ANAK SHOLEH VERSUS ORANG TUANYA
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Sebuah kisah menceritakan, bahwa ada seorang ulama yang wara’, beliau pernah bermimpi, dan di dalam mimpinya tersebut beliau melihat pemakaman yang luas. Sedangkan di pemakaman tersebut banyak orang yang sedang mengorek-ngorek tanah dan rumput serta daun-daunan yang kering di sekitar makam mereka masing-masing. Beliau mencoba mendekati mereka dan bertanya kepada salah seorang dari mereka, “Assalamu’alaikum warohatullohi wabarokatuh”. Salah satu di antara mereka yang mendengar ucapan salam tersebut yang kebetulan didekati oleh sang ulama menjawab salam sang ulama tersebut, “Wassalamu’alaikum warohmatullhoni wabarokatuh”.
“Maaf tuan, saya mau bertanya, gerangan sedang apakah anda dan mereka-mereka ini, mengapa anda dan mereka terlihat sibuk sedang mengorek-ngorek tanah atau rumput atau dedaunan kering di sekitar masing-masing makam mereka?” tanya sang ulama dengan rasa penasaran. Sedangkan orang yang ditanya tersebut kemudian menceritakan gerangan apakah kiranya yang sedang mereka lakukan seraya berkata, “Kami sedang mancari serpihan-serpihan pahala yang diberikan oleh atau didoakan oleh umat muslimin dan muslimat di dunia kepada kami yang kaum muslimin dan muslimat yang sudah meninggal dunia.”
Sang ulama terkejut dalam mimpinya tersebut, dan bergumam di dalam hatinya, namun sang alim tak bisa menyembunyikan wajah keterkejutannya tersebut dari orang yang di tanyainya. “SubhanaAllah, ternyata mereka sudah meninggal dunia, dan mereka mencari serpihan-serpihan do’a yang dimunajatkan oleh muslimin dan muslimat di dunia yang dimunajatkan secara umum yaitu untuk muslimin dan muslimat yang masih hidup ataupun sudah meninggal.” Sehingga orang tersebut bertanya kembali kepada sang ulama, “Kenapa tuan, kenapa wajah Anda pucat dan seakan Anda terkejut?”.
Sang ulama menjawab, dengan mulut ternganga dan sedikit terkejut, menjawab pertanyaan tersebut untuk menutupi keterkejutannya tersebut, “Ah tidak, mungkin aku belum istirat saja jadi wajah saya terlihat pucat, karena memang sudah beberapa hari ini saya kurang istirahat”. “Terus, apa yang dilakukan oleh anak-anak tuan atau cucu-cucu tuan, atau sanak keluarga handai tolan tuan, sehingga Anda harus mengais-ngais tanah dan rerumputan ini?” tanya sang ulama kembali kepada orang tersebut dengan rasa penasaran.
Ia pun menjelaskannya dengan pelan dan terlihat di wajahnya raut kesedihan, “Anak-anak atau cucu-cucu atau sanak family keluarga handai tolan kami telah lupa dan melupakan kami, dan benar-benar telah melupakan kami. Sering kami berkunjung di setiap Malam Jum’at dimana pada malam itu kami diizinkan untuk mengunjungi anak dan cucu serta sanak saudara dan handai tolan kami, sekedar mencuri dengar apa yang dilakukan oleh mereka, sudahkah mereka membacakan sepotong ayat yang dikhususkan untuk kami. Kami pergi ke salah satu anak tertua kami, di sana tidak ada satupun orang yang membaca sepotong ayat pun lebih-lebih yang disodaqohkan khusus kepada kami, terus kami berkunjung lagi ke anak yang lain, dan sama seperti dengan apa yang dilakukan anak tertua kami, yang ada mereka sedang asik mansyuk bercengkrama dengan handphone atau gadget atau menonton televisi. Tidak ada yang sholat, tidak ada yang mengaji, tidak ada yang mengirimkan secuilpun do’a untuk kami semua. Kami kesana dan kemari, dari sanak saudara yang satu ke sanak saudara yang lain, terus dan terus seperti itu, sampai waktu menjenguk pun habis. Pada malam-malam Jum’at selanjutnya pun sama tuan, kami sedih, kami menangis, kami merintih, sakit seperti tersayat sembilu dengan perilaku dan tingkah laku anak dan cucu kami, di sini di alam kubur ini tuan.”
Sang ulama terdiam seribu bahasa mendengarkan cerita orang tersebut, di dalam hatinya di dalam diam mereka berdua sang ulama menggerutu, “SubhanaAllah, ada ya anak seperti itu?, aku tidak menyangka ternyata anak-anak tuan ini seperti itu semua sifatnya, mereka seperti kacang lupa kulitnya, hmmm…” Sang ulama kembali bertanya kepada orang tersebut, “Kiranya apa yang telah Anda lakukan semasa Anda di dunia? Sudahkah Anda mendidik anak-anak tuan dengan benar sesuai syariat islam? Sudahkah Anda mengenalkan mereka dengan Agama, tuan? Sudahkah mereka dikenalkan dengan Allah dan Rasul-Nya? Atau sudahkah Anda menitipkan mereka dalam pendidikan-pendidikan Islam, minimal?”.
Pertanyaan-pertanyaan itu seperti petir di siang bolong bagi orang tersebut, telinganya sakit mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut, dia terkejut mendengar pertanyaan itu, kenapa pertanyaan itu keluar dari mulut sang ulama. Hatinya hancur, sakit, pedih, dan tersiksa, bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dia jatuh tersungkur bersujud memohon ampunan kepada Allah swt. penyesalan pun menggelayut di dalam sanubari mereka, mereka salah dalam mendidik anak-anak dan cucu-cucu mereka, mereka terlalu memanjakan anak-anak dan cucu-cucunya.
Setelah bangun dari sujudnya, dia terduduk dengan tubuh yang lunglai, dan wajahnya tertunduk menatap rumput dan tanah merah di bawah kaki sang ulama, kemudian dia menengadahkan wajahnya ke langit seraya berkata, “Astagfirullahal’adhiim, Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku karena aku tidak mendidik anak-anakku dengan pendidikan islam, aku tidak mengenalkan Engkau kepada mereka, tidak mengenalkan Rosul-Mu kepada mereka, dan tidak menitipkan mereka kepada lembaga-lembaga pendidikan Islam.” Rintihan permohonan ampun kepada Allah swt tersebut telah menjawab pertanyaan-pertanyaan sang ulama, namun dia melanjutkan ucapannya, “Ia tuan, saya tidak mendidik mereka dengan Agama Islam, saya tidak mengenalkan mereka dengan Allah dan Rosul-Nya, dan tidak pernah menitipkan mereka kepada pendidikan-pendidikan Islam, mereka kami manja dengan harta benda yang aku miliki, usaha saya sukses dunia dan kami menjadi hartawan, tapi bukan dermawan, usaha saya suskses tapi bukan penyantun fakir miskin dan yatim piatu. Kami lupa dengan hingar binger duniawi tuan. Anak-anak kami manjakan, hampir setiap hari kami pergi ke Mall, kami biarkan mata anak-anak kami tertuju pada gadget atau handphone atau tablet. Kami membiarkan mereka bersenang-senang, berhura-hura, shoping, dan lain sebagai. Kami telah melupakan Islam pada saat dan waktu itu, kami terlena oleh duniawi, kami lalai dengan jebakan harta, kami lupa akibat harta yang telah menutupi mata dan mata batin kami.”
Demikianlah rintih orang tua tersebut, dengan kata-kata yang tertatih, terputus-putus menjelaskan semuanya. Namun, tetap saja penyesalan mereka tidak dapat diubah, di dalam benak mereka berkata, “Seandainya waktu dapat diputar kembali, maka aku akan mendidik anak-anakku dan cucu-cucuku dengan Pendidikan Islam, akan aku perkenalkan mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, akan aku titipkan mereka di pondok-pondok pesantren tempat pendidikan islam.” Penyesalan tinggal penyesalan, waktu tidak dapat diputar kembali, nasi sudah menjadi bubur, namun bagaimana caranya agar bubur tersebut dapat dinikmati dengan sebaik-baiknya, berikan dia kuah, serpihan-serpihan daging ayam, bumbu penyedap dan lain sebagainya.
Karena waktu tidak dapat diputar kembali, karena bubur tidak dapat kembali menjadi beras atau nasi, menyesalpun tiada berguna, namun bagaimana caranya agar anak-anak dan cucu-cucu mereka kembali ke jalan Allah, sehingga dapat mendo’akan kedua orang tuanya yang sudah tiada, maka jalan yang terbaik adalah memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar Allah memberikan hidayah-Nya kepada anak cucu mereka. Hanya dengan demikian waktu yang sudah tidak dapat diputar kembali atau nasi yang sudah menjadi bubur dapat dinikmati oleh semua orang.
____<<<>>>____

Tidak ada komentar:
Posting Komentar