Semilir angin menyelinap dari jendela mobil yang kami tumpangi, menerpa wajah kami yang sedih karena telah meninggalkan orang yang kami sayangi dan kami cintai. Rasa khawatir menggelayuti wajah-wajah kami, khawatir akan apa yang kami lakukan setelah sesampainya di kota, dan juga rasa khawatir kepada sanak keluarga yang ditinggalkan di dusun masing-masing. Rasa khawatir telah meninggalkan orang tua mereka yang sudah renta, akankah orang tua mereka dalam mebajak sawahnya atau menanami lading mereka tanpa kami. Kekhawatiran akan kesetia kekasih-kekasih yang akan dinggalkan, akankah mereka setia menunggu kami hingga sukses dan kembali ke dusun masing-masing, dan menunjukkan kerja keras kami selama di kota dan kesetiaan kami untuk mereka.
Demi cita-cita kami, demi hidup layak dan hidup lebih baik, membangun dusun dan desanya, mengabdi demi memajukan desa kami. Sorot mata kawan-kawan seperjuanganku ini seolah mulai memudar, mereka lebih dahulu merasakan kesedihan akibat perpisahan itu. Lamunan kami tiba-tiba sirna, manakala pamanku menegur kami semua dengan kata-kata yang lembut, dan kata-kata yang menghibur kami, pamanku mencoba memberikan hiburan dan pengertian kepada kami sepanjang perjalanan kami. Dahulu kala, pamanku pun merasakan demikian, ketika pertama kali pamanku masih muda, dengan ambisi dan cita-cita yang menggebu-gebu untuk menjadi orang sukses, dan akhirnya pamanku merantau ke kota.
Kata-kata pamanku ini mengingatkanku akan kisah pamanku yang telah ibundaku ceritakan, kesedihan yang kami rasakan sudah pernah pamanku rasakan terlebih dahulu, namun pamanku membuktikannya dengan kesuksesannya merantau di kota, dan berhasil menjadi pemilik perusahaan yang lumayan besar di kota. Namun pamanku mempunyai pengalaman yang pahit dengan kekasih pamanku dulu di dusun, karena kesalahan pamanku jugalah, kekasih pujaan hati yang menantinya selama bertahun-tahun merantau ke kota dilamar orang. Pada waktu itu ketika pamanku dalam perantauan di kota, tidak mengirimkan sepucuk surat pun, itu menurut penuturan kekasih pamanku, sedangkan pamanku sudah sering mengirimkan surat, namun tak pernah ada jawaban surat dari sang kekasih di dusun.
Sepertinya ada orang lain yang telah menyabotase surat-menyurat mereka berdua, yaitu kedua orang tua kekasih pamanku yang telah melakukannya, karena tidak setuju dengan hubungan mereka. Pamanku orang yang tidak punya, sedangkan orang tua kekasih pamanku orang berada, makanya pamanku nekad merantau demi menjdi orang sukses untuk membuktikannya kepada calon mertuanyanya tersebut. Nahas, nasi sudah menjadi bubur, hubungan mereka tak dapat menjadi satu, sepulang pamanku dari merantau ternyata sang kekasih sudah menjadi milik orang lain, sang kekash sudah menikah dengan pilihan kedua orang tuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar