DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Senin, 23 Maret 2020

Sirna Dalam Cinta (Bagian 11)

Oleh: Telaga Warna


Aku belum percaya dengan kisah pamanku itu seratus persen, karena aku belum pernah mendengar ceritanya langsung dari pamanku, aku juga belum sempat mengobrol panjang lebar dengan pamanku yang satu ini, karena pamanku ini orang yang sibuk di kota. Pulang hanya setahun sekali bersama keluarga dari kota, karena musim lebaran tiba, musim lebaran memang moment yang terbaik untuk bertemu sanak famili di dusun, namun paman dan keluarganya hanya sebentar apabila mampir ke rumahku, karena alasan masih banyak keluarga yang belum dikunjungi, sedangkan pamanku orang yang sibuk sekali apabila sudah di kota.

Pada hari ini juga pamanku menjemput kami langsung dari kota, tidak tahu apakah pamanku sudah istirat belum, untung saja pamanku membawa sopir pribadinya untuk menemaninya selama perjalannya. Istri paman sangat baik, dan anak-anak paman juga sopan dan santun, ganteng-ganteng dan cantik-cantik, mungkin itu juga yang membuat Khumairoh tidak mengijinkanku untuk merantau, takut aku kepincut anak pamanku itu. Aku sempat menjelaskannya kepada Khumairoh, bahwa kami tidak bisa menikah, karena ayahku dan pamanku adalah saudara kandung, jadi tidak boleh menikah, karena nasab kami sangat kuat.

Keluarga kami memang seperti keturunan orang bule, kulitnya putih-putih dan hidungnya mancung-mancung, seperti aku dan anak-anak pamanku, bahkan ada yang cewek sangat cantik, kulitnya putih seperti bule, sedangkan hidungnya mancung. Paman mendidik mereka dengan pendidikan agama yang bagus, itu kenapa mereka sudah ganteng-ganteng dan cantik-cantik, namun juga sopan dan santun serta sholeh dan sholehah, kakek mereka sangat senang dan bahagia dengan cucu-cucunya yang berasal dari anak semata wayangnya itu, sehingga sang kakek sangat menyayangi mereka. Pamanku menitipkan pendidikan anak-anaknya pada lembaga pendidikan islam (Pondok Pesantren Modern).

Suatu hari, ketika pamanku ini bersilaturahmi ke rumahku, aku pernah diberinya nasihat oleh pamanku, kata pamanku, jika kamu ingin menjadi orang sukses, bangunlah tengah malam setiap malam, bermunajatlah kepada Allah swt., dan memohonlah agar Allah mengabulkan cita-citamu. Pesan singkat itu aku selalu ingat, pamanku selalu memperhatikan pendidikanku di desa, sesekali apabila habis tugas dari dekat dengan dusunku selalu mampir, mampirnya pasti ke rumahku. Paman selalu bertanya tentang pendidikanku, dan meminta agar menyelesaikan pendidikanku dengan baik, karena kelak aku akan menjadi orang hebat, pamanku selalu menyemangatiku. Oleh sebab itulah aku sudah membulatkan tekadku untuk merantau dan menjadi orang sukses seperti pamanku ini.

Dalam lamunanku, tiba-tiba kepalaku seperti ada yang mengusap, lembut namun pasti, ternyata itu adalah usapan lembut tangan pamanku, beliau mengelus rambutku sehingga lamunanku dan ingatan akan kisa yang diceritakan oleh bundaku tentang pamanku sirna. Tanpa aku sadari, pipiku basah oleh air mataku, dan pamanku menceritakan kisahnya kepada kami, kisah perantau beliau, dimana belum ada orang di dusunnya yang berani merantau ke kota, hanya pamankulah yang berani pertama kali merantau ke kota dari dusunku. “Sudahlah, kalian jangan bersedih, sekarang mah jaman sudah canggih, kalau kangan sama bunda kalian atau kekasih kalian, kalian tinggal telepon saja ke rumah pak lurah, atau rumah paman di dusun, biar si minah yang nyampein, hehehe” tutur pamanku sambil tertawa untuk menghibur kami yang murung.

“Apa sekarang mah, kalau kangen tidak usah tulis surat, tinggal pendet nomor, kring-kring terdengar dech suara kekasih kalian, penang dan penyejuk hati kalian” pamanku meneruskan candaannya. Kami pun mulai mengerti dan senyum pun mengembang di masing-masing bibir kami, dan pamanku pun melanjutkan kata-katanya, “Nah, begitu donks, itu namanya anak muda, anak muda itu hatinya harus kokoh dan tegar, empat sampai lima tahun itu tidak lama, apalagi kalau ada libur lebaran, kalian bisa pulang kok”. Pamanku mencoba menegaskan dan memberi kami kenyataan, kami memang masih polos, kami belum pernah pergi jauh, paling jauh paling ke dusun tetangga atau ke kantor desa dan lain sebagainya.

“Zali, paman terharu sekali dengan perpisahanmu dengan kekasihmu itu, seperti di film-film saja, hahaha”, pamanku mencoba menggodaku, dan seisi mobil itu menertawakanku, akupun tersipu malu dan menyambut ledekan pamanku itu dengan kata-kataku yang polos, sambil nyengir, “Ah, pamanku bisa saja, namanya juga anak muda paman, heeee”. “Nah, begitu dong, masa ia dari tadi paman dicuekin ceh sama kalian, sampe-sampe paman ilfil”, kata pamanku dengan kata-kata istilah kekota-kotaannya, seraya mengusap-usap punggungku dan memelukku dari samping karena kami mulai merespon pamanku. “Apakah kalian ingin tahu kisah paman dulu merantau, pengen tahu, pengen tahu tidak?” pamanku bertanya.

Kami langsung mengiyakan pertanyaan paman tersebut, kami gembira apabila paman mau menceritakan kisah perantaunnya dulu, mungkin kisah merantaunya pamanku ini bisa kami ambil pelajaran di dalamnya. Pamanku mulai membenahi posisi duduknya seraya menarik nafas dalam-dalam, beliau terdiam sejenak, wajah ceria dan gembiranya mulai memudar, kini yang nampak adalah wajah kesedihan dan kekecewaan, matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya gemetar, seperti sedang merasakan kesedihan dan kepadihan yang amat mendalam, kegetiran perjuangan pamanku di masa lalunya yang penuh onak dan duri.
____<<<>>>____

çKEMBALI = LANJUTè

Tidak ada komentar:

Posting Komentar