DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Rabu, 25 Maret 2020

Sirna Dalam Cinta (Bagian 12)

Oleh: Telaga Warna


“Ayah tidak setuju hubunganmu dengan si Anton itu, segera putuskan hubunganmu, dia anak yang tidak punya apa-apa, miskin serta masa depannya suram dan kelam…!!!” Pak Sastro memarahi anak gadis semata wayangnya itu. “Tidak ayah, walaupun dia orang tidak punya, tapi aku sangat mencintainya ayah” tegas Khadijah seraya membantingkan tubuhnya di atas kasurnya.  Kata-kata itu bagaikan petir membelah di siang hari, hatinya remuk mendengar kata-kata ketidaksetujuan kedua orang tua Hadijah, kata-kata itu dia langsung dengar sendiri, manakalah tak sengaja ia ingin bertemu dengan Hadijah untuk pergi berpamitan untuk merantau ke kota mengadu nasib untuk menjadi orang sukses yang diharapkan oleh kedua orang tua Hadijah.

Hati pamanku seakan hancur berkeping-keping, tak akan pernah kembali menjadi satu seperti semula, pamanku berlari sekuat tenaga, dan keesokan harinya pamanku sudah tidak ada lagi di kampung tersebut, karena sudah pergi pagi-pagi buta sekali merantau ke kota di ajak oleh salah satu sahabat setianya merantau bersama. Dalam perjalanannya menuju ke kota untuk merantau pamanku selalu terdiam seribu bahasa, sampai-sampai sang sahabat tak enak hati dicuekin terus oleh pamanku itu. “Anton, kamu kenapa, diam saja dari semenjak kita berangkat, aku tak enak hati ini kamu diamkan Anton?” Bang Markum mencoba menyapanya dan mencoba memecah suasana. Namun tetap saja pamanku diam seribu Bahasa dan tak ada satu kata pun yang meluncur dari mulutnya.

Bibir pamanku seakan terkena lem, tak bisa membuka walaupun untuk satu kata pun, dibuatnya teman pamanku semakin tak enak hati terhadap keadaan pamanku. Setibanya di suatu rest area, sahabat pamanku, Roji ia biasa dipanggil oleh orang-orang di kampungnya, mencoba megajaknya untuk istirahat sejenak, melepas lelah, sholat dan makan serta meminum-minuman yang menyegarkan. Pamanku mulai membuka mulutnya dan memesan secangkir kopi, seraya membuka bekal di dalam tasnya. Hati pamanku yang sejak semalam gudah gulana, galau tak menentu dengan keputusan sang kekasih, membuatnya seribu Bahasa. Pamanku itu juga sebenarnya tidak enak dengan sahabatnya yang selalu menghiburnya selalu atas keadaan pamanku.

“Roji, maafkan sahabatmu ini, hatiku sangat hancur berkeping-keping”, Pamanku mulai kembali membuka mulutnya untuk berbicara sekedar meminta maaf kepada sahabatnya itu. “Minta maaf untuk apa Anton? Kamu tidak salah apa-apa terhadap sahabtmu ini” Om Roji menegaskan akan sikap pamanku. “Aku tahu, kamu ada masalah Anton, tapi aku juga tidak tahu apa masalahmu, sedangkan kamu tidak mengatakan sepatah katapun sejak kita berangkat dari rumah tadi, aku tidak enak hati, jangan-jangan karena aku ajak nekat merantau ini kamu jadi seperti ini, Anton?”, Om Roji sedikit lega dan mencoba mencari alasan keterdiaman pamanku itu.

Sambil menyeruput kopinya, pamanku mulai menceritakan keterdiamannya selama dalam perjalanan lalu, seraya menawarkan beberapa potong makanan bekalnya pamanku mencoba mencairkan suasana itu, dan menjelaskan alasannya terdiam seribu Bahasa selama ini. “Roji, sekali lagi saya minta maaf atas perlakuanku selama perjalanan ini, sebenarnya saya tidak enak untuk menjelaskannya Ji, karena ini menyangkut perasaan pribadiku”, Pamanku mencoba menjelaskn. “Maksudnya apa Ton?, aku tidak paham, apakah kamu terpaksa ikut denganku merantau ke kota ini Ton? Jika kamu tidak mau merantau kenapa engkau mengiyakan untuk ikut, toh aku tidak memaksamu untuk ikut Anton, karena tanpa engkau pun aku tetap berangkat merantau ke kota untuk mencoba peruntunganku dalam mengubah nasibku”, tanya Om Roji dengan tegasnya sambal menjelaskan tujuannya pergi merantau ke kota.

“Bukan itu Ji, justru karena masalah yang aku alami semalam, menjadikan aku semakin kuat dan semangat untuk ikut merantau ke kota, sama kok tujuan kita, yaitu demi menjadi orang sukses dan mengubah nasib kita menjadi lebih baik”, tutur pamanku dengan panjang dan lebar, namun belum mau juga mengutarakan alasan dibalik diamnya pamanku selama perjalanan itu. Om Roji mencoba membaca pikiran pamanku dan menebak-nebak, kira-kira gejolak hati pamanku itu disebabkan oleh apa dan siapa, sedangkan sudah jelas dari pihak keluarga dan ayah pamanku sudah merestui kepergian pamanku dalam merantau. “Ah kamu ini Ton, pasti masalah kekasihmu ya?”, Om Roji sedikit menebak, dan pamanku tersontak seketika atas apa yang dikatakan Om Roji sahabatnya itu.

Pamanku kembali terdiam seribu bahasa, pertanyaan sahabatnya itu membuatnya terkejut, dan tidak akan mengira kalau Om Roji akan menebak-nebak seperti itu. “Apakah kekasihmu tidak mengijinkan kamu pergi merantau Ton?”, Om Roji kembali bertanya dengan singkatnya. “Bukan Ji, bukan seperti itu, aku terdiam seribu bahasa ini memang masih ada kaitannya dengan kekasihku Khadijah, tapi bukan karena dia tidak merestui aku pergi merantau, tapi ayahnya Ji”, pamanku sedikit menyangkal apa yang ditebak Om Roji dengan nada sedih dan kedua matanya mulai berkaca-kaca, seraya menundukkan kepalanya. Kesedihan pamanku tidak dapat dibendung, kesedihan, kekecewaan, kemaran, kebencian, cinta, dan asmaranya berbaur, bercampur aduk menjadi satu, menjadi perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan mudah kepada sahabatnya sendiri.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar