SIRNA DALAM CINTA
Oleh: Telaga Warna
“Sepertinya
kalian berdua bukan orang sini, apa kalian berdua baru di sini atau sekedar
mampir untuk sholat subuh berjamaah atau bagaimana ini?” Tanya pak ustadz
sedikit menyelidiki. “Iya pak ustadz, kami berdua baru datang semalam, saya
keponakannya paman Rozaq dari kampung pak ustadz dan nama saya Roji dan ini
sahabat saya dari kampong namanya Anton” Om Roji menjelaskan siapa mereka
berdua kepada pak ustadz. “Oh, Pak Rozaq yang kontrakannya di seberang jalan
itu ya? Iya ya…? Ya sudah saya lagi ditunggu orang di rumah, saya duluan ya,
lanjutkan saja ngobrolnya, kalau ada waktu mampir ya ke rumah bapak,
ngobrol-ngobrol n ngopi-ngopi kita di rumah saya” tutur pak ustadz sambil
berlalu dari hadapan pamanku dan Om Roji. “Oh, Iya pak Ustadz, hati-hati
jalannya masih agak gelap, nanti kami mampir ke rumah pak ustadz” Om Roji
membalas perkataan pak ustadz seraya mempersilakan pak ustadz undur diri.
Waktu sudah
menunjukkan pukul 06: 00 wib dan mereka berdua berlau dari musholla tersebut
untuk kembali ke kontrakan paman Om Roji, namun dalam perjalanan mereka berdua
di suatu gang yang agak sempit, terdapat kerumunan orang yang sepetinya sedang
mengantri sesuatu. Paman dan Om Roji sangat penasaran, gerangan sedang apakah
mereka mengantri di gang yang agak sempit itu, mereka berdua penasaran dan
mendekati antrian tersebut, dan ternyata itu adalah warung kecil tempat menjual
makanan khusus untuk sarapan pagi, paman dan Om Roji pun ikut mengantri. Selang
beberapa lama giliran mereka pun tiba, pemilik warung langsung menyapa mereka
berdua, “Ade-ade mau beli apa?, dari tadi saya perhatikan ikut mengantri, tapi
nunggu sepi ya rupanya, tapi ibu belum pernah melihat kalian berdua?” ibu
pemilik warung itu menyapa paman dan Om Roji dengan sedikti basa-basinya.
“Oh iya bu, kami
mau memesan beberapa bungkus apa ini namanya? Nasi uduk ya? Dan ibu jualan apa
saja?” Om Roji menyaut pemilik warung tersebut. “Iya, ibu jual nasi uduk,
ketan, gorengan, kopi dan rook juga ada, n masih banyak lagi yang ibu jual
kok”, ibu paruh baya pemilik warung itu menjelaskan dagangannya. “Oh, ini bu…
saya pesan nasi uduk sepuluh bungkus, sama gorengannya dua puluh biji, sam kopi
satu renteng, kopi item ya bu? Sama rokok surya 4 bungkus”, tutur Om Roji. “Wah
banyak sekali pesanannya dek? Emang ada yang mau syukuran ya? Ngomong-ngomong
adek ini bukan orang sini ya, ibu baru melihat kalian berdua?”, sambil tertawa
kecil kegirangan ibu pemilik warung uduk itu sedikit menggoda dan ada rasa
penasaran yang menggelayut di pikiran ibu pemilik warung tersebut. “Oh tidak
bu, buat sarapan kami di rumah pamanku, kebetulan saya baru tiba dari kampung
semalam, kami keponakannya Om Rozaq bu, tadi habis sholat subuh berjama’ah di
musholla pas kami mau pulang ada antrian di sini, jadi kami penasaran bu”, Om
Roji menjelaskan dengan jelas dan rinci.
“Oh, iya…. Pak
Rozaq yang kontrakannya berada di seberang jalan itu ya, yang anaknya banyak?
tapi alhamdulillah itu ada saja miliknya, nyatanya mereka tidak pernah hutang
di warung-warung, pekerjaannya juga sekarang sudah alhamdulillah lancer” jelas
ibu pemilik warung. “Oh,,, syukurlah kalau begitu, semoga rezeki pamanku terus
bertambah dan tidak kurang satu apapun, syukur-syukur bisa kumpul-kumpul untuk
membeli sepetak rumah, biar tidak ngontrak seumur hidup pamanku” Om Roji merasa
bersyukur dengan keadaan pamannya yang mulai membaik kondisi perekonomiannya.
Karena kabar terakhir, menurut kabar burung yang Om Roji dengar perekonomian
pamannya kian terpuruk, sehingga banyak hutang yang menumpuk di warung-warung
dan semua kabar burung itu tidak benar adany, dengan wajah yang penuh rasa syukur
Om Roji benar-benar berhara apa yang dkatakan oleh ibu pemilik warug tersebut
benar adanya.
“Benarkah itu
bu? Tapi saya mendengar melalui kabar burung, keadaan pamanku itu sangat
memprihatinkan, bahkan ada yang mengatakan kalau pamanku itu banyak hutangnya,
hutangnya numpuk dimana-mana?” Om Roji bertanya dengan penasaran. “Eh…kata
siapa dek, itu kan kabar burung, kabar burung itu banyak tidak benarnya, ibu
lahir di sini, ibu juga tau permasalahan yang dihadapi oleh pamanmu itu dulu,
karena sebelum mereka berdua menikah ibu sudah ada di sini, warung ini rumah
ibu, dan ibu ada di sini sejak paman mu itu belum menikah dengan istrinya
sekarang” tutur ibu pemilik warung seraya menegaskan informasi yang sebenarnya
kepada Om Roji. “Oh.. iya bu, maaf jadi bertanya yang tidak-tidak sama ibu,
pesenan saya sudah bu?” Om Roji langsung menutup percakapan dengan menanyakan
pesanannya.
“Oh… maaf ya
dek, ibu jadi melantur, sekali lagi ibu minta maaf, ini pesanannya dik,
semuanya sudah ada di dalam kantong pelastik ini, nasi uduk 10 bungkus,
gorengan 20 biji, kopi 1 renteng dan rokok 4 bungkus”, dengan perasaan yang
sedikit canggung dan tidak enak kepada Om Roji, ibu pemilik warung menyerahkan
pesanan Om Roji. “Semuanya berapa bu?”, Om Roji menanyakan harga dari pesanannya.
“Bentar ya dek ibu hitung dulu, nasi uduk 10 bungkus Rp. 50.000 ditambah
gorengan 20 biji, Rp. 20.000 ditambah kopi hitam satu renteng Rp. 12.000, dan
rokok 4 bungkus Rp. 100.000, jadi totalnya Rp. 182.000 dek”, ibu pemilik warung
menghitung total belanja Om Roji. “Ini bu uanganya Rp. 200.000 ya”, Om Roji
menyerahkan dua lembar uang seratusribuan. “Ini dek kembaliannya Rp. 20.000”,
ibu menyerahkan uang kembalian duapuluh ribu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar