Penemuan Ular Berkaki Empat Hebohkan Warga
Ular Itu Ditemukan Seorang Warga Saat Membuat Septic Tank
Minggu, 11 September 2011, 13:45 WIB
(VIVA NEWS)
Eko Huda S
Ular Berkaki Empat (Juna Sanbawa)
BERITA TERKAIT
Masyarakat Dusun Kepuh, Desa
Mulyodadi, Kecamatan Bambalipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
dihebohkan dengan penemuan ular yang mempunyai kaki empat. Ular itu
ditemukan oleh Widoyo (35) yang sedang bekerja membenarkan septic tank
di rumah warga bernama Suroyo.
“Saat saya sedang menyelesaikan septic
tank, saya melihat ada binatang seperti ular kecil, namun bergerak dengan
empat kaki,” kata Widoyo, Minggu, 11 September 2011.
Ular kecil berkaki empat tersebut
ditangkap dengan menggunakan botol air mineral. “Saya giring ular berkaki empat
itu ke arah botol. Setelah masuk botol mineral itu saya tutup dengan sobekan
plastik,” paparnya.
Sementara itu, sang pemilik rumah,
Suroyo mengatakan ular berkaki empat itu kini telah dimasukkan ke dalam toples.
Ular berkaki empat itu kata Suroyo sangat mirip dengan kadal. Namun ukuran
kakinya tak sesuai dengan panjang ular yang mencapai sekitar 20 cm dengan besar
sejari kelingking balita.
“Kakinya empat, namun kecil-kecil.
Kaki itu berfungsi normal dan dapat berjalan dengan cepat. Tubuh ular juga ikut
menggeliat layaknya ular kalau bergerak,”tandasnya
Temuan ular berkaki emat pada hari
Rabu (7/9) langsung menyebar ke tetangga dan kampung sebelah sehingga warga
penasaran dan ingin melihat ular berkaki empat tersebut. “Warga
berbondong-bondong datang ke rumah karena penasaran ada ular berkaki
empat,” kata Suroyo.
Suroyo mengaku beberapa tetangga
menyebut ular yang ditangkap tukang yang bekerja dirumahnya merupakan ular
tanah. “Kata salah seorang pawang ular, nama ular tersebut adalah ular tanah.
Namun anehnya mempunyai kaki empat,” tukasnya.
Sementara itu, Ketua RT, Slamet
mengatakan sejak penemuan ular tesebut rumah Suroyo banyak didatangi warga yang
penasaran bentuk ulat yang berkaki empat. “Hari Sabtu kemarin bahkan anak-anak
SD Grogol datang untuk melihat ular berkaki empat itu,” ujar dia.
Laporan:
Juna Sanbawa l Yogyakarta
ENYU YANG SEBELUMNYA DIDUGA PUNAH
Selama Lebih dari Empat Dekade, Ilmuwan Mengira Penyu Bersisik (Hawksbills)
Telah Hilang
Penyu
yang dipasangi antena pelacak untuk menemukan Hawksbills yang selama lebih dari
empat dekade diduga telah punah dari timur Pasifik.
Tim peneliti
dipimpin oleh Alexander Gaos dari San Diego State University yang telah melacak
penyu selama tiga tahun akhirnya menemukan bahwa Hawksbills, hewan yang
sebelumnya diduga punah, bersarang dalam muara.
Pada laporan
yang dipublikasikan di jurnal Biologi Letters Royal Society itu mereka juga
memaparkan mengapa spesies itu tidak terdeteksi di wilayah timur Pasifik dalam
kurun waktu yang begitu lama.
Selama ini, Gaos
dan rekan-rekan melacak penyu bersisik di empat negara, yakni El Savador, Honduras, Nikaragua,
dan Ekuador. Caranya dengan menggunakan alat pelacak pada punggung kura-kura.
Dari pelacakan
terungkap bahwa penyu bersisik dewasa memiliki habitat di muara pantai bakau di
Pasifik Timur.
“Selama lebih
dari empat dekade, para ilmuwan penyu laut berpikir penyu bersisik (Hawksbills)
telah menghilang dari timur samudera Pasifik,” kata Gaos, seperti dikutip dari
BBC, 6 September 2011.
Gaos
menyebutkan, meskipun ratusan proyek penyu laut dan ilmuwan telah berupaya
memfokuskan pencarian pada wilayah ini, namun tak ada yang mendapati letak
Hawksbills. “Temuan kami membuktikan bahwa mendapati habitat Hawksbills di
muara mangrove adalah upaya yang sulit,” lanjutnya.
Menurut Gaos,
kemungkinan penyu-penyu tersebut menghabiskan seluruh hidupnya dalam habitat
yang samar. “Teori ini sesuai dengan fakta bahwa jumlah hewan tersebut tinggal
sedikit,” kata Gaos. “Tidak heran jika para peneliti tidak berhasil mengetahui
keberadaan mereka,” ucapnya.
Untuk menemukan
populasi hewan itu, Gaos dan timnya bekerjasama dengan nelayan lokal dan
kolektor telur illegal, untuk menemukan penyu bersisik. Mereka berharap
petunjuk yang didapat akan sangat bermanfaat untuk upaya konservasi.
Namun demikian,
kepastian mengapa penyu mencari perlindungan di muara mangrove belum jelas.
Peneliti memperkirakan, itu mungkin merupakan adaptasi yang terjadi karena dipicu
oleh berkurangnya habitat asli mereka yakni di terumbu karang di wilayah
tersebut.
KAPAK BATU BERUSIA 1,7 JUTA TAHUN
Alat Acheulian Ini Dipercaya Buatan Nenek Moyang Manusia, Homo Erectus
Kapak Batu Berusia 1,7 Juta Tahun
Pembuatan
kapak batu diduga lebih cepat daripada yang dipercaya selama ini. Tim ilmuwan
menemukan kapak batu di Danau Turkana, Kenya, telah berusia 1,7 juta tahun.
Tim peneliti dari Amerika Serikat dan Perancis membuat penemuan setelah berkunjung ke barat laut Danau Turkana. Dalam eskavasi sebuah situs purbakala, mereka menemukan kapak batu bermata dua bersama sejumlah peralatan dari batu lainnya.
Tim peneliti dari Amerika Serikat dan Perancis membuat penemuan setelah berkunjung ke barat laut Danau Turkana. Dalam eskavasi sebuah situs purbakala, mereka menemukan kapak batu bermata dua bersama sejumlah peralatan dari batu lainnya.
Dengan
menggunakan teknik rumit untuk menentukan tanggal pembuatan, para peneliti
menghitung peralatan ini dibuat 1,7 juta tahun yang lalu. Kapak batu ini jauh
lebih tua dari artifak serupa yang ditemukan di Ethiopia dan Tanzania yang
diperkirakan berusia 1,4 sampai 1,6 juta tahun.
Penemuan
ini menunjukkan bahwa manusia prasejarah sudah membuat peralatan yang
membutuhkan kepintaran yang lebih tinggi lebih awal daripada yang dikira
sebelumnya. Kapak batu ini tidak dibuat dengan memukulkan dua batu bersamaan,
namun dibentuk berdasarkan perencanaan.
"Membutuhkan
sebuah pemikiran awal sebagaimana juga ketangkasan untuk membuat," kata
paleoantropolog Eric Delson yang tidak terlibat riset ini.
Penelitian
yang dipimpin oleh Christopher Lepre dari Rutgers University dan Lamont-Doherty
Earth Observatory Columbia University ini muncul di jurnal Nature, Kamis 1
September 2011 ini.
Peralatan
batu yang disebut sebagai alat Acheulian ini dipercaya buatan nenek moyang
manusia, Homo Erectus. Namun nenek moyang manusia yang membuat kapak batu itu
tidak membawa teknologi ini keluar dari Afrika.
Kumpulan Serangga Membentuk Tornado
Serangga yang bergerombol terbang menyerupai vorteks ini kemudian dinamakan "BUGNADOES".
Kumpulan Serangga Membentuk Tornado di Iowa, AS
(inquisitr.com)
Seorang
fotografer sekaligus pengejar badai bernama Mike Hollingshead berhasil
mengabadikan video sekumpulan serangga yang terbang menyerupai tornado.
Serangga yang bergerombol terbang menyerupai vorteks ini kemudian dinamakan
"bugnadoes" oleh Hollingshead.
'Tornado' unik ini terjadi di barat daya Iowa, Amerika Serikat, setelah terjadi banjir di sepanjang Sungai Missouri.
'Tornado' unik ini terjadi di barat daya Iowa, Amerika Serikat, setelah terjadi banjir di sepanjang Sungai Missouri.
Dalam akun di
YouTube, Hollingshead menjelaskan, sekumpulan capung ada yang masuk ke dalam
vortex serangga. Kemudian, memakan sejumlah serangga kecil yang ikut membentuk
tornado tersebut.
Laman Life's
Little Mysteries kemudian mengungkap tornado serangga tersebut. Mengutip
ahli serangga (entomologis) dari Museum Sejarah Alam Virginia, Joe Kieper,
vortex itu terdiri dari dua jenis serangga kecil, mayflies dan midges. Kedua
jenis serangga itu menghabiskan masa pra-reproduksi di sekitar permukaan
sungai. Video pembentukan Tornado itu bisa dilihat di sini
Kemudian ketika
sayap mulai tumbuh, mereka bergerombol dan siap reproduksi. "Ini terbang
secara berpasangan," kata Kieper. "Serangga jantan mencoba memikat
betina, dan betina akan memilih pasangannya."
Kemudian,
setelah pasangan itu terbentuk di dalam pusaran tersebut, biasanya yang jantan
akan mati. Kemudian betina akan kembali ke sekitar sungai untuk menetaskan
telurnya, setelah itu mati.
Fosil Hidup Berumur 200 Juta Tahun
Belut ini memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif.
Belut ini memiliki banyak keunggulan yang
dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus
menguasai bumi.
Ahli biologi
melaporkan sebuah spesies belut baru yang ditemukan dalam gua bawah laut
sedalam 35 meter di tepi sebuah pulau di negara Palau, Pasifik Barat. Para ahli
menyebutnya sebagai fosil hidup yang mirip dengan belut pertama yang berenang
sekitar 200 juta tahun yang lalu.
Seperti dikutip
dari Daily Telegraph, 20 Agustus 2011, temuan itu dipublikasikan dalam jurnal
Proceeding Royal Society B. Penemuan sendiri itu terjadi Maret tahun lalu oleh
tim yang dipimpin oleh Masaki Miya dari Institut Sejarah Museum Alam di Chiba,
Jepang.
Spesies belut yang ditemukan berwujud ikan kecil berwarna cokelat yang berbeda dengan karakteristik anatomi belut modern. Sebaliknya, ia memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus menguasai bumi.
Kesamaannya di antaranya adalah ukuran kepala yang tidak proporsional, tubuh terkompresi menjadi pendek, kerah seperti bukaan pada insang, sinar pada sirip ekor dan ujung tulang rahang yang disebut premaxilla. Temuan ini sendiri sangat luar biasa dan bahkan belut tersebut dimasukkan ke dalam satu spesies terpisah, yakni Protoanguilla Palau.
Ketika pertama dijumpai, menggunakan jaring tangan dan lampu, peneliti mengumpulkan delapan contoh belut yang memiliki panjang sekitar panjang 6-9 centimeter tersebut. Setelah itu, tes DNA dilakukan untuk menilai sejarah genetik belut.
Spesies belut yang ditemukan berwujud ikan kecil berwarna cokelat yang berbeda dengan karakteristik anatomi belut modern. Sebaliknya, ia memiliki banyak keunggulan yang dimiliki belut primitif yang hidup di era awal Mesozoikum, saat dinosaurus menguasai bumi.
Kesamaannya di antaranya adalah ukuran kepala yang tidak proporsional, tubuh terkompresi menjadi pendek, kerah seperti bukaan pada insang, sinar pada sirip ekor dan ujung tulang rahang yang disebut premaxilla. Temuan ini sendiri sangat luar biasa dan bahkan belut tersebut dimasukkan ke dalam satu spesies terpisah, yakni Protoanguilla Palau.
Ketika pertama dijumpai, menggunakan jaring tangan dan lampu, peneliti mengumpulkan delapan contoh belut yang memiliki panjang sekitar panjang 6-9 centimeter tersebut. Setelah itu, tes DNA dilakukan untuk menilai sejarah genetik belut.
Menurut
penelitian, sampai saat ini, Palau merupakan satu-satunya tempat penemuan
spesies tersebut. Meski demikian, peneliti memperkirakan, distribusi belut ini
masih cukup luas.
Sebagai informasi, Charles Darwin menyebut dengan istilah fosil hidup untuk menggambarkan spesies yang masih selamat hingga saat ini meski telah turun temurun selama jutaan tahun. (umi)
Sebagai informasi, Charles Darwin menyebut dengan istilah fosil hidup untuk menggambarkan spesies yang masih selamat hingga saat ini meski telah turun temurun selama jutaan tahun. (umi)
MAKHLUK PENGHUNI SEGITIGA BERMUDA
Bagi Spesies Ikan Paus Humpback Yang Terancam Punah, Segitiga Bermuda adalah Surga.
Ilustrasi Segitiga Bermuda
Horor, angker,
dan misterius adalah kesan yang dirasakan seseorang jika mendengar istilah
Segitiga Bermuda -- kawasan yang berada dalam garis imajiner yang
menghubungkan tiga wilayah yaitu Bermuda, Puerto Rico, dan Miami di
Amerika Serikat. Meski kengerian itu ternyata tak bisa dibuktikan secara
ilmiah.
Namun, bagi
spesies ikan Paus HUMPBACK yang
terancam punah, Segitiga Bermuda adalah surga. Badan Kelautan dan Atmosfer AS
atau National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) baru-baru ini
menandatangani nota kesepakatan dengan Departemen Perlindungan Lingkungan
Bermuda untuk mendirikan tempat perlindungan bagi raksasa lembut itu. Tempat
perlindungan di Bermuda adalah mitra dari Stellwagen Bank National Marine
Sanctuary yang juga milik NOAA.
Kehadiran
Bermuda menambah surga bagi hewan mamalia langka ini -- sebelumnya ada di Teluk
Maine, dan Dominica. Juga Nova Scotia, Norway, Greenland and Iceland.
Lokasi suaka di
Bermuda akan melindungi paus dalam koridor migrasi mereka. "Ini adalah
langkah pertama dalam menyusun batu loncatan konservasi seluruh migrasi
mereka," kata Nathalie Ward, koordinator program Sister Sanctuari dari
Stellwagen Bank National Marine Sanctuary.
Ketika wilayah
konservasi Bermuda sudah didirikan akhir tahun ini, NOAA akan mengeluarkan nota
kesepakatan untuk menukar data, termasuk foto ikan paus, mengkoordinasikan
penelitian, pendidikan, dan strategi untuk melibatkan penduduk lokal dalam
konservasi ikan paus.
Mamalia raksasa
itu tak hanya terancam secara langsung oleh manusia -- seperti penangkapan atau
terjaring -- tapi juga secara tak langsung seperti polusi dan kebisingan laut.
"Jika kita tak menyelamatkan binatang itu, itu akan berakibat pada
populasi kita, manusia." (Live Science, umi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar