Pada suatu hari di sebuah tempat….
Seorang ‘alim ulama yang telah banyak melahirkan murid-murid yang sangat berbakat dan berilmu tinggi, bahkan murid-muridnya saja bias terbang di awan hanya dengan mengamalkan bismillah.
Pada suatu waktu beliau kedatangan tamu dengan berpakaian layaknya seorang ‘alim ulama. Sang tamu minta izin untuk menginap beberapa hari di tempatnya.
Sang tamu terlihat sangat mengagumkan di mata sang alim ulama, karena selama sang tamu menginap tidak pernah kelauar dari kamarnya dan selalu beribadah dan memohon ampunan kepada Allah swt., tatkala suara zikir dan permohonan doa dan ampunannya terdengar dari luar kamar. Dengan rasa penasaran sang alim ulama mengintip di lubang pintu, gerangan apa yang dilakukan sang tamu, mengapa suarau zikir dan permohonan do’anya begitu menyentu dan penuh dengan pengharapan dan tidak pernah keluar untuk makan dan minum.
Selang beberapa hari kemudian sang tamu keluar dari kamarnya dan sang alim ulama pun bertanya dengan penuh rasa penansaran, “Gerangan kiranya apakah yang tuan harapkan dengan berzikir setiap hari dan berdoa dengan penuh pengharapan, bukankah ibadah tuan sudah cukup untuk membawa tuan ke dalam keridhaan Allah swt.?”. Sang tamu tersenyum dan mengatakan “Aku ini orang yang penuh dengan dosa, aku ini adalah orang yang telah banyak melakukan maksiyat sehingga dosa-dosa saya tidak pernah akan diampuni oleh Allah swt.”. Sang alim pun bertanya kembali seraya penuh rasa penasaran, “Dosa apakah gerangan yang dilakukan tuan sehingga tuan beribadah, berzikir, dan memohon ampunan sedemikian rupa, bisakah aku melakukan seperti yang tuan lakukan, yaitu bisa beribadah dengan khusyu, berzikir dan selalu memohon ampunan-Nya dengan harapan ampunan-Nya yang sedemikian rupa tersebut.” Sang tamu berkata, “Jika tuang penasaran dengan dosa yang telah aku lakukan, datanglah nanti malam di warung remang-remang di ujung jalan sana, dan sekarang saya mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan saya. Terimakasih atas jamuannya dan tempatnya selama tiga hari ini. Wassalamu’alaikum waohmatullohi wabarokatuh.” Demikian sang tamu menutup perkataannya dan memohon pamit untuk melanjutkan perjalanannya.
Dengan rasa penasaran sang alim ulama memikirkan perkataan-perkataan tamunya. Kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan gerangan apakah yang dilakukan sang tamu sehingga dia beribadah selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum.
Gelap pun tiba, hari menjelang malam, dalam ibadahnya sang alim ulama masih ada rasa penasaran sehingga tidak bisa khusyu dalam sholatnya. Selesai sholat dan berzikir, sang alim ulama penuh rasa penasaran berangkat menuju tempat yang ditunjuk oleh tamunya. Di warung remang-remang, di ujung jalan tersebut.
Di tempat tersebut sang alim ulama menyapu seluruh tempat tersebut dengan matanya yang tajam dan di salah satu sudut ruangan tersbut dia menemukan sang tamunya dulu sedang duduk santai sendirian, kemdian sang alim ulama mendekati dan menjumpainya.
Sang tamu itu melambaikan tangannya mengisyaratkan memanggil sang alim ulama. Setelah berada di tempat sang tamu, sang tamu menyilakan untuk duduk kepada sang alim ulama. Sang alim ulama bertanya, “Mengapa tuan ada di sini, gerangan apa yang tuan lakukan di sini”, bertanya dengan penuh rasa penasaran. Sang tamu berkata, “Ya, di sinilah aku terjebak dosa besar, dosa yang tidak mungkin Allah mengampuni dosa-dosaku.” Rasa penasaran sang alim-ulama semakin memuncak. Kemudian sang tamu mengajak sang alim ulama untuk masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar tersebut sudah disiapkan oleh sang tamu puluhan minuman keras, bayi, dan seorang perempuan.
“Apa ini, apa semua ini” Tanya sang alim ulama. Sang tamu berkata, “Inilah dosa yang pernah aku lakukan, pilihlah salah satunya, minum-minuman keras, membunuh bayi, atau berzina.” Sang alim dengan rasa terkejut yang luar biasa dan rasa tidak percaya dan berkata, “Ini tidak mungkin tuan, ak tidak bias melakukan semua ini, ak tidak mau tuan.” “Ya inilah yang aku lakukan sehingga aku bias beribadah tiga hari-tiga malam tanpa keluar dari kamar, inilah yang telah aku lakukan. Silakan kalua tidak percaya, bukankan tuan penasaran dengan apa yang aku lakukan.” Kata sang tamu.
Dihadapkan dengan pilihan yang sangat sulit, pilihan di mana harus memilih salah satu perbuatan dosa agar bisa beribadah dengan tekun dan memohon ampunan kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Padahal ibadahnya sendiri, ibadah sang alim ulama sudah sangat luar biasa dan doanya sudah menembus arsynya Allah swt.
Pilihan yang sangat sulit memang, rasa percaya dirinya dalam beribadah kepada Allah swt. hilang dengan hanya rasa penasaran ibadah orang lain. Apakah yang akan dilakukan sang alim ulama, akankah beliau menuruti apa yang dikatan oleh sang tamu.
Nantikan kisah selanjutnya di “Ki Barsisoh, ‘Alim Ulama yang Tersohor Namun Sakaratul Mautnya dalam Keadaan Suul Khotimah (Na’udzubillah Tsumma Na’udzu Billah)” Part. 2

Tidak ada komentar:
Posting Komentar