DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Rabu, 22 April 2020

Beberapa Penemuan yang Sempat Menghebohkan Dunia Maya


Penemuan Ular Berkaki Empat Hebohkan Warga



Ular Itu Ditemukan Seorang Warga Saat Membuat Septic Tank


Minggu, 11 September 2011, 13:45 WIB (VIVA NEWS)
Eko Huda S
Ular Berkaki Empat (Juna Sanbawa)
BERITA TERKAIT
Masyarakat Dusun Kepuh, Desa Mulyodadi, Kecamatan Bambalipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dihebohkan dengan penemuan ular yang mempunyai kaki empat.  Ular itu ditemukan oleh Widoyo (35) yang sedang bekerja membenarkan septic tank di rumah warga bernama Suroyo.
“Saat saya sedang menyelesaikan septic tank, saya melihat ada binatang seperti ular kecil, namun bergerak dengan empat kaki,” kata Widoyo, Minggu, 11 September 2011.
Ular kecil berkaki empat tersebut ditangkap dengan menggunakan botol air mineral. “Saya giring ular berkaki empat itu ke arah botol. Setelah masuk botol mineral itu saya tutup dengan sobekan plastik,” paparnya.
Sementara itu, sang pemilik rumah, Suroyo mengatakan ular berkaki empat itu kini telah dimasukkan ke dalam toples. Ular berkaki empat itu kata Suroyo sangat mirip dengan kadal. Namun ukuran kakinya tak sesuai dengan panjang ular yang mencapai sekitar 20 cm dengan besar sejari kelingking balita.
“Kakinya empat, namun kecil-kecil. Kaki itu berfungsi normal dan dapat berjalan dengan cepat. Tubuh ular juga ikut menggeliat layaknya ular kalau bergerak,”tandasnya
Temuan ular berkaki emat pada hari Rabu (7/9) langsung menyebar ke tetangga dan kampung sebelah sehingga warga penasaran dan ingin melihat ular berkaki empat tersebut. “Warga berbondong-bondong datang ke rumah  karena penasaran ada ular berkaki empat,” kata Suroyo.
Suroyo mengaku beberapa tetangga menyebut ular yang ditangkap tukang yang bekerja dirumahnya merupakan ular tanah. “Kata salah seorang pawang ular, nama ular tersebut adalah ular tanah. Namun anehnya mempunyai kaki empat,” tukasnya.
Sementara itu, Ketua RT, Slamet mengatakan sejak penemuan ular tesebut rumah Suroyo banyak didatangi warga yang penasaran bentuk ulat yang berkaki empat. “Hari Sabtu kemarin bahkan anak-anak SD Grogol datang untuk melihat ular berkaki empat itu,” ujar dia.

Laporan: Juna Sanbawa l Yogyakarta


ENYU YANG SEBELUMNYA DIDUGA PUNAH

Selama Lebih dari Empat Dekade, Ilmuwan Mengira Penyu Bersisik (Hawksbills)

Telah Hilang


Penyu yang dipasangi antena pelacak untuk menemukan Hawksbills yang selama lebih dari empat dekade diduga telah punah dari timur Pasifik.
Tim peneliti dipimpin oleh Alexander Gaos dari San Diego State University yang telah melacak penyu selama tiga tahun akhirnya menemukan bahwa Hawksbills, hewan yang sebelumnya diduga punah, bersarang dalam muara.
Pada laporan yang dipublikasikan di jurnal Biologi Letters Royal Society itu mereka juga memaparkan mengapa spesies itu tidak terdeteksi di wilayah timur Pasifik dalam kurun waktu yang begitu lama.
Selama ini, Gaos dan rekan-rekan melacak penyu bersisik di empat negara, yakni              El Savador, Honduras, Nikaragua, dan Ekuador. Caranya dengan menggunakan alat pelacak pada punggung kura-kura.
Dari pelacakan terungkap bahwa penyu bersisik dewasa memiliki habitat di muara pantai bakau di Pasifik Timur.
“Selama lebih dari empat dekade, para ilmuwan penyu laut berpikir penyu bersisik (Hawksbills) telah menghilang dari timur samudera Pasifik,” kata Gaos, seperti dikutip dari BBC, 6 September 2011.
Gaos menyebutkan, meskipun ratusan proyek penyu laut dan ilmuwan telah berupaya memfokuskan pencarian pada wilayah ini, namun tak ada yang mendapati letak Hawksbills. “Temuan kami membuktikan bahwa mendapati habitat Hawksbills di muara mangrove adalah upaya yang sulit,” lanjutnya.
Menurut Gaos, kemungkinan penyu-penyu tersebut menghabiskan seluruh hidupnya dalam habitat yang samar. “Teori ini sesuai dengan fakta bahwa jumlah hewan tersebut tinggal sedikit,” kata Gaos. “Tidak heran jika para peneliti tidak berhasil mengetahui keberadaan mereka,” ucapnya.
Untuk menemukan populasi hewan itu, Gaos dan timnya bekerjasama dengan nelayan lokal dan kolektor telur illegal, untuk menemukan penyu bersisik. Mereka berharap petunjuk yang didapat akan sangat bermanfaat untuk upaya konservasi.
Namun demikian, kepastian mengapa penyu mencari perlindungan di muara mangrove belum jelas. Peneliti memperkirakan, itu mungkin merupakan adaptasi yang terjadi karena dipicu oleh berkurangnya habitat asli mereka yakni di terumbu karang di wilayah tersebut.

KAPAK BATU BERUSIA 1,7 JUTA TAHUN

Alat Acheulian Ini Dipercaya Buatan Nenek Moyang Manusia, Homo Erectus


 

Kapak Batu Berusia 1,7 Juta Tahun

Pembuatan kapak batu diduga lebih cepat daripada yang dipercaya selama ini. Tim ilmuwan menemukan kapak batu di Danau Turkana, Kenya, telah berusia 1,7 juta tahun.
Tim peneliti dari Amerika Serikat dan Perancis membuat penemuan setelah berkunjung ke barat laut Danau Turkana. Dalam eskavasi sebuah situs purbakala, mereka menemukan kapak batu bermata dua bersama sejumlah peralatan  dari batu lainnya.
Dengan menggunakan teknik rumit untuk menentukan tanggal pembuatan, para peneliti menghitung peralatan ini dibuat 1,7 juta tahun yang lalu. Kapak batu ini jauh lebih tua dari artifak serupa yang ditemukan di Ethiopia dan Tanzania yang diperkirakan berusia 1,4 sampai 1,6 juta tahun.
Penemuan ini menunjukkan bahwa manusia prasejarah sudah membuat peralatan yang membutuhkan kepintaran yang lebih tinggi lebih awal daripada yang dikira sebelumnya. Kapak batu ini tidak dibuat dengan memukulkan dua batu bersamaan, namun dibentuk berdasarkan perencanaan.
"Membutuhkan sebuah pemikiran awal sebagaimana juga ketangkasan untuk membuat," kata paleoantropolog Eric Delson yang tidak terlibat riset ini.
Penelitian yang dipimpin oleh Christopher Lepre dari Rutgers University dan Lamont-Doherty Earth Observatory Columbia University ini muncul di jurnal Nature, Kamis 1 September 2011 ini.
Peralatan batu yang disebut sebagai alat Acheulian ini dipercaya buatan nenek moyang manusia, Homo Erectus. Namun nenek moyang manusia yang membuat kapak batu itu tidak membawa teknologi ini keluar dari Afrika.


Kumpulan Serangga Membentuk Tornado

Serangga yang bergerombol terbang menyerupai vorteks ini kemudian dinamakan "BUGNADOES".


Kumpulan Serangga Membentuk Tornado di Iowa, AS (inquisitr.com)
Seorang fotografer sekaligus pengejar badai bernama Mike Hollingshead berhasil mengabadikan video sekumpulan serangga yang terbang menyerupai tornado. Serangga yang bergerombol terbang menyerupai vorteks ini kemudian dinamakan "bugnadoes" oleh Hollingshead.
'Tornado' unik ini terjadi di barat daya Iowa, Amerika Serikat, setelah terjadi banjir di sepanjang Sungai Missouri.
Dalam akun di YouTube, Hollingshead menjelaskan, sekumpulan capung ada yang masuk ke dalam vortex serangga. Kemudian, memakan sejumlah serangga kecil yang ikut membentuk tornado tersebut.
Laman Life's Little Mysteries kemudian mengungkap tornado serangga tersebut. Mengutip ahli serangga (entomologis) dari Museum Sejarah Alam Virginia, Joe Kieper, vortex itu terdiri dari dua jenis serangga kecil, mayflies dan midges. Kedua jenis serangga itu menghabiskan masa pra-reproduksi di sekitar permukaan sungai. Video pembentukan Tornado itu bisa dilihat di sini
Kemudian ketika sayap mulai tumbuh, mereka bergerombol dan siap reproduksi. "Ini terbang secara berpasangan," kata Kieper. "Serangga jantan mencoba memikat betina, dan betina akan memilih pasangannya."
Kemudian, setelah pasangan itu terbentuk di dalam pusaran tersebut, biasanya yang jantan akan mati. Kemudian betina akan kembali ke sekitar sungai untuk menetaskan telurnya, setelah itu mati.

Fosil Hidup Berumur 200 Juta Tahun

Belut ini memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif.

Belut ini memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus menguasai bumi.

Ahli biologi melaporkan sebuah spesies belut baru yang ditemukan dalam gua bawah laut sedalam 35 meter di tepi sebuah pulau di negara Palau, Pasifik Barat. Para ahli menyebutnya sebagai fosil hidup yang mirip dengan belut pertama yang berenang sekitar 200 juta tahun yang lalu.
Seperti dikutip dari Daily Telegraph, 20 Agustus 2011, temuan itu dipublikasikan dalam jurnal Proceeding Royal Society B. Penemuan sendiri itu terjadi Maret tahun lalu oleh tim yang dipimpin oleh Masaki Miya dari Institut Sejarah Museum Alam di Chiba, Jepang.
Spesies belut yang ditemukan berwujud ikan kecil berwarna cokelat yang berbeda dengan karakteristik anatomi belut modern. Sebaliknya, ia memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus menguasai bumi.
Kesamaannya di antaranya adalah ukuran kepala yang tidak proporsional, tubuh terkompresi menjadi pendek, kerah seperti bukaan pada insang, sinar pada sirip ekor dan ujung tulang rahang yang disebut premaxilla. Temuan ini sendiri sangat luar biasa dan bahkan belut tersebut dimasukkan ke dalam satu spesies terpisah, yakni Protoanguilla Palau.
Ketika pertama dijumpai, menggunakan jaring tangan dan lampu, peneliti mengumpulkan delapan contoh belut yang memiliki panjang sekitar panjang  6-9 centimeter tersebut. Setelah itu, tes DNA dilakukan untuk menilai sejarah genetik belut.
Menurut penelitian, sampai saat ini, Palau merupakan satu-satunya tempat penemuan spesies tersebut. Meski demikian, peneliti memperkirakan, distribusi belut ini masih cukup luas.
Sebagai informasi, Charles Darwin menyebut dengan istilah fosil hidup untuk menggambarkan spesies yang masih selamat hingga saat ini meski telah turun temurun selama jutaan tahun. (umi)

 

MAKHLUK PENGHUNI SEGITIGA BERMUDA

Bagi Spesies Ikan Paus Humpback Yang Terancam Punah, Segitiga Bermuda adalah Surga.


Ilustrasi Segitiga Bermuda
Horor, angker, dan misterius adalah kesan yang dirasakan seseorang jika mendengar istilah Segitiga Bermuda -- kawasan yang berada dalam garis  imajiner yang menghubungkan tiga wilayah yaitu  Bermuda, Puerto Rico, dan Miami di Amerika Serikat. Meski kengerian itu ternyata tak bisa dibuktikan secara ilmiah.
Namun, bagi spesies ikan Paus HUMPBACK yang terancam punah, Segitiga Bermuda adalah surga. Badan Kelautan dan Atmosfer AS atau National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) baru-baru ini menandatangani nota kesepakatan dengan Departemen Perlindungan Lingkungan Bermuda untuk mendirikan tempat perlindungan bagi raksasa lembut itu. Tempat perlindungan di Bermuda adalah mitra dari Stellwagen Bank National Marine Sanctuary yang juga milik NOAA.
Kehadiran Bermuda menambah surga bagi hewan mamalia langka ini -- sebelumnya ada di Teluk Maine, dan Dominica. Juga Nova Scotia, Norway, Greenland and Iceland.
Lokasi suaka di Bermuda akan melindungi paus dalam koridor migrasi mereka. "Ini adalah langkah pertama dalam menyusun batu loncatan konservasi seluruh migrasi mereka," kata Nathalie Ward, koordinator program Sister Sanctuari dari Stellwagen Bank National Marine Sanctuary.
Ketika wilayah konservasi Bermuda sudah didirikan akhir tahun ini, NOAA akan mengeluarkan nota kesepakatan untuk menukar data, termasuk foto ikan paus, mengkoordinasikan penelitian, pendidikan, dan strategi untuk melibatkan penduduk lokal dalam konservasi ikan paus.
Mamalia raksasa itu tak hanya terancam secara langsung oleh manusia -- seperti penangkapan atau terjaring -- tapi juga secara tak langsung seperti polusi dan kebisingan laut. "Jika kita tak menyelamatkan binatang itu, itu akan berakibat pada populasi kita, manusia." (Live Science, umi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar