LEGENDA
GUNUNG PINANG
Semilir angin senja pantai teluk banten
mempermainkan rambut dampu awang yang tengah bersender di bawah pohon nyuiur.
Pikirannya terbang jauh, jauh sekali.
Dampu Awang teringat kata-kata ibunya tadi
pagi. “Ibu tidak ijinkan kamu pergi, Dampu!”. “Tapi Bu…”. Sergas Dampu Awang.
“Tidak, sekali tidak tetap tidak!”. “Ibu tahu, Dampu, kamu pergi supaya kita
tidak sengsara terus. Tapi, ibu sudah cukup dengan keadaa kita seperti ini.”.
“kamu tahu Wang, Ibu masih kuat sampai sekarang itu karena kamu, karena masih
ada kamu, Dampu, nanti kalau kamu pergi, siapa yang menemani Ibu? Sudahlah
Dampu….. Ibu sudah lelah.”
Selepas salat maghrib Dampu Awang
kembali menemani laut di beranda rumah. Batinnya terus-menerus bergejolak. Ia
masih kesal dengan ibunya.
Kesempatan yang telah dinantikan pun
datang. Seorang saudagar asal Samudra Pasai datang berdagang ke Banten. Sudah
sebulan ia ada di Banten tinggal satu minggu lagi kapal itu akan berlabuh.
Namun ibu belum juga memberikan ijin.
Dampu….. ucap Ibunya lembut, Dampu
melihat ibunya tersenyum. Di matanya ada kehangatan cinta yang mendalam. Betapa
bahagia hati Dampu Awang mendengar ibunya memberi ijin. “Dampu, Ibu ijinkan
kamu pergi, Nak! “Terimakasih Ibu”, ucap Dampu Awang.
Deburan ombak, semilir angina laut, bau
asin pantai, kepak sayap burung camar, lambaian orang-orang kampong, mengiringi
kepergian rombongan saudagar dari pelabuhan. Masih terngiang di telinganya
petuah-petuah yang diberikan ibunya. “Dampu, Ibu titip Si Ketut, rawat
baik-baik ya Nong.” Bapakmu dulu sangat menyayangi si Ketut. Ia sangat mahir
sebagai burung pengirim pesan. Kamu harus rutin mengirimi ibu kabar”.
“Enggeh Bu”. Dan ia berjanji akan
mengirimi surat untuk ibunya setiap awal purnama.
Hari berganti hari, bulan bergulir,
tahun bertambah. Dampu Awang kini terkenal sebagai pekerja yang rajin. Tak
aneh, jika Teuku Abu Matsyah begitu perhatian padanya. Bahkan Siti Nurhasanah,
putrinya, diam-diam menaruh hati pada Dampu Awang. Hingga kemudian Dampu Awang
menikah dengan Siti Nurhasanah.
Sudah satu dasawarsa Dampu Awang
meninggalkan ibunya. Ia hanya mengirimkan empat kali surat kepada ibunya di
Banten. Hingga suatu hari, tersiarlah kabar akan ada saudagar besar dari
Malaka.
“Jangan-jangan Dampu Awang pulang, Dampu
Awang putraku, akhirnya pulang.“ Ujar ibunya sumringah.
“Alhamdulillah, hatur nuhun Gusti Allah.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.” Berkali-kali wanita itu berucap
syukur.
“Wooooooyyyyy! Kapalnya sudah datang!”
“Heeeeyyy lihat! Kapalnya besar sekali!”
Teriak orang-orang di pantai.
Kapalnya luar biasa besar dan megah.
Para awak kapal yang gagah tengah sibuk menurunkan barang bawaannya. Penduduk
Banten semakin lama semakin banyak yang berkerumun di pantai. Ibu Dampu Awang
ada di sana. Tampang Ibu Dampu Awang lusuh bukan main, bajunya compang-camping.
Sementara itu, di dalam kapal Dampu
Awang gelisah. Ia sekarang sudah menjadi pewaris kekayaan tunggal dari Teuku
Abu Matsyah. Sengaja ia singgah di kampung halamannya, ingin melihat apakah
ibunya masih hidup. Ratusan pasang tatap mata mengiringi seorang lelaki tampan
dan gagah di sampingnya seorang perempuan cantik yang digapitnya mesra turun
dari kapal. Di pundaknya bertengger seekor perkutut yang terlihat sangat sehat.
“Dampuuuu….!” “Dampu Awaaaaang…..! Ini ibu.
Di sini di sebelah sini!” Teriak Ibu Dampu Awang sambil melambaikan tangan.
Mendadak wanita tua itu mendapatkan
tanaganya kembali.
Semua perhatian terpusat pada Ibu Dampu
Awang. Semua heran, apa betul wanita tua dekil ini adalah ibu dari saudagar
yang kaya raya.
“Kang Mas, apa betul dia ibumu? Mengapa
Kang Mas tidak pernah bercerita, kalo orang tua Kang Mas masih hidup?” Tanya
Istrinya.
“Tidaaak! Wanita tua itu buka ibuku! Dia
hanya seorang wanita gila yang sedang meracau!” tampik Dampu Awang dengan
cepat. “Wahai penduduk Banten! Tidak usah bingung, dia bukan Ibuku. Orang tuaku
sudah meninggal. Mereka adalah orang terhormat yang kaya raya. Bukan seperti
wanita tua itu miskin dan sengsara.” Akhirnya dampu awang membatalkan janji
bertemu dengan Sultan Banten.
Perkataan Dampu Awang bagai petir di
siang bolong. Perasaannya teramat sakit. Luka yang ditorehkan oleh ucapan Dampu
Awang semakin membesar. Ia bersumpah di atas kedua lutut keriputnya
“Duhai, Gusti. Hampura dosa, kalo memang
benar dia bukan anakku, biarkan ia pergi. Tapi kalau dia putraku hukumlah ia
karena telah menyakiti perasaan ibunya sendiri.” Ibu Dampu Awang husyu berdo’a.
Tiba-tiba langit gelap. Hingga sinar
matahari pun tidak mampu terlihat. Siang hari yang cerah mendadak seperti malam
yang gelap dan gulita. Petir, kilat, guntur saling sambar-menyambar, hujan pun
turun deras.
“Ada badai, cepat berlindung!” Teriak
seorang warga. Dunia serasa kiamat. Dampu Awang besarta kapalnya
terombang-ambing di lautan. Dipermainkan oleh alam. Allah telah menjawab
rintihan seorang hamba yang didolomi. Petir menyambar galangan kapal dan layar.
Tiang-tiang kapal tumbang.
Tiba-tiba keajaiban terjadi. Si Ketut
bisa bicara “Akuilah…… Akuilah…… Akuilah…… ibumu, Dampu Awang.” “Tidak…! Dia
bukan ibuku! Dia bukan ibuku. Ibuku telah mati!” sergah Dampu Awang.
“Ya Allah, berilah pelajaran yang
setimpal sebagaimana yang ia lakukan padaku.” Ibu Dampu Awang kembali berdo’a.
Angin puyuh besarpun datang meliuk-liuk
ganas di atas laut. Kapal Dampu Awang ikut tersedot. Kapal Dampu Awang terbang masuk
ke dalam pusaran angin puyuh. Terus berputar dalam pusaran angin puyuh.
“Ibuuuuuuu……, tolong aku! Ini anakmu
Dampu Awang!” Dampu Awang berteriak ketakutan.
Sang ibu tetap tidak bergeming.
Kapal yang berisi segala macam harta
kekayaan itu dipermainkan oleh angin. Berputar-putar dan akhirnya terlempar
jauh ke selatan. Jatuh terbalik.
Menurut penuturan masyarakat, kapal
Dampu Awang yang karam berubah menjadi Gunung Pinang. Gunung itu terletak tepat
di samping jalur lalu lintas Serang-Cilegon. Hingga kini setiap orang dengan
mudah dapat menyaksikan simbol kedurhakaan anak pada ibunya itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar