DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Sabtu, 18 April 2020

Sirna Dalam Cinta Bagian 15


 SIRNA DALAM CINTA

Oleh: Telaga Warna


“Sepertinya kalian berdua bukan orang sini, apa kalian berdua baru di sini atau sekedar mampir untuk sholat subuh berjamaah atau bagaimana ini?” Tanya pak ustadz sedikit menyelidiki. “Iya pak ustadz, kami berdua baru datang semalam, saya keponakannya paman Rozaq dari kampung pak ustadz dan nama saya Roji dan ini sahabat saya dari kampong namanya Anton” Om Roji menjelaskan siapa mereka berdua kepada pak ustadz. “Oh, Pak Rozaq yang kontrakannya di seberang jalan itu ya? Iya ya…? Ya sudah saya lagi ditunggu orang di rumah, saya duluan ya, lanjutkan saja ngobrolnya, kalau ada waktu mampir ya ke rumah bapak, ngobrol-ngobrol n ngopi-ngopi kita di rumah saya” tutur pak ustadz sambil berlalu dari hadapan pamanku dan Om Roji. “Oh, Iya pak Ustadz, hati-hati jalannya masih agak gelap, nanti kami mampir ke rumah pak ustadz” Om Roji membalas perkataan pak ustadz seraya mempersilakan pak ustadz undur diri. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 06: 00 wib dan mereka berdua berlau dari musholla tersebut untuk kembali ke kontrakan paman Om Roji, namun dalam perjalanan mereka berdua di suatu gang yang agak sempit, terdapat kerumunan orang yang sepetinya sedang mengantri sesuatu. Paman dan Om Roji sangat penasaran, gerangan sedang apakah mereka mengantri di gang yang agak sempit itu, mereka berdua penasaran dan mendekati antrian tersebut, dan ternyata itu adalah warung kecil tempat menjual makanan khusus untuk sarapan pagi, paman dan Om Roji pun ikut mengantri. Selang beberapa lama giliran mereka pun tiba, pemilik warung langsung menyapa mereka berdua, “Ade-ade mau beli apa?, dari tadi saya perhatikan ikut mengantri, tapi nunggu sepi ya rupanya, tapi ibu belum pernah melihat kalian berdua?” ibu pemilik warung itu menyapa paman dan Om Roji dengan sedikti basa-basinya.

“Oh iya bu, kami mau memesan beberapa bungkus apa ini namanya? Nasi uduk ya? Dan ibu jualan apa saja?” Om Roji menyaut pemilik warung tersebut. “Iya, ibu jual nasi uduk, ketan, gorengan, kopi dan rook juga ada, n masih banyak lagi yang ibu jual kok”, ibu paruh baya pemilik warung itu menjelaskan dagangannya. “Oh, ini bu… saya pesan nasi uduk sepuluh bungkus, sama gorengannya dua puluh biji, sam kopi satu renteng, kopi item ya bu? Sama rokok surya 4 bungkus”, tutur Om Roji. “Wah banyak sekali pesanannya dek? Emang ada yang mau syukuran ya? Ngomong-ngomong adek ini bukan orang sini ya, ibu baru melihat kalian berdua?”, sambil tertawa kecil kegirangan ibu pemilik warung uduk itu sedikit menggoda dan ada rasa penasaran yang menggelayut di pikiran ibu pemilik warung tersebut. “Oh tidak bu, buat sarapan kami di rumah pamanku, kebetulan saya baru tiba dari kampung semalam, kami keponakannya Om Rozaq bu, tadi habis sholat subuh berjama’ah di musholla pas kami mau pulang ada antrian di sini, jadi kami penasaran bu”, Om Roji menjelaskan dengan jelas dan rinci.

“Oh, iya…. Pak Rozaq yang kontrakannya berada di seberang jalan itu ya, yang anaknya banyak? tapi alhamdulillah itu ada saja miliknya, nyatanya mereka tidak pernah hutang di warung-warung, pekerjaannya juga sekarang sudah alhamdulillah lancer” jelas ibu pemilik warung. “Oh,,, syukurlah kalau begitu, semoga rezeki pamanku terus bertambah dan tidak kurang satu apapun, syukur-syukur bisa kumpul-kumpul untuk membeli sepetak rumah, biar tidak ngontrak seumur hidup pamanku” Om Roji merasa bersyukur dengan keadaan pamannya yang mulai membaik kondisi perekonomiannya. Karena kabar terakhir, menurut kabar burung yang Om Roji dengar perekonomian pamannya kian terpuruk, sehingga banyak hutang yang menumpuk di warung-warung dan semua kabar burung itu tidak benar adany, dengan wajah yang penuh rasa syukur Om Roji benar-benar berhara apa yang dkatakan oleh ibu pemilik warug tersebut benar adanya.

“Benarkah itu bu? Tapi saya mendengar melalui kabar burung, keadaan pamanku itu sangat memprihatinkan, bahkan ada yang mengatakan kalau pamanku itu banyak hutangnya, hutangnya numpuk dimana-mana?” Om Roji bertanya dengan penasaran. “Eh…kata siapa dek, itu kan kabar burung, kabar burung itu banyak tidak benarnya, ibu lahir di sini, ibu juga tau permasalahan yang dihadapi oleh pamanmu itu dulu, karena sebelum mereka berdua menikah ibu sudah ada di sini, warung ini rumah ibu, dan ibu ada di sini sejak paman mu itu belum menikah dengan istrinya sekarang” tutur ibu pemilik warung seraya menegaskan informasi yang sebenarnya kepada Om Roji. “Oh.. iya bu, maaf jadi bertanya yang tidak-tidak sama ibu, pesenan saya sudah bu?” Om Roji langsung menutup percakapan dengan menanyakan pesanannya.

“Oh… maaf ya dek, ibu jadi melantur, sekali lagi ibu minta maaf, ini pesanannya dik, semuanya sudah ada di dalam kantong pelastik ini, nasi uduk 10 bungkus, gorengan 20 biji, kopi 1 renteng dan rokok 4 bungkus”, dengan perasaan yang sedikit canggung dan tidak enak kepada Om Roji, ibu pemilik warung menyerahkan pesanan Om Roji. “Semuanya berapa bu?”, Om Roji menanyakan harga dari pesanannya. “Bentar ya dek ibu hitung dulu, nasi uduk 10 bungkus Rp. 50.000 ditambah gorengan 20 biji, Rp. 20.000 ditambah kopi hitam satu renteng Rp. 12.000, dan rokok 4 bungkus Rp. 100.000, jadi totalnya Rp. 182.000 dek”, ibu pemilik warung menghitung total belanja Om Roji. “Ini bu uanganya Rp. 200.000 ya”, Om Roji menyerahkan dua lembar uang seratusribuan. “Ini dek kembaliannya Rp. 20.000”, ibu menyerahkan uang kembalian duapuluh ribu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar