat?” (penasaran)
Orang tua 1 : “Ini salah
bapak juga tuan, karena bapak salah mendidik anak cucu bapak, bapak memanjakan
mereka, bapak tidak pernah mengenalkan mereka dengan Allah dan Rosul-Nya, Bapak
tidak pernah mengenalkan mereka dengan pendidikan Islam, pondok
pesantren-pondok pesantren, tidak mengenalkan mereka dengan al-Qur’an dan
Hadits, sehingga inilah yang bapak dapatkan” (sendu dan sedih)
Ulama : “Subhanallah, terus
pendidikan seperti apa yang bapak berikan kepada mereka, anak cucu bapak selama
di dunia, sehingga mereka lalai dan melupakan bapak yang sudah susah payah
membesarkan, mendidik mereka, dan bahkan harta warisan berupa kekayaan yang
bapak tinggalkan kepada mereka, mereka nikmati sesuka hati, tidak kah mereka
pernah mengirimkan do’a atau shodaqoh jariahnya walaupun seminggu sekali, atau
sebulan sekali, atau setahun sekali yang dikhususkan untuk bapak?” (rasa
penasaran)
Orang tua 1 : “Tidak tuan,
tidak sama sekali”.
Ulama : “Pernahkah bapak
mengunjungi mereka sekedar melihat apa saja yang mereka lakukan setiap malam jum’at
mereka, adakah di antara anak cucu bapak yang mengaji dan menghadiahkannya
khusus untuk bapak?”
Orang tua 1 : “Tidak tuan,
karena setiap kami diizinkan oleh Yang Maha Kuasa untuk menjenguk anak cucu
kami di setiap malam jum’at, sekedar berharap apakah di antara anak dan cucu
saya ada yang mendo’akan saya, atau membacakan sepotong ayat untuk saya, atau
shodaqoh jariah yang dikhususkan untuk saya, tidak satu pun dari anak cucuku
yang melakukan itu semua?”
Ulama : “Subahnallah,
subhanallah, subhanallah, astaghfirullahal’adhiim…., saya do’akan agar anak
cucu bapak ada yang menyadari keadaan bapak di alam kubur ini ya?”
Orang tua 1 : “Saya
berterimakasih kepada tuan, jika tuan nanti kembali, tolong sampaikan salam
saya kepada salah satu atau beberapa anak cucuku agar mereka rela dan ridho
untuk sekedar membacakan sepotong ayat suci untukku dan istriku”.
Ulama : “Iya, insyaAllah semoga
kami berjodoh untuk bertemu dengan mereka, itu di sana ada yang duduk santai di
atas nisannya, tidak melakukan apa yang seperti bapak lakukan, gerangan mengapa
ya bapak itu santai saja?”
Orang tua 1 : “Iya, dia
memang semenjak dulu duduk santai selalu di atas nisannya, dia sudah enak,
karena setiap saat, setiap waktu dan setiap hari selalu datang kiriman, sudah
enak dia mah, coba tanya mengapa dia bisa begitu!”
Ulama : “Iya, coba saya Tanya,
gerangan apakah yang sudah ia dapatkan sehingga ia bisa duduk manis dan santai
di atas nisannya, kalau begitu saya permisi ya pak, Assalamu’alaikum
warohmatullohi wabarokatuh” (rasa penasaran sedikit lega)
Orang tua 1 :
“Wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh”
Sang
ulama berjalan menuju orang tua yang sedang duduk manis di atas nisannya itu, sementara
orang tua tersebut tersenyum melihat kedatangan sang ulama, dan menyambut sang
ulama dengan senyum tersungging di bibirnya.
Ulama : “Assalamu’alaikum warohmatullohi
wabarokatuh”
Orang
tua 2 : “Walaikumsalam
warohmatullohi wabarokatuh”
Ulama : “Tampak di wajah bapak sangat bahagia,
tenang dan santai, tidak seperti mereka yang gelisah dan sibuk mengorek-ngorek
tanah di sekitar makam masing-masing, gerangan apakah yang sudah bapak
dapatkan?” (penasaran)
Orang
tua 2 : “Syukur Alhamdulillah
dengan apa yang saya dapatkan tuan, saya merasa cukup dengan kiriman yang
setiap saat, setiap waktu dan setiap hari saya terima, jadi saya merasa cukup
dan tidak kurang satu apapun, tidak seperti mereka yang selalu kekurangan,
entah mengapa bisa demikian, saya sendiri kurang tahu dan kurang mengerti
tuan.” (tenang dan santai)
Ulama : “Oh, begitu…, jadi bapak juga tidak tahu
dengan apa yang bapak alami ya? Adakah kemungkinan semua yang bapak terima
selama ini adalah amal jariah dan shodaqoh jariah dari anak bapak yang khusus
dihadiahkan dari anak-anak bapak?”
Orang
tua 2 : “Mungkin saja, soalnya
saya mendidik anak-anak saya dengan pendidikan Islam, dan saya mengenalkan
mereka dengan Allah dan Rasulnya, serta saya mengirimkan pendidikan anak-anak
saya ke pendidikan Islam, pesantren-pesantren, guru-guru ngaji dan lain
sebagainya”
Ulama : “Bagaimana kunjungan bapak ketika Allah
memberikan kesempatan berkunjung kepada anak-anak bapak?”
Orang
tua 2 : “Syukur Alhamdulillah,
ketika saya berkunjung kepada anak-anak ku, saya tidak pernah kembali dengan
tangan kosong, saya mendapati mereka selalu membacakan ayat suci al-Qur’an yang
pahalanya mereka shodaqoh jariahkan kepada bapak”
Ulama : “Alhamdulillah, rupanya begitu, sungguh
bapak sangat beruntung mempunyai anak-anak seperti anak-anak bapak. Terus
kiriman doa-doa setiap saat, setiap waktu dan setiap hari itu dari mana
datangnya pak?”
Orang
tua 2 : “Saya sendiri kurang tahu
dan kurang paham, kalau tuan ingin tahu coba tanyakan kepada salah satu anak
saya, dia berjualan di pasar, menjual kitab-kitab, dan buku-buku tentang
khasanah keislaman, coba tanyakan gerangan apa yang dia lakukan setiap saat, setiap
waktu dan setiap hari untuk kedua orang tuanya ini?”
Ulama : “Nama anak bapak yang berjualan kitab di
pasar itu siapa pak?”
Belum
sempat orang tua itu menjawab pertanyaan selanjutnya dari sang ulama, dari
dimensi lain suara perempuan yang sangat lembut memanggil-manggil nama sang
ulama.
Istri
ulama : “Abi,… bangun abi,,,
sudah pukul empat pagi, sudahkah abby sholat malam…” (berbisik di telinganya
dengan lembut)
Suara
lembut yang datang dari dimensi lain tersebut membuat sang ulama seperti
melayang dan apa yang ada di hadapannya sirna, lenyap dan sang ulama kembali ke
alam nyatanya, seraya mengucek-ucek matanya yang masih terasa sepat dan perih.
Ulama : “Astaghfirullahal’adhim, subhanallah,
subhanallah…” (terkejut dan panik mendapati dirinya di dalam kamar sedang
berbaring dan kemudian bangun dan duduk di atas sajadahnya seakan sedang
mengingat-ingat sesuatu)
Istri ulama : “Aby mimpi
apa? Tidak biasanya ummy bangunin abby susah sekali, seperti berada di alam
lain?”
Ulama : “Sebentar Ummy, Abby
sedang mengingat-ingat sesuatu, sesuatu yang Abby alami di alam mimpi, seperti
nyata, antara mimpi dan bukan mimpi (mengingat-ngingat sesuatu)
Istri ulama : “Yaudah,
ummy ke kamar mandi duluan ya By, gantian, sementara mengingat-ngingat mimpi
abby” (berlalu menuju kamar mandi untuk berwudhu)
Ulama : “Iya Ummy, Ummy duluan
saja ambil wudhunya gantian” (masih tidak percaya dengan mimpi yang dialaminya
dan mencoba menyatukan yang terserak)
Oleh: Goresan Sang Guru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar