DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"

DUITKU "Solusi Transaksi Online Anda"
Aplikasi PPOB Melayani Pembelian Pulsa, Paket Internet, Token Listrik, Voucher Game, Pembayaran Listrik, E-Money, E-Wallet, dan lain-lain

Rabu, 27 Januari 2016

Buyut Ja'far Bin KH. M. Nuh Sumur Gunung Bojonegara Serang Banten

KISAH BUYUT SUMUR GUNUNG BOJONEGARA

Beliau bernama Ja’far, terlahir biasa-biasa saja, tidak ada tanda-tanda istimewa pada diri Beliau saat itu. Beliau lahir pada tahun 1845. Ayahhandanya bernama Muh. Nuh, sedangkan ibundanya bernama Siti Hajar. Ayahandanya dipercaya sebagai seorang ustad dan seorang naib.
Pada usia 8 (delapan) tahun beliau disantrikan oleh Ayahandanya di pondok pesantren yang dibimbing oleh Tubagus Muhhammad Arif atau yang lebih dikenal dengan Ki Madarip.

Ketika beliau berusia 10 tahun, ibunya meninggal dunia, selang tiga tahun kemudian ayahnya yang meninggal dunia, jadi beliau sudah yatim piatu sejak kecil.

Beliau nyantri kurang lebih 18 tahun disatu guru, selesai nyantri pada Ki. Madarip, Buyut Ja’far Sumur Gunung mengajar ngaji atau mengabdi dikampungnya sendiri dan mempunyai tiga orang istri. Istri yang pertama bernama Hj. Wasiah (Nyamuk) yang kedua Hj. Jar (Juhaeriyah (Solor), dan yang ketiga Hj. Sami (Pulo Panjang). Kitab yang biasa diajarkan beliau antara lain kitab tauhid, fikih, dan tasawuf.

Ketika beliau pergi ke Pulau Tunda untuk mengambil balok guna keperluan membangun masjid, waktu itu masjid yang dibangun adalah masjid Kampung Nyamuk. Dalam perjalanan pulang setelah balok-balok tersebut dimuat ke dalam kapal, tiba-tiba datanglah badai dan angin kencang, sehingga kapalnya terdampar di pantai.

“Abah, keprepun niki?” kata salah satu santrinya khawatir dengan angin dan badai yang datang tiba-tiba. “Wes meketen saos nong, kayune dibuang saos krehen neng laut, embokan kapale kelem” kata beliau. Kemudian balok-balok tersebut dilemparkan ke laut. “Seniki kule sedanten balek kerehen geh” ujar beliau kembali.  “Enggeh Abah”, kata para awak kapal tersebut. Dan awak kapalpun pulang. Di sepanjang jalan beliau terus-menerus berdo’a kepada Allah SWT. “Ya Allah mugi kule sedanten diisungi keselametan Ya Allah…..!”. Akhirnya atas pertolongan Allah perahu tersebut selamat sampai tujuan.

Anehnya keesokan harinya kayu balok yang dilemparkan ke laut tersebut berada di pinggir pantai dekat lokasi bangunan masjid yang akan didirikan, sedangkan jarak dari pinggir pantai ke kampung kurang lebih satu kilo meter. “Abah, baloke niku sampun wenten neng pengger laut, kprepun” kata salah satu santri beliau. “Oh… enggeh tah” kata beliau. “Mun koten, sampun nggeh diangkuti saos meriki.” kata beliau seraya berkata “Alhamdulilahirobbil ‘alamiin, puji syukur mareng tuan. Ya Allah”. Maka pembangunan masjidpun berjalan dengan lancar dan tanpa kendala apapun.

Suatu hari, ketika beliau hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat, Beliau melewati gang kecil, dan beliau melihat beberapa pemuda yang sedang berkumpul melingkar, ternyata mereka sedang berjudi. Beberapa pemuda terkejut saat melihat sesosok tubuh yang tidak asing baginya tiba-tiba berada di depan mereka, dan ternyata beliau adalah KH. Ja’far, tokoh alim ulama yang sangat dihormati dan disegani saat itu. Salah satu pemuda yang melihat keberadaan beliau secara tiba-tiba tersebut berbisik kepada teman-temannya yang lain. Penjudi lain yang tidak tahu akan kedatangan beliau kemudian diberi tahu, tapi pemuda yang diberitahu tersebut ngeyel dan tidak percaya akan kedatangannya yang tiba-tiba.

“Hee, ane Pak Kiyai!” kata salah satu penjudi. “Ah…!!! Ga mungkin, beliau kan ga pernah lewat sini, mana…?” kata penjudi lainnya. “Tuh…! Di belakang kamu.” Seraya sedikit mendongakkan kepalanya sebagai isyarat menunjukkan kepada temannya. Setelah pemuda yang dikasih tahu tersebut menengok ke belakang, wajahnya memerah dan ia merasa malu ketika benar dengan apa yang dikatakan temannya tersebut.

“Lagi nape nikine, kumpul-kumpul niki?” Tanya Beliau. “Boten Bah, niki biase lagi kumpul-kumpul!” salah satu pemuda yang tahu kedatangan beliau menjawab dengan rasa ragu yang terpancar di wajahnya. “Kumpul-kumpul nape nikine…? Lagi maen nggeh?” Tutur Beliau seraya menegaskan pertanyaan. “Engge Bah, he… he… he...!” mereka menjawab secara serentak sambil tertawa kecil untuk menutupi rasa malu dan takut. “Oh…!!! Lah sampun gah reren, boten usah dilajokaken!” pinta Beliau dengan nada yang lembut. “Enggeh Bah.” jawab mereka.

“Mendingan duite kangge jajan seng bener, daripade kangge judi mah. Diisungaken neng Emake tah, kangge tumbas beras, daripada kangge judi. Judi niku haram, hasil menang judine gah haram, diblanjakakene haram lan panganane gah didahare haram, enggeh boten?” tutur beliau. “Enggeh Bah!” jawab mereka serempak. Akhirnya beliau memberikan beberapa nasehatnya yang berkaitan tentang kerugian akibat berjudi dan mereka tertunduk malu sambil mendengarkan nasihat-nasihat Beliau. “Sampun, seniki bubar lan mantuk sedanten neng geriye masing-masing, duite disimpen seng bener, atanapi diisungaken neng emake masing-masing, dipune ditumbasaken dedaharan.” Perintah Beliau. “Enggeh Bah.” Jawab mereka kompak. Mereka pun membubarkan diri secara teratur dan kembali kerumah masing-masing.

Demikian beberapa kisah berhikmah saat Beliau masih hidup yang dapat diuraikan. Masih banyak kisah berhikmah yang dialami Beliau yang tidak dapat diuraikan satu persatu. Banyak kisah berhikmah Beliau yang dapat diambil sebagai tauladan untuk kita.

Pada usia 82 (delapan puluh dua) tahun, beliau wafat di Bojonegara, tepatnya pada tahun 1927. Lalu dimakamkan di suatu tempat yang bernama Sumur Gunung. Sumur Gunung terletak di sebelah utara kampung Solor Lor Desa Margagiri Kecamatan Bojonegara berbatasan dengan Kecamatan Pulo Ampel. Sekarang menjadi tempat pemakaman umum Kampung Solor Lor dan sekitranya. Nama “Sumur Gunung” sendiri berasal dari kata “Sumur” dan “Gunung”, dimana di disi sebelah barat gunung ini terdapat sumur yang pada waktu itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar, karena sumur ini berada di gunung, maka masyarakat setempat menyebutnya dengan Sumur Gunung. Konon katanya, setelah beliau disemayamkan, di suatu petang menjelang Maghrib dari kuburan Beliau terpancarlah cahaya yang sangat terang menembus ke langit. Dari peristiwa atau ciri-ciri tersebut banyak orang yang menyimpulkan bahwa beliau termasuk alim ulama besar atau waliyullah, wallahu’alam bishoab.

Demikian cerita rakyat yang dapat saya sampaikan. Wabilahi taufik walhidayah Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Dikutip Dari Berbagai Sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar