Dihadapkan dengan pilihan yang sulit, semua pilihannya adalah dosa besar. Pintu kamar sudah dikunci dari luar. Berpikir dengan keras untuk mencari jalan keluar. Akhirnya sang alim ulama mendapatkan pemikiran yang menurutnya sangat logis. Minum minuman air keras saja yang aku minum. Bukankah minuman keras termasuk dosa yang biasa saja, dosanya kecil dan tidak membuat orang lain merugi. Sebotol demi sebotol minuman keras itu ditenggaknya, habis satu botol diambil lagi satu botol. Habis beberapa botol, kesadaran sang alim ulama mulai hilang, pandangannya kabur, memandang sang perempuan dengan penuh birahi, mendengar suara bayi yang menangis membuat kumpingnya terasa sesak dan berisik. Pelan namun pasti, sang alim ulama mulai bangkit dari tempat duduknya dan melihat perempuan yang berada di sudut ruangan tersebut.
Dengan pandangan yang penuh birahi, sang alim ulama mendekati perempuan tersebut dan mendekapnya, sehingga sang perempuan seraya memohon dan berkata, “Jangan tuan, jangan ganggu aku, jangan jahati aku, jangan apa-apakan aku tuan,” pinta sang perempuan. Sang alim ulama dengan kesadaran yang sudah hilang sama sekali, tak mempedulikan permintaan dan permohonan sang gadis. Maka, akhirnya perbuatan itu terjadi, sang alim ulama memperkosa perempuan tersebut dengan ganasnya, dan tidak cukup sekali sang alim ulama itu menjamahnya.
Bayi yang berada di salah satu sudut ruangan tersebut menangis sekencang-kencangnya, entah karena lapar atau entah karena suara perempuan yang menjerit meminta tolong tersebut yang membuat si bayi menangis. Merasa tangisan si bayi tersebut mengganggunya, sang alim ulama mendekatinya dan memukul dengan sekeras-kerasnya hingga tewas, bukannya sang alim ulama merasa kasihan malah dia tertawa sekencang-kencangnya, merasa dirinya sudah menang karena si bayi taka da lagi suaranya.
Pada akhirnya, minuman yang ada di meja tersebut ditenggaknya semua hingga habis tak bersisa, ketika minumannya habis, dia pun marah dan geram dan akhirnya kemarannya dia lampiaskan kepada perempuan itu, lagi dan lagi hingga kesadannya benar hilang dan tubuhnya terkelapar-kelapar di lantai dan tak sadarkan diri. Sementara si perempuan juga jatuh pingsan akibat kekerasan yang di terimanya. Mereka berdua tak sadarkan diri di dalam ruangan tersebut dengan banyaknya pecahan kaca botol minuman dan sesosok mayat bayi yang tergeletak.
Keesokan harinya,…
Sang alim ulama sadar dari pingsannya, menyadari dirinya berada dalam penjara, kedua tangan dan kedua kakinya dirantai. Dia sangat terkejut dan mencoba mengingat kembali kejadian apa yang telah membuatnya dirantai kedua tangan dan kakinya dan dipenjarakannya diri. “Penjaga, penjaga, apa yang terjadi terhadap saya? Kenapa aku ada dalam penjara? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?”. Penjaga penjara hanya tertunduk dan berkata, “Apakah tuan tidak ingat dengan apa yang telah tuan lakukan?”. “Aku tidak ingat apa-apa penjaga?,” kata sang alim ulama. “Tuan telah membantai seorang bayi dengan kejamnya dan memperkosa seorang perempuan dengan bejatnya, apakah tuan tidak ingat dengan semua itu, engkau kejam tuan?” penjaga itu menjelaskan dengan nada sangat marah. “Besok tuan akan dihukum gantung di alun-alun sebagai balasan hukuman dari perbuatan keji tuan, dan sebagai contoh kepada warga masyarakat, bahwa beginilah hukumannya apabila melakukan perbuatan keji tersebut.” Jelas sang penjaga penjara dengan nada yang geram.
“Tuanku, dimana engkau? Inikah pebuatan dosa tuan itu? Sehingga tuan bisa beribadah tiga hari tiga malam tanpa tidur, tanpa makan, tanpa minum?” Grutu sang alim ulama memanggil ulama yang pernah mampir dan menginap di pondoknya selama tiga hari-tiga malam hanya untuk beribadah dan bertaubat kepada Allah swt. Mengingat kejadian itu, sang alim ulama merasa tenggorokannya tercekik, dadanya sesak dan jatuh pingsan dan tak sadarkan diri lagi selama semalaman.
Keesokan harinya,…
Dia tersadar, sudah ada dalam tiang gantungan, kedua tangan dan kakinya dirantai sedangkan lehernya dikalungi tali jerat yang siap akan ditarik tepat pada waktunya. Waktunya tengah hari, tepat matahari berada di tengah-tengah atau tepat berada di atas kepala manusia. Dengan wajah yang ketakutan dia memohon agar dia dilepaskan dari jeratan itu.
Sang alim yang menginap di pondoknya itupun muncul dihadapannya, dengan sekejap mata sang alim ulama memohon kepada sang alim untuk melepaskannya. Dan sang alim berkata, “Tenang saja, aku akan menyelamatkan tuan bertepatan dengan tali ini mau di Tarik, tenang saja ya?”, “Tapi tuan, aku mohon lepaskan aku sekarang juga, aku sudah tidak kuat lagi, aku mohon tuan!” Sang alim ulama memohon agar dilepaskan dari hukuman itu. Sang alim pun terus menangkannya, dengan terus mengatakan bahwa nanti pada saatnya aku akan menyelamatkannya, begitu terus dan terus sambil meyakinkan sang alim ulama.
Apakah sang alim akan menyelamatkan sang alim ualam…???
Nantikan kisah selanjutnya di “Ki Barsisoh, Kisah Sakaratul Maut yang Mendebarkan” Part. 3

Tidak ada komentar:
Posting Komentar