DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Sabtu, 23 Oktober 2021

Boku No Hero Academia Season IV Episode 14 Subtitle Indonesia

 


Boku No Hero Academia Season IV Episode 13 Subtitle Indonesia


 

Boku No Hero Academia Season IV Episode 12 Subtitle Indonesia

 


Boku No Hero Academia Season IV Episode 11 Subtitle Indonesia


 

Boku No Hero Academia Season IV Episode 09 Subtitle Indonesia


 

Kisah Isro Mi'raj Nabi Besar Muhammad SAW

Kehadiran Rasulullah SAW mendakwahkan kebenaran dari Allah SWT rupanya membuat orang-orang musyrik Makkah benar-benar kehilangan kesabaran. Rintangan dan terror yang ditujukan kepada Nabi dan para pengikutnya tidak lagi mempertimbangkan waktu. Orang-orang Musyrik benar-benar tidak memberikan sedikitpun kepada Rasulullah dan para pengikutnya untuk dapat bernafas lega dari kedengkian dan kejahatan mereka. Namun pada tahun kedelapan dari kenabian, Rasulullah SAW justru mendapatkan beberapa cobaan yang teramat berat baginya dan bagi para pengikutnya. Ujian itu adalah embargo kaum kafir Quraisy dan sekutunya terhadap umat Islam. Aksi embargo ini masih dijalankan meskipun waktu telah memasuki bulan Haram. Artinya Nabi beserta para sahabatnya tetap merasakan penganiayaan dan kedhaliman dari mereka yang biasanya menghentikan segala aktivitas permusuhan terhadap lawan-lawannya.<> Setelah delapan tahun mendakwahkan agama Allah kepada kaumnya dengan didampingi dan dilindungi oleh dua orang kuat suku Qurays, yakni pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah, maka pada tahun ini Rasulullah pun harus rela ketika keduanya dipanggil menghadap Sang Rabb. Dengan demikian, pada waktu itu Nabi tiada lagi memiliki pembela yang cukup kuat di hadapan kaumnya sendiri yang memusuhi kebenaran. Dalam sejarah Islam tahun ini disebut ’amul huzni, tahun kesedihan. Rasulullah kemudian mengijinkan para pengikutnya untuk berhijrah ke Thaif. Namun rupanya Bani Tsaqif yang menguasai tanah Thaif tidaklah memberikan sambutan hangat kepada para sahabatnya. Mereka yang datang meminta pertolongan justru diusir dan dihinakan sedemikian rupa. Mereka dilempari batu hingga harus kembali dengan kondisi berdarah-darah. Keseluruh cobaan berat ini dialami Rasulullah dan para sahabatnya pada tahun yang sama, yakni tahun kedelapan kenabian. Atas cobaan yang teramat berat dan bertubi-tubi ini, maka Allah SWT kemudian memberikan ”sekadar hiburan” kepada Muhamad SAW yang sedang berkabung dengan segala keadaan dan perasaannya. Rasulullah menerima ”sepaket perjalanan rekreasi” untuk menyegarkan kembali ghirroh (semangat) perjuangannya dalam menegakkan misi Tauhid di Bumi. ”Paket perjalanan” yang kemudian disebut sebagai Isra’ Mi’raj ini sejatinya adalah sebuah pesan kepada seluruh umat Muhammad bahwa, segala macam cobaan yang seberat apa pun haruslah kita lihat sebagai sebuah permulaan dari akan dianugerahkannya sebuah kemuliaan kepada kita. Dalam peristiwa itu, tepatnya 27 Rajab, Nabi Muhammad SAW dapat saja langsung menuju langit dari Makkah, namun Allah tetap membawanya menuju Masjidil Aqsha, pusat peribadahan nabi-nabi sebelumnya. Ini dapat berarti bahwa umat Islam tidak memiliki larangan untuk berbuat baik terhadap sesama manusia, sekalipun kepada golongan di luar Islam. Hal ini dikarenakan, Islam menghargai peraturan-peraturan sebelum Islam, seperti halnya khitan yang telah disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Perintah Shalat Setelah melampaui Masjidil Aqsha, Nabi langsung diangkat naik sampai ke langit tujuh, lalu Sidratul Muntaha dan Baitul Ma’mur. Imam Al-Bukhari meriwayatkan, pada saat peristiwa Mi’raj, Nabi Muhammad SAW berada di Baitul Ma’mur, Allah SWT mewajibkannya beserta umat Islam yang dipimpinnya untuk mengerjakan shalat limapuluh kali sehari-semalam. Nabi Muhammad menerima begitu saja dan langsung bergegas. Namun Nabi Musa AS memperingatkan, umat Muhammad tidak akan kuat dengan limapuluh waktu itu. ”Aku telah belajar dari pengalaman umat manusia sebelum kamu. Aku pernah mengurusi Bani Israil yang sangat rumit. Kembalilah kepada Tuhanmu dan mitalah keringanan untuk umatmu.” Nabi Muhammad kembali menghadap Sang Rabb, meminta keringanan dan ternyata dikabulkan. Tidak lagi lipapuluh waktu, tapi sepuluh waktu saja. Nabi Muhammad pun bergegas. Namun Nabi Musa tetap tidak yakin umat Muhammad mampu melakukan shalat sepuluh waktu itu. ”Mintalah lagi keringanan.” Nabi kembali dan akhirnya memeroleh keringanan, menjadi hanya lima waktu saja. Sebenarnya Nabi Musa masih berkeberatan dengan lima waktu itu dan menyuruh Nabi Muhammad untuk kembali meminta keringanan. Namun Nabi Muhammad tidak berani. “Aku sudah meminta keringanan kepada Tuhanku, sampai aku malu. Kini aku sudah ridha dan pasrah.” Nabi Muhammad memang mengakui bahwa pendapat Nabi Musa AS itu benar adanya. Lima kali shalat sehari semalam itu masih memberatkan. Namun lima waktu itu bukankah sudah merupakan bentuk keringanan?! Demikianlah.

 


Kebahagiaan Sejati

 Assalamu’allaikum Warohmamtullohi Wabarokatuh

Bahagia menurut “Kamus Lengkap Bahasa Indonesia” oleh Hoteomo, M. A., merupakan kata benda yang berarti suatu keadaan atau perasaan senang tenteram yang berarti juga bebas dari segala yang menyusahkan, suatu keadaan yang beruntung dan berbahagia. Kata bahagia setelah di beri awalan “ke” dan akhiran “an” atau imbuhan berupa awalan dan akhiran “ke-an”, mempunyai arti suatu perasaaan bahagia sehingga menimbulkan kesenangan dan ketentraman hidup secara lahir maupun batin yang selalu dinaungi oleh keberuntungan dan kemujuran dalam sifat lahir dan bantin.

Sedangkan kata “sejati” berarti tulen, sungguh, asli dan murni. Jadi, Kebahagiaan Sejati adalah suatu perasaan bahagia yang menimbulkan kesenangan dan ketentraman hidup dan selalu dalam naungan keberuntungan dan kemujuran secara lahir dan batin yang benar-benar terjadi, tulen, sungguh-sungguh, asli dan murni tanpa kebohongan atau hanya khayalan belaka, dan juga kebahagiaan yang bukan mimpi belaka. Kebahagiaan inilah yang selalu diinginkan oleh setiap insan manusia, yaitu kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang sebenarnya.

Perasaan bahagia dan kebahagiaan tidak akan dapat kita nikmati rasanya manakalah kita sendiri belum pernah merasakan ketidakbahagiaan, kesengsaaraan, kesulitan, penderitaan dan lain sebagainya sebagai lawan kata dari kebahagiaan. Dengan merasakan sifat-sifat buruk dari kebahagiaan dalam kehidupan kita, maka kita akan merasakan kebahagiaan itu, lebih-lebih kebahagiaan sejati, kebahagiaan yang sesungguhnya, kebahagiaan yang sebenarnya, kebahagiaan yang murni dan asli tanpa adanya rekayasa, bukan kebahagiaan yang penuh fatamorgana atau tipu muslihat.

Kita akan merasakan adanya malam karena adanya siang, begitupun sebaliknya kita dapat meraskan adanya siang karena adanya malam. Kita dapat merasakan adanya kebahagiaan sejati karena adanya ketidakbahagiaan sejati. Di alam dunia ini semuanya telah Allah swt. ciptakan berpasang-pasangan ada laki-laki dan perempuan untuk saling menikmati dan merasakan perbedaannya. Adanya siang dan adanya malam untuk merasakan perbedaan malam dengan perbedaan siang. Adanya kebahagiaan dan ketidakbahagiaan sebagai landasan untuk merasakan mana yang namanya rasa bahagia dan mana yang namanya rasa tidak bahagia.

Kebahagiaan tidak diukur oleh materi dan harta benda yang dimiliki oleh setiap orang, karena kebahagiaan dapat kita rasakan manakala kita bisa berbagi penderitaan dengan orang lain juga akan menimbulkan suatu kebahagiaan. Kebahagiaan sejati tidak pula dinilai dari besarnya rumah hunian kita, tidak pula dinilai dari berapa banyak kendaraan yang kita miliki, kebahagiaan sejati di dunia adalah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli oleh harta benda, karena orang yang tidak mampu pun berhak mendapatkan kebahagiaan sejatinya.

Selain itu, kebahagiaan sejati juga dapat kita rasakan kelak di akhirat, manakala kita telah mampu melewati segala cobaan dan ujian dari Allah swt. ketika kita berada di alam dunia yang fana ini. Coba dan ujian untuk menjadi insan yang takwa, insan yang istiqomah dalam ketakwaannya, lulus dalam setiap cobaan dan ujian yang diberikan oleh Allah swt. kepada setiap hamba-hamba-Nya. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan di akhirat kelak yaitu kita dapat menikmati surganya Allah swt. yang khusus dihadiahkan kepada kita insan-insan yang muttaqin.

 

Demikian ulasan singkat tentang kebahagiaan dan kebahagiaan sejati, dimana kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan yang sebenarnya, kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukan kebahagiaan yang hanya bersifat mimpi dan menipu serta bukan kebahagiaan yang bersifat fatamorgana. Untuk dapat menikmati sebuah kebahagiaan, maka kita harus merasakan kesengsaraan, penderitaan, kesusahan, ketidakbahagiaan sebagai pembanding, apakah kita sudah bahagia atau belum. Kebahagiaan adanya di dalam hati sanubari yang paling dalam.

Semoga bermanfaat. Aamiin

è Sukses Selalu dan Salam Tadabbur ç

Wassalamu’allaikum Warohmamtullohi Wabarokatuh

Arti Waqaf, Tanda -Tanda Waqaf, Macam-Macam Waqaf serta Hukum Waqaf dalam Kitab Suci al-Qur’an

Bagi yang belum tahu apa itu tanda waqaf, tentunya akan bertanya-tanya. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan waqaf dalam al-Qur’an itu?. Lalu apa saja tanda-tanda waqaf yang terdapat dalam al-Qur’an.

Sebelum dilanjutkan kita harus tahu dulu. Meski penulisan waqaf itu sama tetapi kata waqaf ini dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai dua pengertian. Pertama, waqaf yang dilihat dari segi pemakaian harta atau benda berharga, yang mana harta atau benda tersebut bisa digunakan untuk kepentingan bersama.

Kedua, waqaf yang merupakan bagian dari ilmu tajwid, yang mempunyai arti berhenti sebentar. Meskipun nafas kita masih kuat untuk melanjutkan bacaan dalam suatu ayat al-Qur’an.

Dalam kesempatan ini, kita akan belajar mengenai tanda-tanda waqaf yang merupakan bagian dari ilmu tajwid, guna mengetahui macam-macamnya dan fungsinya.

Daftar Bab

Arti dan Fungsi Waqaf (وَقَفْ   menurut Ilmu Tajwid)

Ditinjau dari segi bahasa waqaf mempunyai arti berhenti atau menahan. Adapun dalam ilmu tajwid, pengertian waqaf adalah berhenti sejenak ketika membaca suatu lafadz atau berhenti sebentar pada kalimat yang terdapat tanda waqaf guna mengambil nafas untuk melanjutkan kembali bacaan ayat selanjutnya.

Berbeda dengan washal yang punya arti sambung atau terus. Artinya ketika membaca ayat al-Qur’an boleh diteruskan dan tidak perlu menghentikan bacaan.

Jenis – Jenis Waqaf

Dalam belajar mengenai waqaf ini terdapat pula jenis-jenis waqaf. Jenis waqaf ini ada empat:

1. Waqaf Taamm (وَقَفْ تام). Waqaf yang sempurna. Disebut demikian karena memberhentikan suatu bacaan secara sempurna, tidak terputus di tengah – tengah ayat atau bacaan. Sehingga tidak mempengaruhi makna dari suatu ayat yang tengah dibaca. Karena tempat berhentinya tidak berkaitan dengan ayat atau makna sebelum atau sesudahnya.

2. Waqaf Kaaf (وَقَفْ ﻛﺎﻒ). Waqaf yang wajar alias pas. Disebut demikian karena memberhentikan suatu bacaan dengan sempurna. Tidak terputus di tengah-tengah ayat atau bacaan. Tetapi sebenarnya ayat tersebut masih mempunyai kaitan dengan arti dan ayat sesudahnya .

3. Waqaf Hasan (وَقَفْ ﺣﺴﻦ). Waqaf yang baik. Disebut demikian karena memberhentikan bacaan tanpa mempengaruhi dari arti dan ayat sesudahnya. Namun, secara bacaan ayat tersebut masih berkaitan dengan ayat sesudahnya.

4. Waqaf Qabiih (وَقَفْ ﻗَﺒﻴْﺢ). Waqaf yang buruk. Memberhentikan bacaan secara tidak sempurna. Atau berhenti di tengah-tengah ayat. Usahakan untuk menghindari waqaf ini, karena ketika berhenti di sini, lafadz dan arti yang kita jadikan waqaf tersebut masih berkaitan dengan lafadz dan arti sesudahnya. Sehingga bisa membuat arti yang berbeda pula pada suatu bacaan.

Hukum Bacaan Waqaf dalam Kitab Suci al-Qur’an

Hukum bacaan waqaf dalam al-Qur’an ini ada dari enam macam:

1. Ketika berhenti di akhir kalimat yang berharakat sukun (mati), maka ketika berhenti atau waqaf, dalam membacanya tida ada perubahan sama sekali. Contohnya:

فَارْغَبْ  —   فَحَدِّ ثْ  —  اَعْمَالَهُمْ  (tetap dibaca amaalahum, fahaddits – dan farghab )

2. Ketika kita berhenti atau waqaf pada suatu kalimat, yang akhir kalimat tersebut tidak berharakat sukun (mati) alias hidup. Baik berharakat fathah (َ ), kasrah (ِ), dan dhammah (ُ ). Maka huruf terakhir yang ada pada kalimat tersebut dibaca sukun (mati). Contohnya:

Lafadz  اْلبَلَدِ (al-baladi) dibaca menjadi الْبَلَدْ (al-balad),  lafadz  خَلَقَ (Khalaqa) dibaca menjadi خَلَقْ  (khalaq).

3. Ketika berhenti atau waqaf yang kalimatnya punya akhiran ta’ marbuthah (ة  ), baik letaknya di tengah ataupun di akhir kalimat. Maka, membacanya adalah dengan mengganti huruf ta’ marbuthah (ة ) tersebut dengan huruf ha’ (هْ) yang dibaca sukun (mati). Contohnya:

Kata أخِرَةٌ –  القَارِعَةُ  — جنّةٌ  dibaca menjadi  أخِرَهْ  — القَارِعَه  — جَنَّهْ

4. Ketika berhenti atau waqaf pada akhir kalimat, tetapi huruf sebelum waqaf tersebut berharakat (hidup), baik fathah, kasrah maupun dhammah. Untuk membacanya, maka dua huruf yang terletak pada akhir kalimat tersebut dibaca sukun semuanya.

Atau dengan membunyikan semua huruf tersebut, tapi huruf yang terakhir dibaca suara yang pelan. Contohnya:

Lafadz  بِالْهَزْلِ  dibaca menjadi  باِلْهَزْلْ atau  بِالْهَزْلِ  (tapi harakat huruf lam dibaca pelan),  Lafadz اَلصَّدْعِ dibaca menjadi اَلصَّدْعْ atau  اَلصَّدْعِ (tapi harakat huruf ‘ain dibaca pelan)

5. Ketika berhenti pada akhir kalimat, tapi sebelumnya ada bacaan mad ashli atau mad layyin (bacaan mad yang huruf sebelumnya berharakat fathah) . Maka cara membaca kalimat tersebut adalah dengan mematikan huruf yang terletak di akhir kalimat tersebut, dengan dipanjangkan sedikit antara dua sampai empat harakat.

Contohnya: مِنْ خَوْفٍ —  وَٱلصَّيۡفِ —  الحَكِيْمُ —  يَشْعُرُوْنَ

6. Ketika berhenti di akhir kalimat, tetapi huruf akhirnya berharakat fathah tanwin ( ً  ), maka cara memberhentikan bacaan tersebut adalah membaca harakat fathahnya saja sebanyak dua harakat. Sehingga ketika berhenti bacaannya menjadi bacaan mad ‘iwadh.

Contohnya:  Lafadz   اَفْوَاجًا  dibaca menjadi  افْوَاجَا   , kemudian lafadz  سَلاَ مًا   dibaca menjadi  سَلَا مَا

Tanda -Tanda Waqaf dalam Kitab Suci al-Qur’an

Jika kita lihat lebih detail tentu tanda-tanda waqaf yang ada dalam kitab suci al-Qur’an sangatlah beragam. Berikut tanda-tanda waqaf yang ada dalam kitab suci al-Qur’an serta penjelasannya.

No.

Tanda Waqaf

Nama Waqaf

Keterangan Singkat

1

م

وقْف لازِم (waqaf laazim)

Sangat diutamakan untuk berhenti

2

ج

وقف جائز (waqaf jaaiz)

Dibolehkan untuk berhenti, juga  dibolehkan untuk terus melanjutkan bacaan

3

قف

وقف مستحبّ  (waqaf mustahabb)

Di sini boleh berhenti

4

لا

عدم الوقف ( ‘adamul waqfi)

Tidak dibolehkan untuk berhenti

5

ط

وقف مطلق  (waqaf muthlaq)

Diharuskan  berhenti

6

س

سكتة ( saktah)

Berhenti sebentar tanpa  mengambil nafas dan melanjutkan bacaan

7

.’.   .….    .’.

وقف معانقة ( waqaf mu’aanaqah)

Berhentilah pada salah satu tanda waqaf ini, jangan pada kedua-duanya

8

ق

قيل عليه الوقف  (qiila ‘alaihil waqfu)

Boleh berhenti, tetapi lebih baik meneruskan bacaan (washal), karena telah berhenti pada waqaf sebelumnya

9

ز

وقف مجوّز ( waqaf mujawwaz)

Boleh untuk berhenti, tapi lebih baik untuk diteruskan (washal)

10

صلى

وصل الاولى ( washal aulaa)

Lebih baik untuk meneruskan bacaan (washal), daripada berhenti

11

قلى

وقف الاولى ( waqaf aulaa)

Lebih baik untuk berhenti, daripada diteruskan

12

ع / ء

وقف اخير سورة (waqaf akhir surah)

Tanda berhenti yang terletak pada  akhir ayat (satu ruku’) atau akhir surat

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian waqaf juga tanda-tanda waqaf yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an beserta penjelasan tentang hukum-hukumnya, plus jenis-jenis, dan macam-macamnya.

Jika ada yang ingin mengetahui lebih detail serta ingin mempraktikannya. Coba dibuka saja al-Qur’an masing-masing, dan buka surat al-Bayyinah dan surat al-Ghasyiyah, atau buka bagian depan al-Qur’an yaitu surat al-Baqarah ayat satu sampai lima.

Minimal kita sudah bisa tahu dan mencoba untuk mempraktekkan tentang beberapa  tanda waqaf yang telah disebutkan di atas tadi.

Sumber :

  1. Software al-Qur’an in Word v.2.2
  2. Software al-Maktabah al-Syamilah v. 34
  3. Software Kamus Besar Bahasa Indonesia v. 1.1
  4. Tim Agama Islam, Pendidikan Agama Islam penyejuk Qalbu SMP Kelas VIII, (Jakarta: Yudhistira, 2008)
  5. Robingan, Munawar Khalil, Teladan Utama Pendidikan Agama Islam 2: Untuk Sekolah Menengah
  6. Pertama Kelas VIII, (Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2010)
  7. Muhammaad Rohmadi, Pendidikan Agama Islam Untuk SMP Kelas VIII, (ttp: Grahadi, 2007)
    id.wikipedia.org

 

Hukum Tafkhim dan Tarqiq

 Bab Hukum Bacaan Tafkhim dan Tarqiq Beserta contoh-contohnya.

A. Pengertian Tafkhim dan Tarqiq
Tafkhim
تَفْخِيْمُ ) merupakan masdar dari Fakhama ( فَخَّمَ)yang berarti menebalkan. Sedang yang disebut dengan bacaan Tafkhim adalah menyembunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tebal.
Pada pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa bacaan tafkhim itu menebalkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf di bibir (mulut) dengan menjorokkan ke depan (bahasa jawa: Mecucu), bacaan tafkhim kadang-kadang disebut isim Maful Mufakhamah ( 
مُفَخَّمَةٌ )

Tarqiqتَرْقِيْقٌ )merupakan bentuk masdar dari raqqaqa ( رَقَّقَ ) yang berarti Menipiskan. Sedang yang dimaksud bacaan Tarqiq adalah menyembunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tipis.
Pada pengertian itu tampak, bahwa tarqiq menghendaki adanya bacaan yang tipis,dengan cara mengucapkan huruf dibibir (mulut) agar mundur sedikit dan tampak agak meringis. Bacaan Tarqiq kadang-kadang disebut sebagai isim mafulnya yakni muraqqaqah ( 
مُرَقَّقَةٌ)

B. Bacaan Tafkhim
Huruf hijaiyah yang wajib dibaca tafkhim terdapat 7 huruf yaitu huruf istila’ yang berkumpul pada kalimat
خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ kesemuanya harus dibaca tebal.

Contoh:
اُدْخُلُوْهَا , وَالصَّافَّاتِ , فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ , وَالَّطيِّبُوْنَ , فَالحَقُّ اَقُوْلُ , اِنَّامُنْتَظِرُوْنَ

Selain ke tujuh huruf tersebut, harus dibaca tarqiq kecuali huruf lam dan ra yang mempunyai ketentuan sendiri.

Pertama, huruf lam tetap dibaca tafkhim jika berada pada lafad jalalah (لَفْظُ اْلجَلَالَة) , yakni lam yang terdapat pada lafad الله dengan syarat lam tersebut didahului tanda baca fathah atau dhammah.

Contoh:
صَلَاةُ اللهِ  Dibaca Shalatullah
سَلَامُ اللهِ  Dibaca Salamullah
سُبْحَانَ اللهِ  Dibaca Subhanallah
شَهِدَاللهِ     Dibaca Syahidallah

Kedua, ra’ wajib dibaca tafkhim (tebal) apabila:
1. Ra’ bertanda baca fathah. Contoh :
رَحْمَةَ اللهِ , حَشَرَةٌ , الرَّحْمنِ الَّرحِيْمِ , الفُقَرَآءَ

2. Ra’ bertanda baca dhammah. Contoh :
الأَخْيَارُ , كَفَرُوْا , أُذْكُرُوااللهَ , رُفِعَتْ

3. Ra’ bertanda sukun (mati), sedangkan huruf dibelakangnya berupa huruf yang fathah. Contoh:
مَرْحَبًا , تَرْزُقُكُمْ , مَرْيَمُ , قَرْيَةٍ

4. Ra’ bertanda sukun, sedangkan huruf dibelakangnya berupa huruf yang didhammah. Contoh :
ذُرِّيَّةً , قُرْبَةً , عُرْيَانًا , حُرْمَةً

5. Ra’ yang bertanda baca sukun, sedangkan huruf dibelakangnya berupa huruf yang dikasrah, namun kasrah ini bukan asli namun yang baru datang. Contoh:
إِرْجِعِى , إِرْحَمْ , إِرْجِعُوْا ,اَمِ ارْتَابُوْا

6. Ra’ bertanda baca sukun, sedangkan huruf yang dibelakangnya berupa huruf berharakat kasrah asli dan sesudah ra’ bertemu huruf istila’ (حرف استلاء) yang terdapat tujuh huruf yang terkumpul dalam kalimat خُصَّ ضَغْطٍ قِظْ contoh :
يَرْضَاهُ , فُرْقَةٌ , لَبِالْمِرْصَادِ , قِرْطَاسٌ

C. Bacaan Tarqiq
Pertama, huruf lam dibaca tarqiq (tipis), jika huruf lam itu berada dalam lam jalalah yang didahului huruf yang bertanda baca kasrah.

Contoh:
الحَمْدُلِلّٰهِ , بِاللهِ , مِنْ عِنْدِ اللهِ , بِسْمِ اللهِ

Semua lam yang tidak berada lafad jalalah sebagaimana diatas maka harus dibaca tarqiq (tipis) contoh:
لَيَعْلَمُوْنَ , اِلَى اْلِابِل , مِنَ اْلعِلْمِ , كَلَّا لَوْتَعْلَمُوْنَ عِلْمَ اْليَقِيْنِ , بِكُلِّ اٰيَةٍ

Kedua, ra’ wajib dibaca tarqiq (tipis) jika :
1. Huruf ra’ bertanda baca kasrah, contoh :
رِضْوَانٌ , مَعْرِفَةٌ , رِجْسٌ , سَنُقْرِئُكَ

2. Huruf ra’ bertanda baca hidup yang jatuh setelah ya’ mati atau huruf lien, contoh :
الكَبِيْرُ , البَصِيْرُ , مِنْ خَيْرٍ , لَخَبِيْرٌ

3. Huruf ra’ mati dan sebelumnya ada huruf yang berharokat kasrah asli, sedangkan sesudah ra’ bukan huruf istila’. Contoh :
شِرْكٌ , اَاَنْذَرْهُمْ , فِرْعَوْنُ , لَشِرْذِمَةٌ

Cukup sampai disini pembahasan tentang Hukum Bacaan Tafkhim Dan Tarqiq. Semoga mudah dipahami dan menambah ilmu tajwid kita guna membaca Al Qur’an dengan benar sesuai standar.

Untuk bahan latihan, mari perhatikan kalimat berikut ini dan bedakan bacaannya Tafkhim dan Tarqiq:

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, إِذَاجَاءَ نَصْرُاللهِ وَاْلفَتْحُ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُوْنَ فِى دِيْنِ اللهِ اَفْوَاجًا. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ اِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا (الفتح)

Boku No Hero Academia Season IV Episode 07 Subtitle Indonesia


 

Boku No Hero Academia Season IV Episode 06 Subtitle Indonesia


 

Pidato Peran Generasi Muda

 

Assalamuallaikum Wr. Wb.

Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua. Pertama-tama marilah kita ucapkan syukur atas kesempatan berkumpul di hari yang cerah ini.

Yang terhormat Bapak dan Ibu guru

Dan tidak lupa teman-temanku yang saya cintai dan saya banggakan.

Pada kesempatan kali ini, saya akan berpidato tentang peran generasi muda. Kita adalah generasi muda penerus bangsa. Kita menjadi harapan masa depan dari langkah negeri ini. Sebagai harapan bangsa seharusnya kita memberikan prestasi sebagai bukti bahwa kita mampu meneruskan estafet kepemimpinan negeri ini.

Selain itu pemuda juga merupakan ujung tombak bagi masa depan bangsa untuk menjawab tantangan ke depan yang lebih baik. Agar negeri ini semakin maju, sangat dibutuhkan generasi muda yang perkepribadian luhur, berbudipekerti dan mampu mengamalkan ilmu yang dimiliki. Pengamalan ilmu dengan baik dan kreatif akan membuat daya saing bangsa di masa depan menjadi lebih baik.

Para hadirin yang saya hormati,

Indonesia adalah negara yang memiliki kompleksitas dan keragaman yang unik. Tersusun dari bebagai suku dan budaya, berbagai bahasa dan adat istiadat, serta memiliki beribu pulau yang saling terpisahkan oleh lautan. Indonesia mendapat julukan negeri agraria sekaligus negeri maritim.

Berbagai perbedaan itu bisa membuat perpecahan dalam suatu bangsa, atau justru bisa membuat bangsa ini lebih bersatu. Di sinilah posisi pemuda sangat diandalkan, generasi muda menjadi tumpuan negeri ini agar terus bersatu dan mencapai visi misi bersama.

Namun sayangnya generasi muda Indonesia saat ini banyak yang terperosok dalam arus globalisasi yang memberikan dampak negatif. Arus globlalisasi yang terlalu cepat memang memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya banyak teknologi yang berkembang sehingga mempermudah aktifitas manusia. Namun dapat berdampak negatif ketika mentalitas pemuda dan generasi penerus bangsa ini semakin buruk .

Rusaknya generasi muda bisa terjadi dengan adanya kriminalitas, mabuk-mabukan, seks bebas, premanisme dan lain sebagainya.

Sementara Indonesia terus membutuhkan pemimpin-pemimpin muda yang berjiwa tangguh, adil, bijaksana dan mampu bertahan dari kuatnya arus negatif globalisasi. Kita sebagai pemuda harus bisa menunjukkan kedewasaan dan kematangan pikiran agar mampu mengelola negeri ini dengan lebih baik. Kita juga harus memiliki karakter kepemimpinan yang adil dan bijaksana. Tidak hanya mementingkan urusan pribadi dan golongan.

Setidaknya kita terus belajar dan mencoba menjadi lebih baik dengan belajar lebih giat, aktif di kegiatan sosial dan berperan aktif dalam memberikan pendapat terhadap permasalahan di sekitar kita.

Semoga kita bisa menjadi pemuda yang dibutuhkan negeri ini.

Demikian pidato dari saya, semoga bisa memberikan inspirasi. Jika ada salah-salah kata saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wassalamualaikum wr.wb.

Boku No Hero Academia Season IV Episode 05 Subtitle Indonesia


 

Boku No Hero Academia Season IV Episode 04 Subtitle Indonesia