DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Rabu, 27 Januari 2016

Gunung Pinang Serang Banten


LEGENDA GUNUNG PINANG
Semilir angin senja pantai teluk banten mempermainkan rambut dampu awang yang tengah bersender di bawah pohon nyuiur. Pikirannya terbang jauh, jauh sekali.
Dampu Awang teringat kata-kata ibunya tadi pagi. “Ibu tidak ijinkan kamu pergi, Dampu!”. “Tapi Bu…”. Sergas Dampu Awang. “Tidak, sekali tidak tetap tidak!”. “Ibu tahu, Dampu, kamu pergi supaya kita tidak sengsara terus. Tapi, ibu sudah cukup dengan keadaa kita seperti ini.”. “kamu tahu Wang, Ibu masih kuat sampai sekarang itu karena kamu, karena masih ada kamu, Dampu, nanti kalau kamu pergi, siapa yang menemani Ibu? Sudahlah Dampu….. Ibu sudah lelah.”
Selepas salat maghrib Dampu Awang kembali menemani laut di beranda rumah. Batinnya terus-menerus bergejolak. Ia masih kesal dengan ibunya.
Kesempatan yang telah dinantikan pun datang. Seorang saudagar asal Samudra Pasai datang berdagang ke Banten. Sudah sebulan ia ada di Banten tinggal satu minggu lagi kapal itu akan berlabuh. Namun ibu belum juga memberikan ijin.
Dampu….. ucap Ibunya lembut, Dampu melihat ibunya tersenyum. Di matanya ada kehangatan cinta yang mendalam. Betapa bahagia hati Dampu Awang mendengar ibunya memberi ijin. “Dampu, Ibu ijinkan kamu pergi, Nak! “Terimakasih Ibu”, ucap Dampu Awang.
Deburan ombak, semilir angina laut, bau asin pantai, kepak sayap burung camar, lambaian orang-orang kampong, mengiringi kepergian rombongan saudagar dari pelabuhan. Masih terngiang di telinganya petuah-petuah yang diberikan ibunya. “Dampu, Ibu titip Si Ketut, rawat baik-baik ya Nong.” Bapakmu dulu sangat menyayangi si Ketut. Ia sangat mahir sebagai burung pengirim pesan. Kamu harus rutin mengirimi ibu kabar”.
“Enggeh Bu”. Dan ia berjanji akan mengirimi surat untuk ibunya setiap awal purnama.
Hari berganti hari, bulan bergulir, tahun bertambah. Dampu Awang kini terkenal sebagai pekerja yang rajin. Tak aneh, jika Teuku Abu Matsyah begitu perhatian padanya. Bahkan Siti Nurhasanah, putrinya, diam-diam menaruh hati pada Dampu Awang. Hingga kemudian Dampu Awang menikah dengan Siti Nurhasanah.
Sudah satu dasawarsa Dampu Awang meninggalkan ibunya. Ia hanya mengirimkan empat kali surat kepada ibunya di Banten. Hingga suatu hari, tersiarlah kabar akan ada saudagar besar dari Malaka.
“Jangan-jangan Dampu Awang pulang, Dampu Awang putraku, akhirnya pulang.“ Ujar ibunya sumringah.
“Alhamdulillah, hatur nuhun Gusti Allah. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.” Berkali-kali wanita itu berucap syukur.
“Wooooooyyyyy! Kapalnya sudah datang!”
“Heeeeyyy lihat! Kapalnya besar sekali!” Teriak orang-orang di pantai.
Kapalnya luar biasa besar dan megah. Para awak kapal yang gagah tengah sibuk menurunkan barang bawaannya. Penduduk Banten semakin lama semakin banyak yang berkerumun di pantai. Ibu Dampu Awang ada di sana. Tampang Ibu Dampu Awang lusuh bukan main, bajunya compang-camping.
Sementara itu, di dalam kapal Dampu Awang gelisah. Ia sekarang sudah menjadi pewaris kekayaan tunggal dari Teuku Abu Matsyah. Sengaja ia singgah di kampung halamannya, ingin melihat apakah ibunya masih hidup. Ratusan pasang tatap mata mengiringi seorang lelaki tampan dan gagah di sampingnya seorang perempuan cantik yang digapitnya mesra turun dari kapal. Di pundaknya bertengger seekor perkutut yang terlihat sangat sehat.
“Dampuuuu….!” “Dampu Awaaaaang…..! Ini ibu. Di sini di sebelah sini!” Teriak Ibu Dampu Awang sambil melambaikan tangan.
Mendadak wanita tua itu mendapatkan tanaganya kembali.
Semua perhatian terpusat pada Ibu Dampu Awang. Semua heran, apa betul wanita tua dekil ini adalah ibu dari saudagar yang kaya raya.
“Kang Mas, apa betul dia ibumu? Mengapa Kang Mas tidak pernah bercerita, kalo orang tua Kang Mas masih hidup?” Tanya Istrinya.
“Tidaaak! Wanita tua itu buka ibuku! Dia hanya seorang wanita gila yang sedang meracau!” tampik Dampu Awang dengan cepat. “Wahai penduduk Banten! Tidak usah bingung, dia bukan Ibuku. Orang tuaku sudah meninggal. Mereka adalah orang terhormat yang kaya raya. Bukan seperti wanita tua itu miskin dan sengsara.” Akhirnya dampu awang membatalkan janji bertemu dengan Sultan Banten.
Perkataan Dampu Awang bagai petir di siang bolong. Perasaannya teramat sakit. Luka yang ditorehkan oleh ucapan Dampu Awang semakin membesar. Ia bersumpah di atas kedua lutut keriputnya
“Duhai, Gusti. Hampura dosa, kalo memang benar dia bukan anakku, biarkan ia pergi. Tapi kalau dia putraku hukumlah ia karena telah menyakiti perasaan ibunya sendiri.” Ibu Dampu Awang husyu berdo’a.
Tiba-tiba langit gelap. Hingga sinar matahari pun tidak mampu terlihat. Siang hari yang cerah mendadak seperti malam yang gelap dan gulita. Petir, kilat, guntur saling sambar-menyambar, hujan pun turun deras.
“Ada badai, cepat berlindung!” Teriak seorang warga. Dunia serasa kiamat. Dampu Awang besarta kapalnya terombang-ambing di lautan. Dipermainkan oleh alam. Allah telah menjawab rintihan seorang hamba yang didolomi. Petir menyambar galangan kapal dan layar. Tiang-tiang kapal tumbang.
Tiba-tiba keajaiban terjadi. Si Ketut bisa bicara “Akuilah…… Akuilah…… Akuilah…… ibumu, Dampu Awang.” “Tidak…! Dia bukan ibuku! Dia bukan ibuku. Ibuku telah mati!” sergah Dampu Awang.
“Ya Allah, berilah pelajaran yang setimpal sebagaimana yang ia lakukan padaku.” Ibu Dampu Awang kembali berdo’a.
Angin puyuh besarpun datang meliuk-liuk ganas di atas laut. Kapal Dampu Awang ikut tersedot. Kapal Dampu Awang terbang masuk ke dalam pusaran angin puyuh. Terus berputar dalam pusaran angin puyuh.
“Ibuuuuuuu……, tolong aku! Ini anakmu Dampu Awang!” Dampu Awang berteriak ketakutan.
Sang ibu tetap tidak bergeming.
Kapal yang berisi segala macam harta kekayaan itu dipermainkan oleh angin. Berputar-putar dan akhirnya terlempar jauh ke selatan. Jatuh terbalik.

Menurut penuturan masyarakat, kapal Dampu Awang yang karam berubah menjadi Gunung Pinang. Gunung itu terletak tepat di samping jalur lalu lintas Serang-Cilegon. Hingga kini setiap orang dengan mudah dapat menyaksikan simbol kedurhakaan anak pada ibunya itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar